Kisah Terindah di Dunia (22)

 Kisah Terindah di Dunia

Naviri.Org - “Selamat datang di negeriku, rakyat-rakyatku yang baru,” ucap Ibu Ratu dengan suara yang halus—suara paling halus yang pernah didengar telinga Nazar. Dan saat Nazar memberanikan diri untuk menghadap wajah ratunya, Nazar merasakan jantungnya berhenti berdetak.

Nazar menyaksikan sesosok wanita yang amat jelita—bahkan lebih cantik dan lebih jelita dari bayangannya yang paling liar sekalipun.

***

Semenjak itulah, Nazar resmi menjadi salah satu rakyat di negeri bawah air, yang dipimpin oleh Ratu Dewi Lanjar, sang penguasa laut utara. Dia mendapatkan salah satu tempat kediaman yang cukup nyaman, berbaur dengan beberapa orang lainnya yang juga menjadi rakyat di sana, dan Nazar mulai menikmati kehidupan barunya. Setiap siang ia akan berangkat bekerja bersama orang-orang yang lainnya, dan pulang kembali ke rumahnya saat gelap mulai datang.

Waktu itu, Ratu Dewi Lanjar tengah merencanakan untuk membangun sebuah jalan yang tembus ke laut selatan—untuk menghubungkannya dengan ‘saudara tuanya’, Nyi Roro Kidul. Proyek pembangunan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, tapi belum selesai sampai Nazar tiba di negeri itu, karena ini adalah proyek pembangunan raksasa. Dan Nazar pun kemudian bergabung dengan ratusan orang yang lain untuk terus membangun proyek tak kasat mata itu.

Dari situlah kemudian Nazar mulai mengenal orang-orang lainnya, dan ia pun tahu kalau kebanyakan—bahkan mungkin semua—orang yang berada di negeri itu adalah orang-orang yang memang dikirim kesana untuk menjadi ‘penukar’ kekayaan yang telah diperoleh oleh keluarga mereka yang diberikan oleh Ibu Ratu. Salah seorang dari mereka yang kemudian menjadi sahabat Nazar adalah Naufal, seorang lelaki yang sepuluh tahun lebih tua dari Nazar, yang juga sampai di negeri itu karena ‘dikirim’ oleh ayahnya yang memperoleh kekayaan dari Ibu Ratu.

Naufal telah berada di negeri itu jauh sebelum Nazar sampai di sana, dan Naufal sudah menganggap negeri bawah air sebagai dunianya. Pada mulanya ia juga mengalami keterkejutan dan ‘gegar budaya’ seperti Nazar ketika baru tiba di sana, namun sebagaimana Nazar, Naufal pun ‘ditraining’ oleh seseorang sebagaimana Nazar dibimbing oleh Laras untuk mengenal dunia barunya.

“Jadi, sudah berapa lama kau berada di sini?” tanya Nazar suatu ketika pada Naufal, saat mereka tengah beristirahat setelah bekerja setengah harian.

“Mungkin sekitar sepuluh tahun,” jawab Naufal.

“Sepuluh tahun?!” Nazar terkejut, seperti tak percaya.

“Kenapa?”

“Kau...kau tidak punya rencana untuk kabur dan meninggalkan negeri ini?”

Naufal tersenyum masam. “Kau pun akan begitu setelah berada di sini selama itu, Nazar.”

“Tidak, aku akan keluar dari sini.”

Sekali lagi Naufal tersenyum masam. “Kau tidak tahu apa yang kau inginkan itu.”

“Bicaramu seperti Laras.”

“Aku kenal siapa dia. Perempuan itu salah satu kepercayaan Ibu Ratu—abdi dalem istana.”

“Aku sudah menduganya.” Nazar mengangguk. “Nah, kau sungguh-sungguh tak punya keinginan untuk kabur dari tempat ini, Naufal? Kau akan menghabiskan hidupmu di sini?”

“Seperti yang kukatakan tadi, kau tidak tahu apa yang kau inginkan itu.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, kalau kau tahu apa yang kau inginkan itu, kau tidak akan pernah meninggalkan negeri ini.”

“Aku...aku tidak paham.”

Bersambung ke: Kisah Terindah di Dunia (23)

Related

Romance 4736018426579548036
item