Merindukan Seks Setelah Ditinggal Pasangan

 Perkabungan Seksual: Merindukan Seks Setelah Ditinggal Pasangan

Naviri.Org - Di antara yang dilakukan oleh pasangan suami istri, melakukan hubungan seksual adalah salah satunya. Bahkan, tujuan orang menikah dan menjadi suami istri pun salah satunya adalah agar dapat berhubungan seks secara teratur dan mudah. Karena, bagaimana pun, hasrat seks adalah sesuatu yang ada pada diri setiap manusia, pria maupun wanita, dan hasrat itu tentu membutuhkan penyaluran yang benar.

Nah, bagaimana dengan wanita yang ditinggal mati suaminya? Ketika seorang wanita ditinggal mati suaminya, maka secara otomatis statusnya menjadi janda. Dalam kehilangan itu, yang dirasakan seorang wanita kadang bukan hanya kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan kemampuan untuk dapat berhubungan seks seperti sebelumnya. Kenyataan itulah yang lalu disebut “perkabungan seksual”, yaitu saat seorang janda merindukan seks setelah ditinggal mati suaminya.

Istilah “perkabungan seksual” diperkenalkan oleh seorang wanita bernama Alice Radosh, seorang neuropsikolog yang ditinggal mati suami yang telah dinikahinya selama 40 tahun. Perkabungan seksual, menurutnya, adalah perasaan kehilangan seksual yang intim, yang muncul akibat ditinggal mati pasangan yang sudah bersama dalam waktu lama.

“Ini adalah jenis kehilangan yang tak satu orang pun membahasnya,” kata Alice Radosh. “Kalau Anda tak bisa menghadapinya, ia akan berpengaruh buruk pada kesehatan fisik dan emosional. Anda bahkan tak akan pernah siap untuk hubungan lainnya.”

Karena kegelisahan tersebut, Alice Radosh lalu melakukan penelitian yang ingin membuktikan bahwa “perkabungan seksual” memang benar-benar nyata—dalam arti bukan hanya dirasakan sendiri olehnya. Bersama rekannya, Lina Simkin, Alice Radosh melakukan survei terhadap 104 wanita berusia 55 tahun ke atas, yang masih punya pasangan. Hasilnya, hipotesis Alice Radosh lumayan tepat. Sebanyak 84 persen masih aktif melakukan hubungan seks. Hampir 3 dari 4 responden bilang akan merindukan seks jika pasangannya meninggal.

Mereka yang sudah ditinggal pasangan menyatakan ingin membicarakan “perkabungan seksual” yang mereka rasakan itu pada teman, tapi tidak jika mereka sendiri yang harus memulainya. Sekitar 76 persen berharap kawan mereka yang memulai pembicaraan tersebut. Perbincangan itu juga baru ingin dibagikan jika kawan mereka sama-sama janda atau perempuan berusia lanjut.

Kemudian, separuh responden ingin bercerita pada kawan yang berusia 40-49 tahun. Sebanyak 26 persen ingin bercerita pada kawan berusia 70-79 tahun, sementara 14 persen ingin bercerita pada kawan berusia 80 tahun ke atas.

Menurut Alice Radosh, alasan utama perempuan-perempuan itu enggan membahas kegelisahan mereka, karena merasa bersalah pada diri sendiri, sebab menganggap janda yang memikirkan seks adalah jahat. Stereotip-stereotip itu tentu terjadi lebih banyak pada perempuan (janda), sebab budaya patriarki memang menjadi mayoritas di dunia.

Dalam hal itu, Alice Radosh menasihati para janda dan juga duda untuk mulai membicarakan perasaan kehilangan seksual yang intim itu pada terapis. Ia menyatakan, “Meski akan sangat canggung, tetap bicarakanlah. Biarkan teman dekat tahu kalau ini adalah sesuatu yang ingin Anda bicarakan. Sangat penting untuk menormalisasi topik ini.”

Baca juga: Benarkah Orang Lanjut Usia Tak Berminat Lagi pada Seks?

Related

Sexology 2094056924954327603

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item