Meluruskan Pola Pikir Keliru Terkait Kehidupan (3)

Meluruskan Pola Pikir Keliru Terkait Kehidupan

Naviri.Org - Artikel ini lanjutan artikel sebelumnya (Meluruskan Pola Pikir Keliru Terkait Kehidupan 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah artikel sebelumnya terlebih dulu.

Nah, di era industri inilah, para orangtua biasa memberikan nasihat kepada anaknya dengan nasihat bijak seperti ini, “Hei Nak, belajarlah yang rajin, agar kamu bisa mendapat nilai tinggi. Kalau kamu dapat nilai yang tinggi, kamu bisa mudah mendapatkan pekerjaan...”

Pada Era Industri, nasihat yang diberikan para orangtua pada anak-anaknya sudah berubah dari nasihat yang diberikan pada Era Agraria, karena keadaannya sudah berubah, kehidupan yang dihadapi pun sudah berubah.

Para orangtua yang memberikan nasihat pada waktu itu belum menyinggung soal universitas, apalagi universitas yang terkenal, karena waktu itu memang belum dikenal istilah universitas atau perguruan tinggi.

Seiring makin pesatnya industri di muka bumi, manusia pun mulai mengenal sesuatu  yang kelak di kemudian hari disebut sebagai kapitalisme. Pada Era Industri, para kapitalis masih bermain dengan cara yang ‘benar’—mereka mencari untung sebanyak-banyaknya dengan modal sesedikit mungkin. (Itu tentu saja tak bisa disalahkan, karena hukum ekonomi pun mengajarkan hal semacam itu).

Tetapi makin ke depan, ‘permainan’ mereka semakin tidak karuan. Tangan-tangan kapitalis itu kemudian tidak hanya menyentuh perdagangan yang nyata-nyata diadakan untuk mendapatkan keuntungan, namun juga mulai menyentuh hal-hal lain yang sebelumnya sama sekali tak termuat unsur perdagangan di dalamnya.

Ketika Era Industri makin menuju masa akhir, para kapitalis semakin menggurita, dan ‘aturan main’ mereka pun semakin tak lagi beretika. Kapan Era Industri berakhir?

Tahun 1989, Tembok Berlin di Jerman runtuh. Dalam sejarah dunia, itu adalah salah satu peristiwa yang paling penting. Bukan saja karena runtuhnya tembok itu menyatukan Jerman Barat dan Jerman Timur, tetapi juga menandai kejatuhan komunisme. Lebih dari itu, runtuhnya Tembok Berlin juga menandai berakhirnya Era Industri, dan masuknya kita pada era baru yang disebut Era Informasi.

Jadi, kita sekarang tidak lagi hidup di Era Agraria atau di Era Industri lagi. Kita saat ini sudah memasuki era baru bernama Era Informasi, di mana dunia tidak lagi luas terbentang, namun begitu kecil hingga dapat dilipat. Jarak lintas benua tidak lagi memerlukan waktu tempuh yang lama, namun hanya dihubungkan sinyal satelit dan serat optik yang bahkan tak kasat mata.

Di Era Informasi, manusia yang hidup di Jakarta bisa tahu apa yang detik itu terjadi di Kutub Selatan Afrika. Di Era Informasi, orang tak lagi dipisahkan oleh sekat-sekat dimensi, dan setiap orang dapat melakukan apa pun hanya dari tempat duduknya.

Era Industri sudah berlalu, dan sekarang kita hidup di Era Informasi.

Ketika manusia memasuki Era Industri, tanah sawah ladang memang masih ada (dan tentunya akan tetap dan terus ada), namun keadaannya sudah jauh berubah, dan nasihat orangtua kepada anak-anaknya pun telah (dan harus) berubah. Begitu pula ketika memasuki Era Informasi. Pabrik-pabrik dan perusahaan manufaktur memang masih ada (dan tentunya akan tetap dan terus ada), namun keadaannya juga sudah jauh berubah, dan tentunya nasihat para orangtua pada anak-anaknya pun seharusnya juga berubah.

