Sejarah dan Asal Usul Pembayaran Tol Non-Tunai

Sejarah dan Asal Usul Pembayaran Tol Non-Tunai

Naviri.Org - Di Indonesia, saat ini mulai digalakkan penggunaan non-tunai untuk membayar tol. Jika dulu orang harus membayar uang secara manual pada petugas penjaga gerbang tol, sekarang mulai digalakkan penggunaan kartu yang menjadi alat pembayaran.

Dengan kartu tersebut, pengguna tol tidak lagi perlu membayar pada petugas, melainkan cukup menggesekkan kartu pada tempat yang disediakan. Begitu kartu yang digesekkan terbaca dengan benar—salah satunya terdapat saldo di dalamnya—maka pintu tol akan membuka otomatis. Teknologi ini juga sering disebut multi lane free flow (MLFF) alias pembayaran di pintu tol tanpa henti.

Teknologi transaksi tol tanpa henti ini telah lama dipikirkan kalangan akademisi. William S. Vickrey, ekonom asal Amerika Serikat pemenang hadiah Nobel di bidang Ekonomi, pada akhir dekade 1950-an merupakan sosok pencetus sistem pembayaran tol secara elektronik yang memungkinkan pengendara tak menghentikan laju kendaraannya saat bertransaksi di gerbang tol.

Vickrey, yang melakukan studi masalah transportasi di Washington DC, menyatakan perlunya otomatisasi secara elektronik pembayaran tol dengan memanfaatkan transponder yang dipasang pada setiap kendaraan.

Vickrey dalam jurnalnya berjudul “Pricing in Urban and Suburban Transport” menyatakan bahwa ia berharap harga transponder yang kelak dipasang pada tiap kendaraan tak lebih mahal dari $20 per unit. Penggunaan sistem otomatis ini berguna pula untuk memudahkan pemberlakuan pembedaan tarif tol antara jam sibuk dan waktu normal. Serta pembedaan tarif tol pada wilayah-wilayah tertentu. Namun, meski gagasannya lahir di AS, tapi penerapannya terjadi di luar Negeri Paman Sam.

Norwegia tercatat merupakan salah satu negara pertama yang menerapkan sistem pembayaran tol secara elektronik sejak 1986. Di Amerika Serikat, merujuk sebuah jurnal berjudul “Hitching a Ride: Every Time You Take a Drive, the Goverment is Riding With You” karya Benjamin Burnham, menyatakan bahwa implementasi pemikiran Vickerey baru diwujudkan pada suatu sistem pembayaran bernama IPass pada 1993 di Illinous, Amerika Serikat.

Kala itu jalan tol 1-355 North-South adalah tol pertama yang menerapkan teknologi ini. Sejak pertama diterapkan, penggunaan IPass di Amerika Serikat terbilang sukses. Pada awal 2005 lalu, diperkirakan terdapat 1,9 juta transponder IPass yang dipasang di berbagai kendaraan milik warga Amerika Serikat.

Selain IPass, Amerika Serikat juga memiliki varian lain bernama E-ZPass. E-ZPass merupakan sistem pembayaran elektronik yang digagas oleh 7 agensi tol independen yang tergabung dalam wadah bernama Interagency Group. E-ZPass kali pertama diimplementasikan di sebuah tol di New York bernama New York Thruway pada Agustus 1993. Pada awal 2005, E-ZPass telah digunakan oleh 16 juta pengendara.

Teknologi serupa IPass dan E-ZPass juga diterapkan di Singapura melalui Electronic Road Pricing System (ERP). ERP merupakan kelanjutan sistem pembayaran memasuki kawasan Central Business District (CBD). Sebelum penerapan ERP, pemerintah Singapura memiliki dua skema pembayaran bagi pengendara yang memasuki kawasan CBD. Dalam jurnal berjudul “Road Pricing Singapore’s Expereince” karya Chin Kian Keong, dua sistem tersebut ialah Area License Scheme (ALS) dan Road Pricing Schemes (RPS).

Konsep ALS kali pertama mengemuka pada 1973 guna meningkatkan kualitas transportasi di Singapura. ALS mewajibkan para pengendara membeli terlebih dahulu lisensi memasuki kawasan khusus di Singapura yang menerapkan sistem pembayaran tersebut. Sementara RPS merupakan implementasi ALS pada jalan tol yang mulai diterapkan pada 1995.

Di Indonesia, sebuah bank milik pemerintah merilis sebuah alat bernama e-Tollpass. Mirip sebagaimana konsep yang digagas Vickrey, e-Tollpass memungkinkan pengendara memasuki tol tanpa perlu menghentikan laju untuk melakukan transaksi pembayaran layanan tol. Ini sebangun dengan konsep MLFF yang kelak akan diimplementasikan pemerintah tahun depan.

Dalam kerjanya, e-Tollpass hanya mewajibkan pengendara untuk menurunkan kecepatan kendaraan pada titik 10 km/jam. Memanfaatkan kartu uang elektronik yang dipasang di e-Tollpass, secara otomatis, saldo akan berkurang ketika memasuki gerbang tol. Sayangnya, penerapan e-Tollpass terbatas pada gerbang tol yang telah didukung perangkat teknologi ini. e-Tollpass saat ini baru bisa digunakan di 18 gerbang tol yang tersebar di Jabotabek.

Secara umum, IPass, E-ZPass, ERP, maupun e-Tollpass merupakan bagian dari suatu sistem manajemen lalu-lintas bernama Electronic Toll and Traffic Management (ETTM). Transponder, in-road sensor, dan sistem komputer dengan berbagai tujuan spesifik, merupakan perangkat wajib guna mengimplementasikan sistem otomatisasi jalan tol ini.

Baca juga: Teknologi Super Canggih untuk Manusia Masa Depan

Related

Technology 2060660816609587746

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item