Mengintip Industri Film Porno Dunia

Mengintip Industri Film Porno Dunia

Naviri.Org - Indonesia melarang film porno, dan karena hal itu pula pemerintah Indonesia, melalui Kemenkominfo, berupaya memblokir situs-situs porno di internet. Namun, meski upaya pemblokiran terus diupayakan dan dilakukan, bukan berarti orang Indonesia tidak bisa mengakses film-film porno. Selalu ada cara untuk menerobos pemblokiran, sehingga orang tetap dapat mengakses situs-situs mana pun yang diinginkan.

Kenyataannya, dari hasil pengamatan Google Trend, kata kunci seperti “bokep”, “Japan Adult Video (JAV)”, dan “film porno”, memiliki jumlah cukup tinggi. Statistik dari 2005 sampai 2014 menunjukkan angka pencarian terkait kata kunci porno atau film porno selalu mengalami kenaikan. Kota besar seperti Jakarta merupakan kota tertinggi pencari kata kunci bokep, dan Depok untuk kata kunci JAV.

Tingginya minat penduduk Indonesia dengan film JAV ditangkap sebagai peluang. Pada 2009, sebuah film berjudul Suster Keramas, yang diproduksi oleh Maxima Pictures, menghadirkan bintang JAV Rin Sakuragi. Tahun berikutnya, fenomena serupa juga muncul dengan kehadiran film Menculik Miyabi, yang menghadirkan bintang JAV Maria Ozawa. Setelah itu, setidaknya ada tujuh bintang film porno yang sempat menjadi cameo atau bintang dalam film Indonesia.

Pornhub, situs porno terbesar di internet, setiap tahun merilis laporan statistik tentang karakteristik dan data-data terkini dari pengguna situs mereka. Pada 2015, diketahui bahwa pengguna internet menghabiskan 4.392.486.580 jam di internet untuk menonton film porno di situs Pornhub. Itu dua kali lebih lama dari masa hidup homo sapiens di bumi. Tahun ini, film porno dengan bintang India dan Indonesia merupakan dua objek yang paling banyak dicari di Pornhub.

Dari data pencarian Similiarweb, diketahui pula netizen Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 3 menit 36 detik, untuk menonton film porno di internet. Pornhub juga menunjukkan bahwa warga Indonesia paling banyak mengakses situs porno melalui ponsel ketimbang dekstop. Data-data ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi negara yang gemar mengonsumsi konten porno, terlepas aksi pemblokiran yang dilakukan pemerintah.

Mengapa banyak orang yang terobsesi dengan film porno? Survei yang dilakukan oleh Universitas Arkansas di Amerika Serikat pada 487 mahasiswa laki-laki, menunjukkan bahwa film porno memberi kepuasan lebih bagi mereka ketika melakukan hubungan seks. Film porno membantu mereka melakukan proses seks, dan membuat kehidupan seks mereka menjadi lebih baik.

Sayangnya, ada kecenderungan bahwa film atau konten porno di internet akan membawa kecanduan yang mengganggu. Dalam survei yang dilakukan oleh Robert Weiss, konselor yang fokus pada pemulihan kecanduan seks, diketahui bahwa 87 persen pasangan yang sudah menikah menyebut konten porno di internet merupakan bentuk perselingkuhan.

Meski memiliki banyak faktor buruk, konten porno akan susah dihapus, karena ia punya nilai pasar yang demikian besar.

Majalah New York Times menurunkan laporan berjudul “Naked Capitalists: There’s No Business Like Porn Business”, yang menyebutkan bahwa bisnis pornografi dunia memiliki nilai 10-14 miliar dolar setahun. Penulisnya, Frank Rich, mengklaim bahwa bisnis pornografi dunia lebih besar daripada industri olahraga dunia. Perkiraan angka itu berasal dari studi yang dilakukan oleh Forrester Research. Angka itu sayangnya diragukan kebenarannya.

Forbes merilis data dari Adult Video News (AVN) yang menyebutkan di Amerika saja, industri porno di negara itu bernilai empat miliar dolar. Angka itu hanya untuk sewa dan membeli film dewasa. Belum untuk foto, buku, online, dan sejenisnya. Sungguh menggiurkan.

Baca juga: Mengapa Banyak Wanita Jepang Menjadi Artis Film Porno?

Related

Insight 8239462826789112297

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item