Mengapa Perempuan Saling Jambak Rambut ketika Berkelahi?

Mengapa Perempuan Saling Jambak Rambut ketika Berkelahi?

Naviri.Org - Laki-laki maupun perempuan kadang berselisih dengan orang lain, hingga timbul perkelahian. Jika perkelahian laki-laki dengan laki-laki biasanya menggunakan pukulan, tendangan, dan lain-lain, perempuan memiliki cara berkelahi yang berbeda. Bukannya saling menggunakan jurus-jurus maut, perempuan umumnya saling jambak rambut ketika berkelahi dengan sesama perempuan.

Dalam bahasa Inggris, perkelahian perempuan semacam itu disebut “catfight”. Kamus Oxford pun menggunakan istilah itu untuk menggambarkan perkelahian antar-perempuan. Mereka menggunakan terminologi itu untuk menggambarkan perseteruan khusus untuk wanita dalam percakapan sehari-hari.

Jika diartikan secara harfiah, catfight memiliki arti “kucing tarung”. Mengapa perkelahian antar-perempuan diasosiasikan dengan kucing?

Perkelahian antar-perempuan diasosiasikan dengan perkelahian kucing, karena hewan tersebut distereotipkan sebagai hewan feminin. Hayley Gleeson dari ABC menyebut, setidaknya sejak abad ke-19, ia telah mengamati bahwa di antara para penutur bahasa Inggris, kucing sudah dilekatkan dengan wanita dan feminin, sementara anjing digeneralisasi sebagai sahabat manusia dan lambang maskulinitas.

Ditambahkannya, pada masa awal abad ke-20, ilustrasi-ilustrasi kucing berpakaian perempuan digunakan orang-orang Amerika Serikat dalam propaganda anti-hak pilih untuk melukiskan hak politik perempuan sebagai kekonyolan, sekaligus simbol untuk menurunkan derajat gerakan mereka—para wanita AS yang dahulu kala tak boleh ikut pemilu. Kucing-kucing, seperti perempuan, dianggap sepele, tak mampu, dan tak layak dalam hal-hal serius.

Oxford mengutip kata “catfight” dari puisi pujangga Ebenezer Mack, 1824. Feminis Rachel Reinke, dalam bukunya, Catfight: A Feminist Analysis, mengungkap konteks ketika Oxford menyerap kata tersebut. Ia menulis, bahwa istilah “catfight” berkembang dari sistem poligami yang tumbuh pada era tersebut. Perkelahian dua wanita beragama Mormon tentang suami mereka jadi tontonan unik kala itu. Sehingga sering diucapkan sehari-hari. Oxford kemudian sempat mendefinisikan catfight sebagai “perkelahian ganas; spesifikasi dilakukan oleh perempuan, berkelahi seperti kucing, khususnya dengan mencakar, menjambak rambut, dan menggigit.”

Perkelahian antar-perempuan memang biasanya dilakukan dari jarak dekat, dengan menjambak rambut, mencakar, menampar, dan merobek pakaian. Mirip kucing yang berkelahi. Suara ribut yang muncul juga mirip ketika kita melihat kucing cakar-cakaran.

Menurut Phillip Herbst dalam buku Wimmin, Wimps, and Waterflower (sebuah kamus ensiklopedi yang merangkum kata-kata bias gender dan orientasi seksual di Amerika Serikat), kata “kucing” memang berkonotasi negatif. Secara orisinal, “cat” alias kucing dipakai sebagai kata untuk merendahkan laki-laki dan perempuan, namun akhirnya dirujuk sebagai lambang feminin yang lebih akrab dengan wanita. Kata “kucing” akhirnya merujuk perempuan yang bersifat lembek, atau cabul, atau yang dianggap dengki, pemfitnah, atau jahat.

Tak hanya istilah catfight yang jadi turunan kata kucing, lenggak-lenggok peragawati juga disebut catwalk.

Bukan hanya Phillip Herbst yang menganggap terminologi ini sebagai kata yang bias gender. Rachel Reinke juga beropini serupa. Menurutnya, perkelahian perempuan yang dilakukan dengan cara saling menjambak rambut adalah buah dari norma sosial yang menganggap perempuan tabu untuk berkelahi. Sehingga kebanyakan perempuan tidak paham jurus-jurus berkelahi yang bisa membuat mereka lebih selamat, selain perkelahian jarak dekat.

Ntuk hal itu, Rachel Reinke menulis, “Tak seperti perkelahian antar-lelaki, perkelahian antar-perempuan dianggap sebagai ihwal lucu-lucuan yang menghibur. Catfights lebih dikarakterisasi sebagai humor ketimbang tindakan gagah berani.”

Kehadiran istilah catfight akhirnya memberi dampak lain: perempuan sering dianggap bukan lawan seimbang dalam perkelahian sesungguhnya. Budaya patriarki yang menjunjung konsep maskulin dan feminin juga turut berperan mengerdilkan kemampuan perempuan dalam aksi bela diri. Para pria diajari sikap-sikap dasar untuk bertarung, misalnya kuda-kuda dengan jarak yang cukup agar bisa melakukan serangan yang baik. Sementara perempuan ditabukan mempelajari hal yang sama, dan terus dilambung-lambungkan dengan konsep feminin.

Reinke juga menulis diskriminasi lain yang sebenarnya muncul dalam istilah catfight. Seringkali, catfight adalah hiburan seksual bagi pria-pria heteroseksual. Misalnya pariwara Miller Lite, perusahaan minuman beralkohol, pernah menggunakan konsep catfight. Di dalamnya dua orang wanita berbikini berkelahi di pinggir kolam renang, kemudian berciuman di ujung perkelahian. Rupanya adegan tegang itu hanya bayangan seorang pria yang sedang minum bir di sebuah bar.

“Fenomena catfight sebagai hiburan erotis bagi laki-laki didokumentasikan secara luas lewat internet, televisi, film, bahkan film porno,” ungkap Reinke.

Selain cuma dinilai sebagai hiburan, atau perbuatan sepele, University of British Colombia juga mengeluarkan temuan studi yang menyebutkan bahwa perkelahian antar-perempuan lebih dipandang negatif ketimbang perkelahian antar-lelaki.

Di Indonesia, memang hampir tidak ada kosakata khusus yang membedakan perkelahian perempuan dan laki-laki. Namun sejumlah istilah yang digunakan dalam bahasa sehari-hari seperti “jambak-jambakan” atau “cakar-cakaran” juga punya nasib serupa catfight: dianggap sepele, hiburan, dan lebih negatif dari pertarungan maskulin antar-lelaki.

Selain itu, Indonesia juga bukan negara yang punya banyak warga menganut feminisme secara utuh. Terbukti dari sejumlah produk konstitusinya, dan norma-norma sosial yang berlaku. Banyak kontruksi sosial di Indonesia yang masih merendahkan kemampuan perempuan, termasuk saat berkelahi atau membela diri.

Baca juga: Bagaimana Zat Sarin Dibuat, dan Dampaknya yang Berbahaya

Related

Insight 1256310046582648311

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item