The Power of Love (1)

 The Power of Love

Naviri.Org - Ini adalah kisah ala Romeo & Juliet versi kota saya. Kisah cinta nyata yang amat menggetarkan ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun setiap kali saya mengingatnya, setiap kali pula saya seolah disadarkan pada apa yang disebut sebagai the power of love, kekuatan cinta. Saya juga merasa memiliki ikatan emosional dengan kisah cinta ini, karena saya juga mengenal sepasang kekasih yang saling mencintai itu. Ini bukan sekadar ‘love story’, ini adalah ‘love slavery’...

Kisah cinta itu dimulai pada beberapa tahun lalu, ketika seorang cewek bertemu dengan seorang cowok di kampus yang sama. Mereka saling jatuh cinta, kemudian cinta itu pun berlanjut menjadi hubungan yang penuh kasih. Untuk lebih baiknya, saya akan menyamarkan nama mereka. Yang cowok bernama Salwa, sedangkan yang cewek bernama Salma. Dua orang itu menjadi salah satu pasangan yang paling romantis di kampus mereka.

Perjalanan waktu terus mengantarkan mereka pada hubungan yang semakin dekat, dan semester demi semester pun berlalu. Seiring dengan itu, ada seorang cowok lain yang juga mencoba mendekati Salma. Cowok ini sudah bekerja dan menjadi guru yang telah berstatus pegawai negeri. Cowok ini begitu agresif dalam upayanya mendekati Salma, dan hampir tiap malam ia bertandang ke rumah Salma.

Waktu itu, Salma enjoy saja menghadapi cowok itu karena dia pikir, apa salahnya? Toh dirinya tidak merasa memberikan harapan atau pun memberikan respons atas usaha pedekate cowok tersebut. Lebih dari itu, Salma pun merasa terbantu dengan kedatangan cowok itu, karena si cowok seringkali membantu banyak tugas kuliah Salma hingga Salma tidak terlalu pusing memikirkan tugas-tugas kuliahnya.

Mungkin kita bisa mengatakan kalau Salma ‘memanfaatkan’ cowok itu. Dan mungkin memang seperti itulah yang terjadi. Kita sama-sama maklum kalau cewek memang terkadang begitu, kan? Tetapi Salma sama sekali tidak menyangka kalau perbuatannya itu pada akhirnya justru menjebaknya sendiri.

Orang tua Salma yang melihat si guru (maksudnya cowok yang terus pedekate ke Salma) menyangka kalau putri mereka tengah menjalin hubungan dengan si guru. Kedatangan si guru yang selalu disambut Salma diartikan sebagai penerimaan Salma atas kehadiran guru itu. Maka orang tuanya pun ‘open’ pada kehadiran si guru.

Sikap positif yang ditunjukkan kedua orang tua Salma tidak disia-siakan oleh si guru. Meskipun ia tahu kalau Salma sudah punya pacar, dia tidak peduli. Suatu hari dia membawa orang tuanya untuk melamar Salma.

Sekarang Salma benar-benar merasa terjebak. Apa yang harus ia lakukan?

Salma pun mengatakan pada orang tuanya bahwa dia tidak bisa menerima lamaran itu. Kedua orang tua Salma merasa kecewa, tetapi mereka mencoba untuk bersabar. Kedua orang tuanya kemudian mengatakan pada si cowok yang melamar itu, bahwa putri mereka masih membutuhkan waktu untuk memikirkan keputusannya.

Ketika acara lamaran itu selesai, dan orang tua si cowok beserta keluarganya telah pulang, orang tua Salma pun mengklarifikasi sikap putri mereka. Salma dengan jujur menjelaskan bahwa dia sudah punya pacar di kampusnya, bernama Salwa, dan hubungannya dengan cowok yang guru itu sama sekali bukan hubungan apa-apa selain hanya pertemanan, dan Salma sama sekali tak mencintainya.

Salma pun lalu memberitahu Salwa, kekasihnya, tentang lamaran itu, dan Salwa terkejut bukan main. Tetapi dia masih bersyukur karena kekasihnya tetap setia kepadanya, dan lebih memilih untuk menolak lamaran itu daripada mengkhianati dan meninggalkannya.

Karena ‘laporan’ dari Salma itu pulalah, Salwa kemudian menambah jam kunjungannya ke rumah Salma, dengan tujuan orang tua Salma juga mengenalnya.

Baca lanjutannya: The Power of Love (2)

Related

Romance 8782351378151764841
item