Sejarah dan Asal Usul Film Porno di Jepang

Sejarah dan Asal Usul Film Porno di Jepang

Naviri.Org - Membicarakan film porno, mau tak mau kita harus menyebut Jepang, sebagai salah satu negara yang memproduksi film porno atau film dewasa dalam jumlah luar biasa. Di Jepang, film untuk dewasa disebut Japan Adult Video, yang populer dengan singkatan JAV.

Pemerintah Jepang memang melegalkan industri film porno, sehingga negara itu terus menghasilkan banyak film porno atau film JAV yang mengalir ke berbagai negara di dunia. Popularitas JAV bisa dibilang menyaingi film-film porno buatan Amerika atau Eropa.

Bagaimana sebenarnya asal usul film porno di Jepang, dan bagaimana sejarahnya hingga pemerintah Jepang melegalkan industri pornografi?

Ternyata, industri pornografi di Jepang telah dimulai ribuan tahun yang lalu, tepatnya sejak Zaman Edo (1603-1886). Kenyataan itu diungkapkan oleh Peter Payne, dalam bukunya, “The History of the Japanese Adult Industry, and 'That Pool'”.

Pada Zaman Edo, bentuk pornografi masa itu masih berupa lukisan-lukisan erotis dan seksual, yang disebut “Shunga” (Spring Pictures). Salah satu lukisan yang terkenal adalah "The Dream of Fisherman’s Wife” karya Hokusai. Lukisan itu juga kerap disebut “Naughty Tentacles”.

Seiring berkembangnya teknologi, khususnya dalam televisi, lukisan-lukisan erotis tersebut kemudian dialihkan ke video. Dalam tulisan “Chronology of Adult Video in Japan”, disebut bahwa pada 1960-an muncul beberapa industri film dewasa seperti Daiei, Nikkatsu, Shochiku, Toei, dan Toho.

Namun, di masa itu, film terbitan produsen-produsen tersebut hanya berfokus pada cerita atau drama, dengan tujuan untuk merangsang dan sedikit menunjukkan ketelanjangan atau pun adegan seks. Pada masa itu, film-film dewasa tersebut dikenal oleh masyarakat Jepang dengan istilah “pink film”.

Kemudian, pada 1971, film-film impor dari Amerika mulai merajalela di Jepang. Karena takut kalah saingan dengan film buatan Amerika, Takashi Itamochi, Presiden Nikkatsu, studio film besar tertua di Jepang, mengembangkan “pink film” sebagai salah satu upaya untuk menarik penonton.

Hasilnya, pada November 1971, studio Nikkatsu merilis dua seri film dewasa dengan adegan seks lebih banyak dibandingkan sebelumnya, yaitu seri “Roman Porno” dan seri “Apartment Wife”. Kedua seri tersebut dianggap sebagai film porno pertama di Jepang, karena lebih banyak menayangkan adegan seks dan ketelanjangan, dibanding film cerita atau drama pada umumnya.

Film yang dirilis oleh Nikkatsu pada era itu mampu menarik perhatian publik. Sebagaimana yang ditulis revolvy.com, tercatat hampir 70 persen masyarakat menyukai seri Roman Porno. Keberhasilan studio film Nikkatsu kemudian diikuti oleh Shintoho Eiga dan Millio Film. Berawal dari situlah, industri film porno mulai berkembang di Jepang, hingga sekarang.

Selain itu, Peter Payne menulis bahwa masyarakat Jepang memiliki kalimat ajaib yang sering mereka gunakan ketika melihat atau menonton film dewasa. Kalimat tersebut berbunyi “Shikata ga nai” atau “Sho ga nai”, yang artinya “tidak ada pilihan”. Maksudnya, kesukaan pada seks atau film porno merupakan hal yang normal, dan merupakan bagian dari masyarakat, sehingga tidak ada pilihan untuk tidak menonton.


Related

Insight 235888808740273263

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item