Mengapa Bagian Vital Pemain Film JAV Disensor?

Mengapa Bagian Vital Pemain Film JAV Disensor?

Naviri.Org - JAV adalah istilah untuk film dewasa Jepang, yang merupakan singkatan Japan Adult Video. Film-film dewasa produksi Jepang sangat terkenal di berbagai negara dunia, termasuk di Indonesia. Yang khas dari film JAV adalah adanya sensor yang menutupi atau memburamkan bagian-bagian vital pemainnya, khususnya bagian intim pria dan wanita.

Mengapa bagian-bagian vital pemain JAV harus disensor, padahal itu film dewasa yang tentu mempertontonkan ketelanjangan pemainnya? Lebih dari itu, bukankah pemerintah Jepang melegalkan film dewasa?

Di Jepang, industri film dewasa memang dilegalkan atau diizinkan oleh pemerintah. Melalui aturan Law Regulating Adult Entertainment Business, pemerintah secara legal formal mengizinkan industri film dewasa di Jepang, asalkan tidak ada paksaan terhadap para pemainnya.

Tetapi, meski industri film dewasa telah dilegalkan di Jepang, para produsen film dewasa tetap wajib menyensor alat vital laki-laki dan perempuan yang menjadi pemain film. Aturan itu terdapat dalam NEVA (Nihon Ethics of Video Association).

Asal usul NEVA dimulai pada tahun 1972. Pada waktu itu, film-film dewasa Jepang mulai melibatkan alat bantu seks dalam pembuatan film. Karena alat bantu seks belum terlalu dikenal, pada masa itu penggunaan alat tersebut dianggap sebagai kejahatan seksual. Latar belakang itu mendorong Setsu Kobayashi, profesor hukum dari Universitas Keio, untuk memprakarsai pembentukan lembaga yang memonitor penayangan film dewasa di Jepang. Organisasi itu pun lalu dibentuk dengan persetujuan para produser studio.

Lembaga tersebut dikenal dengan nama The Ethics of Adult Video (Seijin Bideo Jishu Kisei Rinri Shoudankai), yang kemudian berganti nama menjadi Nihon Ethics of Video Assosiation (NEVA) pada 1977.

Fungsi lembaga itu sama seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), yaitu melakukan sensor, dalam hal ini sensor terhadap alat vital para pemain film porno. Bila telah dilakukan sensor oleh NEVA, maka film itu dapat dikonsumsi oleh publik. Bila tidak, berarti ilegal. Karena hal itulah, bagian-bagian vital para pemain film JAV selalu disensor atau di-blur, sehingga tidak terlihat dengan jelas.

Lalu kenapa ada pula film-film JAV yang tidak menyensor bagian-bagian vital pemainnya? Seperti yang disebut di atas, perbedaan antara film JAV yang legal dan ilegal adalah adanya sensor tersebut. Jika ada sensor, artinya film itu legal (sah/resmi), karena telah melewati lembaga NEVA. Jika tidak ada sensor, artinya film itu ilegal, dan biasanya dikendalikan atau didistribusikan oleh Yakuza (mafia Jepang).

Baca juga: Carut Marut di Balik Industri Film Porno Jepang

Related

Insight 9004677462477585157

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item