Kisah Legenda Kuntilanak di Pontianak

Kisah Legenda Kuntilanak di Pontianak

Naviri.Org - Pontianak, kota di Kalimantan Barat, disebut-sebut memiliki kaitan dengan kuntilanak. Bahkan, akhir-akhir ini muncul kabar yang makin menegaskan hal tersebut, yaitu ide untuk membangun patung kuntilanak di Pontianak. Wacana pembangunan patung kuntilanak itu pertama kali disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Pemprov Kalimantan Barat, Kartius.

Sebagaimana yang diwartakan Pro Kalbar (19 Januari 2017), Kartius menyatakan ingin membangun monumen sekaligus menara berbentuk kuntilanak, setinggi 100 meter. “Jadi wisatawan bisa melihat Kota Pontianak dari atas, tidak perlu keliling-keliling,” ujarnya.

Ia juga mengatakan “banyak orang mendukung” idenya. Bahkan, Kartius sudah punya rencana lokasi pembangunan, yaitu di tepi Sungai Kapuas dekat Jembatan Kapuas I.

Perkataan atau rencana Kartius itu lalu berbuah kontroversi. Sebagian masyarakat menentangnya, termasuk organisasi LSM. Beberapa hari setelah Kartius menyatakan rencana tersebut, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, membei tanggapan. Ia menegaskan, pihaknya tidak punya rencana membangun patung kuntilanak.

Sebagaimana yang diwartakan Tribun Pontianak 1 Februari 2017), Sutarmidji mengatakan, “Saya pastikan tidak akan dibangun di Pontianak selama saya masih jadi wali kota (hingga 2018). Yang jelas, saya tidak akan izinkan hal itu. Kan saya yang wali kota, ini wilayah saya.

Terlepas dari kontroversi tersebut, apakah benar Pontianak memang memiliki kaitan dengan kuntilanak? Kenyataannya, kisah pendirian kota itu memang memiliki hubungan dengan legenda kuntilanak.

Alkisah, Pontianak dibangun Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang kelak jadi Raja Pontianak. Konon, guna mencari lokasi pembangunan istana, Syarif Abdurrahman mesti menyisir Sungai Kapuas.

Dalam perjalanan itu, sang raja kerap diganggu kuntilanak yang jadi penghuni Sungai Kapuas.

Mengatasi gangguan tersebut, Syarif Abdurrahman menembakkan meriam ke tiga titik, yang suaranya bikin kuntilanak tunggang-langgang. Titik jatuhnya tiga peluru meriam itu jadi lokasi pembangunan Kerajaan Pontianak.

Namun, sebagaimana mitos atau legenda, kisah itu sulit dibuktikan.

Catatan lain ihwal pendirian Pontianak pernah ditulis sejarawan Belanda, V.J. Verth, dalam buku Borneos Wester Afdeling.

Menurut Verth, Belanda masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. Verth menyebut Syarif Abdurrahman sebagai putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan Kerajaan Mempawah.

Dalam perantauan, di wilayah Banjarmasin, Syarif Abdurrahman menikah dengan adik sultan Banjar, Sunan Nata Alam. Pernikahan itu menjadikan Syarif Abdurrahman mendapat gelar pangeran.

Kelak, Syarif Abdurrahman berhasil dalam perniagaan, dan punya modal untuk melakukan aksi-aksi membajak kapal Belanda, Prancis, dan Inggris.

Aksi itu membuatnya kaya dan mampu mendirikan permukiman di pesisir Sungai Kapuas hingga ke percabangan Sungai Landak. Wilayah itu jadi pusat kerajaan dan perdagangan, yang kini dikenal sebagai Pontianak.

Baca juga: 50 Tempat Wisata Alam dan Kuliner Terbaik di Bali

Related

Traveling 7450126230191238434
item