6 Fakta Mengejutkan Seputar Majapahit dan Gajah Mada

6 Fakta Mengejutkan Seputar Majapahit dan Gajah Mada

Naviri.Org - Kerajaan Majapahit adalah kerajaan besar dalam sejarah Indonesia. Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Hayam Wuruk ini memiliki patih terkenal bernama Gajah Mada, yang mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Patih Gajah Mada bahkan diceritakan bersumpah tidak akan memakan buah palapa (kelapa) sebelum impiannya menyatukan Nusantara berhasil. Karenanya, sumpah itu terkenal dengan nama Sumpah Palapa.

Selama ini, Majapahit dikenal sebagai kerajaan Hindu, begitu pula para raja dan patihnya. Namun, berdasarkan penelitian terkini, terungkap bahwa sebenarnya Majapahit adalah kerajaan Islam, sementara nama asli Gajah Mada adalah Gaj Ahmada, yang juga seorang muslim. Entah percaya atau tidak, berikut ini adalah 6 fakta mengejutkan terkait Kerajaan Majapahit dan Gajah Mada.

Asal usul Majapahit

Pada tahun 1253 Masehi, Baghdad diserbu oleh tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Karena penyerangan itu, wilayah Timur Tengah pun bergolak dan dalam situasi tak menentu. Akibat konflik yang terjadi, kaum muslim di wilayah Timur Tengah melakukan eksodus besar-besaran meninggalkan wilayahnya, dan menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memiliki sumber daya alam kaya.

Di wilayah baru itu, mereka menetap dan melanjutkan kehidupan, beranak pinak, hingga meninggalkan keturunan dalam jumlah besar. Dari situ, muncullah kerajaan-kerajaan di Nusantara, yang salah satunya Majapahit.

Koin emas bertulisan Arab

Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah (kerajaan). Karena itu, keberadaan koin sering kali memiliki keterikatan kuat dengan wilayah tempat koin itu berada.

Berdasarkan penggalian di wilayah yang dulunya menjadi Kerajaan Majapahit, ditemukan keberadaan koin-koin emas bertuliskan kalimat ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Kenyataan itu menjadikan sebagian orang menarik kesimpulan bahwa Majapahit sebenarnya kerajaan Islam.

Hakim muslim di Majapahit

Syaikh Maulana Malik Ibrabim, atau yang juga populer dengan nama Sunan Gresik, adalah salah satu wali yang dikenal sebagai Wali Songo. Saat ini, makam Sunan Gresik masih ada, dan pada batu nisannya terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit. Hal itu juga secara tak langsung menunjukkan keberadaan Islam di Majapahit pada masa lalu.

Lambang Kerajaan Majapahit

Sebagai kerajaan besar, Majapahit juga memiliki lambang resmi yang berfungsi sebagai pengenal. Dalam hal itu, lambang Kerajaan Majapahit bergambar delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan Arab, yakni sifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid, dan Dzat. Lagi-lagi, kenyataan itu mengejutkan, mengingat selama ini kita diberitahu bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindu.

Pendiri Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit dipercaya didirikan oleh Raden Wijaya, yang ternyata juga seorang muslim. Raden Wijaya adalah anak Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama Islam Pasundan yang hidup seperti sufi. Sedangkan nenek Raden Wijaya adalah seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya.

Meski Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (menggunakan bahasa Sansekerta yang lazim digunakan saat itu), tidak lantas menjadikannya pemeluk Hindu. Gelar seperti itu (menggunakan bahasa Sansekerta) masih juga digunakan oleh raja-raja muslim Jawa zaman sekarang, seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam di Yogyakarta serta Pakubuwono di Surakarta/Solo.

Nama asli Gajah Mada adalah Gaj Ahmada

Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal, Gajah Mada, ternyata nama aslinya adalah Gaj Ahmada. Nama itu terdengar islami. Namun, orang-orang Jawa di masa lalu agak kesulitan melafalkan nama itu, sehingga biasa menyebutnya Gajahmada, untuk memudahkan pengucapan. Belakangan, nama Gajahmada sering ditulis menjadi Gajah Mada, yang ternyata salah.

Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia). Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Kenyataan itu diperkuat dengan bukti fisik berupa nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto, yang dihiasi tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.

Baca juga: Kisah Jerman Menggunakan Gas Berbahaya di Perang Dunia

Related

Insight 971149302263153651
item