Sejarah Kelam Kehancuran Ekonomi Amerika

Sejarah Kelam Kehancuran Ekonomi Amerika

Naviri.Org - Saat ini, Amerika Serikat terkenal sebagai negara adidaya. Selain memiliki wilayah yang sangat luas, kekayaan yang berlimpah, juga menjadi negara yang sangat berpengaruh di dunia. Namun, bukan berarti Amerika tidak pernah mengalami keterpurukan, khususnya dalam hal ekonomi. Di masa lalu, Amerika pernah mengalami kejatuhan ekonomi yang sangat parah, yang dikenal dengan istilah Depresi Besar.

Depresi Besar (The Great Depression) terjadi pada dekade 1920, ketika Amerika mengalami krisis perekonomian. Sejarah kelam tersebut berlangsung selama 10 tahun, mulai dari 1929 sampai 1939, saat jabatan pemerintahan dipimpin oleh Herbert Hoover.

Depresi Besar merupakan pukulan telak bagi perekonomian Amerika, mengingat sepanjang 1920 ekonomi mereka berkembang pesat. Ekonomi tumbuh pesat, kekayaan negara meningkat lebih dari dua kali lipat, sehingga periode tersebut sempat disebut sebagai “The Roaring Twenties”. Ekonomi yang tumbuh pesat memicu spekulasi besar-besaran di pasar saham. Indeks saham melejit hingga mencapai puncaknya, pada Agustus 1929.

Lalu mimpi buruk Amerika dimulai pada September 1929, ketika harga saham secara perlahan terus turun. Puncaknya meletus pada 24 Oktober 1929, ketika terjadi pelepasan saham-saham secara masif. Sekitar 13 juta lembar saham berpindah tangan dalam waktu sehari. Indeks saham jatuh sangat dalam, hanya dalam waktu sehari. Dow Jones Industrial Average (DJIA) jatuh hingga 11 persen dalam sehari. Peristiwa itu disebut publik sebagai “Black Thursday”.

Kepercayaan konsumen lenyap setelah jatuhnya pasar saham. Michael Bernstein, dalam buku The Great Depression: Delayed Recovery and Economic Change in America, 1929-1939, menyatakan bahwa jatuhnya pasar saham menyebabkan penurunan daya beli, menyusutnya investasi, guncangan sektor industri, dan merebaknya pengangguran. Merebaknya pengangguran menyebabkan kredit macet meningkat, dan penyitaan aset melonjak.

Sementara itu, produksi negara turun. Petani tidak mampu memanen hasil ladang mereka, dan terpaksa membiarkannya membusuk di ladang. Di sisi lain, jumlah tunawisma merebak di kota-kota Amerika. Tak ada harapan, sedangkan isi perut terserang kelaparan.

Kondisi perbankan tak jauh beda. Pada musim gugur 1930, gelombang pertama melanda perbankan. Masyarakat, yang kehilangan kepercayaan, menarik dananya di perbankan secara besar-besaran, serta memaksa bank untuk melikuidasi pinjaman guna melengkapi cadangan kas. Belum pulih seutuhnya, badai berikutnya terjadi pada musim semi dan gugur di tahun 1931 sampai 1932. Puncaknya, pada 1933, banyak bank yang tutup.

Menghadapi petaka ekonomi semacam itu, pemerintahan Herbert Hoover berupaya memberi solusi berupa dukungan kepada bank-bank lewat pinjaman pemerintah. Harapannya, setelah pinjaman diberikan, bank mulai dapat beroperasi normal dan kembali mempekerjakan karyawan.

Sayang, realita yang terjadi tidak seperti itu. Bukannya menghasilkan perbaikan kondisi, krisis justru semakin parah. Dalam rentang tiga tahun, jumlah pengangguran bertambah banyak. Gene Smiley, profesor dari Marquette University menyatakan lewat tulisannya di Library of Economics and Liberty, pada tahun 1930 angka pengangguran mencapai 4 juta orang. Kemudian meningkat menjadi 6 juta pada tahun 1931, dan di tahun 1933 jumlahnya mengganas di sekitar 15 juta pengangguran.

Itulah periode dan masa-masa kelam sejarah kejatuhan ekonomi Amerika, yang hingga kini masih dikenang dan sering diceritakan. Lalu bagaimana Amerika mengatasi masa-masa kelam yang disebut Depresi Besar itu?

Baca lanjutannya: Cara Amerika Mengatasi Krisis Ekonomi Negaranya

Related

Money 835320590551957928

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item