Penelitian-penelitian Terkait Poliglot

Penelitian-penelitian Terkait Poliglot

Naviri.Org - Emils Krebs adalah warga Jerman yang diketahui memiliki kemampuan berbicara dalam 68 bahasa. Kemampuan ajaib itu sudah dimulai sejak ia berusia 7 tahun. Pada waktu itu, Emils Krebs menemukan sebuah koran tua dalam bahasa asing. Ia bertanya kepada gurunya, bahasa apa yang terdapat di dalam koran itu? Gurunya menyebut koran Prancis, lalu memberikan sebuah kamus berbahasa Prancis-Jerman kepada Emils Krebs. Beberapa bulan kemudian, Emils Krebs sudah bisa menguasai bahasa tersebut dengan sangat fasih.

Meski tampaknya mudah bagi Emils Krebs, namun kemampuan semacam itu—mempelajari aneka bahasa dalam waktu singkat—tidak bisa dimiliki semua orang. Ada banyak orang yang harus susah payah untuk mempelajari satu dua bahasa saja, hingga harus kursus berbulan-bulan. Pertanyaannya, mengapa ada orang yang bisa mudah mempelajari aneka bahasa, sementara yang lain kesulitan? Faktor apa yang menyebabkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu pula yang menggerakkan banyak pakar untuk melakukan penelitian terkait poliglot. Michael Erard, seorang jurnalis sekaligus penulis buku Babel No More: The Search for the World's Most Extraordinary Language Learners, mengatakan seorang poliglot tidak lahir dengan bakat khusus. Tetapi, kebanyakan dari mereka mendedikasikan hidupnya untuk belajar secara aktif guna menguasai berbagai bahasa.

Untuk mencari tahu lebih lanjut, pada 2004, para ilmuwan memiliki kesempatan untuk membedah otak Emil Krebs. Hasilnya, mereka menemukan struktur otak yang unik, tepatnya di wilayah Broca. Area Broca berperan pada proses bahasa, serta kemampuan dan pemahaman berbicara. Area Broca terletak berdampingan dengan area Wernicke. Keduanya ditemukan hanya pada salah satu belahan otak saja, yakni pada bagian kiri.

Pertanyaannya, apakah seorang poliglot memiliki perbedaan otak sejak lahir, atau karena berubah setelah sang poliglot mempelajari bahasa baru?

Mereka pun sampai pada kesimpulan bahwa setiap jenis aktivitas yang melibatkan sisi kognitif, seperti mengisi teka-teki silang, memainkan alat musik, atau mempelajari bahasa, dapat membangun jalur saraf baru. Pembelajaran bahasa, khususnya, tidak hanya menciptakan jalur saraf baru, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran bahasa selanjutnya.

Meskipun memiliki struktur otak yang berbeda, Alex Rawlings, seorang poliglot asal Inggris yang menguasai 15 bahasa asing, mengatakan bahwa seorang poliglot tidak benar-benar berbeda dengan kebanyakan orang lain. Ia mengatakan, keterampilan yang ia dapatkan justru dari ketekunan dan latihan, yang pada akhirnya memperkuat kinerja otaknya.

Pernyataan Alex Rawlings diamini para peneliti dari Lund University di Swedia. Mereka mengambil scan otak para angkatan bersenjata dari Interpreter Academy, mahasiswa jurusan kedokteran, dan mahasiswa bahasa.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, para mahasiswa bahasa lebih unggul dalam menerima pelajaran bahasa. Otak mereka menunjukkan beberapa perubahan, terutama pada bagian yang memfasilitasi bahasa. Para peneliti menyimpulkan pertumbuhan otak menyebabkan seorang siswa mudah untuk mempelajari bahasa asing.

Hal tersebut disadari Alex Rawlings, selama mengikuti proses belajar bahasa. Ia menjelaskan, meskipun berasal dari tingkat yang sama, ia jauh lebih mudah mencerna dan menguasai bahasa asing ketimbang teman-teman sekelasnya. Meskipun demikian, Alex Rawlings percaya, siapa pun dapat menjadi poliglot, dan mereka hanya membutuhkan waktu serta usaha untuk belajar.

Baca juga: Mengenal Para Poliglot dari Indonesia

Related

Insight 8933439612238649137
item