Nasihat yang mengatakan ‘anak-anak perlu sekolah yang rajin agar dapat nilai tinggi, agar bisa masuk dan lulus universitas dan bisa mendapatkan pekerjaan’ itu nasihat para orangtua pada anaknya di Era Industri—dan sama sekali sudah kedaluwarsa kalau diterapkan untuk era sekarang, sebagaimana nasihat di Era Agraria akan terdengar konyol kalau diterapkan di Era Industri.

Nah, di Era Informasi inilah, sebagaimana yang tadi telah saya singgung sekilas, para kapitalis mulai bermain dengan cara yang semakin tak beretika, di mana mereka mulai memasuki lini yang seharusnya tidak dijadikan sebagai arena pencarian keuntungan. Contohnya dalam hal ini adalah sekolah yang kemudian disebut sebagai lembaga pendidikan formal. (Penyebutan ‘pendidikan formal’ itu saja sebenarnya sudah aneh sekaligus konyol—pendidikan kok diformalkan—apalagi dilembagakan).

Para kapitalis bermain di dunia pendidikan, dan dunia pendidikan yang pada mulanya suci (karena membawa misi mencerdaskan manusia) berubah menjadi sebuah dunia yang tak lagi ada bedanya dengan pasar atau tempat pelelangan ikan di mana orang beraktivitas (baca: bekerja) untuk mencari keuntungan. Come on, tidak usah munafik, saya tahu berapa ratus juta rupiah yang harus dikeluarkan untuk dapat masuk ke sebuah perguruan tinggi di Jakarta, dan saya tahu berapa ratus juta yang harus digunakan untuk dapat menjadi mahasiswa di sebuah kampus di Yogya.

Orang berkuliah (atau bersekolah atau mencari pendidikan atau apa pun istilahnya) pada saat ini hampir dapat dipastikan memiliki tujuan untuk mendapatkan ijazah. Dan ‘hanya’ untuk dapat memperoleh ijazah itu, mereka harus mengeluarkan uang ratusan juta banyaknya. Kalau bukan sistem kapitalis, mau disebut apa itu...?

Ketika para kapitalis mulai bermain dalam dunia pendidikan ini pulalah, kemudian isi pelajaran di sekolah (dan juga di kampus) mulai semrawut. Para siswa (dan para mahasiswa) diberi aneka pelajaran dan mata kuliah yang ‘aneh-aneh’ dan tidak jelas juntrungnya.

Mereka dipaksa mempelajari hal-hal dan segala sesuatu yang tidak akan pernah mereka gunakan dalam hidup. Secara teoritis, hal itu terjadi karena para pengelola lembaga-lembaga pendidikan itu gagap dalam menghadapi bergantinya Era Industri ke Era Informasi. Karena era telah berubah, sistem sekolah atau sistem pendidikan (atau sistem apa pun namanya) juga sudah harus berubah, namun mereka gagap dan kebingungan—dan seperti sekarang itulah yang kemudian terjadi.

Jadi, yang menjadi stressing dari persoalan ini adalah; sekolah atau lembaga pendidikan pada era sekarang sudah seharusnya di-upgrade besar-besaran, mulai dari kurikulum, pengajar dan pendidik, cara dan sistem pendidikan, hingga skala pengukuran sampai kualifikasi kelulusannya.

Saya tidak menutup mata pada upaya yang selama ini telah ditempuh untuk mengubah banyak hal dalam sistem pendidikan kita—mulai dari KBK, MBS dan semacamnya—namun bukankah kita terus-menerus ketinggalan dan terus saja ketinggalan? Dunia pendidikan kita keteteran menghadapi pesatnya laju modernisasi dalam Era Informasi, dan selama-nya akan terus ketinggalan kalau cara dan sistem semacam itu yang terus saja dipakai dan digunakan.

Kita kembali ke atas. Karena era sudah berubah, maka seharusnya nasihat para orangtua kepada anak-anaknya pun sudah harus berubah. Sebagaimana tadi telah disebutkan, nasihat di Era Agraria tak berlaku lagi pada Era Industri, maka begitu pula nasihat yang digunakan pada Era Industri pun sudah kedaluwarsa jika tetap digunakan pada Era Informasi sekarang ini.


Related

Insight 5296664962397704559
item