Di Industri JAV, 70 Pria Bercinta dengan 10.000 Wanita

Di Industri JAV, 70 Pria Bercinta dengan 10.000 Wanita

Naviri.Org - JAV (Japan Adult Video) adalah film dewasa produksi Jepang. Sebagai negara yang melegalkan pornografi, Jepang memang membebaskan siapa pun untuk memproduksi aneka hal untuk konsumsi dewasa, termasuk film. Karena hal itu pula, JAV menjadi penyumbang devisa terbesar kedua untuk Jepang.

Dalam industri JAV, yang menjadi inti penting adalah adegan hubungan seks yang dilakukan sepasang pria dan wanita. Karenanya, selain membutuhkan pemeran wanita, industri JAV juga membutuhkan pemeran pria. Dalam hal itu, industri JAV di Jepang lebih mudah mendapatkan pemeran wanita, daripada memperoleh pemeran pria.

Menurut situs WorldNewsViews, ada sekitar 10.000 wanita yang ikut meramaikan industri JAV di Jepang, dan mereka menghasilkan sekitar 4.500 judul film baru setiap bulan. Sementara jumlah pemeran pria hanya ada sekitar 70 orang. Jumlah itu jelas sangat timpang, karena artinya 70 pria harus bermain dengan 10.000 wanita dalam film-film dewasa yang diproduksi di Jepang.

Karena jumlah yang timpang itu pula, rata-rata aktor JAV harus bercinta atau berhubungan seks dengan ribuan wanita (pemeran film JAV). Rata-rata, dalam sehari, seorang aktor JAV syuting dua kali, tentu dengan lawan main yang berbeda. Dalam sehari pula, aktor JAV dibayar sekitar 100.000 yen. Jumlah itu lebih besar dibanding bayaran rata-rata aktor film dewasa barat (Amerika dan Eropa), yang hanya sebesar 200 dolar per hari.

Masalah dalam industri JAV, sebagaimana yang disebut tadi, adalah ketimpangan antara jumlah pemain pria dan pemain wanita. Karena itu, seorang pemain pria harus berhubungan seks dengan banyak wanita, untuk dapat terus menghasilkan film baru. Yang menjadi masalah, tentu saja, adalah energi si aktor yang terbatas. Bagaimana pun, dia tidak bisa terus menerus berhubungan seks, meski mungkin ingin terus melakukannya.

Untuk mengatasi hal itu, industri JAV pun terpaksa harus menggunakan aneka trik kamera, sampai membuat sperma buatan dan penggunaan aneka obat kuat, untuk menutupi masalah yang terjadi. Intinya, mereka berharap terus dapat memproduksi film baru, tanpa harus terkendala dengan stamina aktor pemeran JAV.

Dalam buku berjudul “The Male AV Actor Occupation: the Reality of the Sex Cyborgs”, para aktor JAV di Jepang sampai disebut “Sex Cyborgs”, karena mereka seperti dipaksa untuk terus berhubungan seks, tanpa henti, setiap hari, tanpa peduli mereka masih memiliki stamina untuk melakukannya atau tidak. Dalam hal itu, kita bisa membayangkan angka di atas: 70 pria harus bercinta dengan 10.000 wanita.

Mengapa mencari pemeran pria untuk film JAV lebih sulit dibanding mendapatkan pemeran wanita? Masalah pertama, tentu saja, adalah stamina. Untuk dapat berhubungan seks, pria membutuhkan stamina, berbeda dengan wanita yang bisa dibilang tinggal “pasrah” saja. Kedua, jauh lebih banyak pria yang “berpikir panjang” untuk masuk industri film JAV di Jepang daripada wanita.

Di Jepang, membedakan satu wanita dengan wanita lain kadang sulit, karena ada banyak wanita di sana yang rata-rata memiliki wajah mirip. Artinya, ketika seorang wanita di Jepang terjun ke industri film JAV, dia bisa berharap tidak dikenali tetangga atau teman-temannya.

Hal itu sulit dilakukan pria di Jepang, karena rata-rata mereka lebih mudah dikenali. Dengan kata lain, ketika seorang pria masuk ke industri JAV, mereka memiliki kemungkinan besar untuk dikenali teman atau tetangga. Dalam hal itu, banyak pria di sana yang tidak berani melakukannya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Karena itu pula, banyak film JAV yang wajah pemeran prianya disensor atau diburamkan, kemungkinan karena permintaan si aktor bersangkutan.

Baca juga: Rinko 18, Film yang Mengungkap Industri Porno Jepang

Related

Entertaintment 7456808151087476256
item