Biografi Mata Hari: Mata-mata Wanita Legendaris Dunia

Biografi Mata Hari: Mata-mata Wanita Legendaris Dunia

Naviri.Org - Wanita itu terlahir di Belanda dengan nama Margaretha Zelle, di Leeuwarden, Belanda. Ia adalah anak sulung dari empat bersaudara. Ayahnya, Adam Zelle, adalah pengusaha minyak yang sempat sukses tetapi kemudian mengalami kebangkrutan pada 1889. Ayah dan ibunya, Antje van der Meulen, kemudian bercerai. Dua tahun setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya menikah lagi di Amsterdam pada 9 Februari 1893.

World Heritage Encyclopedia menjelaskan, pada saat Zelle berusia 18 tahun, ia mencoba peruntungan dengan pergi ke Hindia Belanda. Pemicunya adalah iklan di koran yang menyebutkan seorang tentara KNIL Belanda, Kapten Rudolf MacLeod, yang hendak bertugas di Hindia Belanda sedang mencari seorang istri. Ia kemudian menikah dengan kapten tersebut pada 11 Juli 1895. Pernikahan itu dengan cepat membawanya ke kelas sosial yang lebih tinggi.

Mereka pergi ke Hindia dengan menggunakan kapal SS Prinses Amalia pada 1897. Kapal yang sama juga dipakai Eugene Dubois, ahli anatomi yang kemudian menemukan fosil pithecantrophus erectus, untuk berlayar ke Hindia Belanda pada 1887 sebelumnya. Mereka kemudian tinggal di Malang, Jawa Timur. Mereka dikaruniai dua anak, Norman-John MacLeod dan Louise Jeanne MacLeod.

Kehidupan rumah tangga Zelle tidak berakhir bahagia. Zelle mendapati suaminya yang terpaut usia 20 tahun lebih tua menjadi seorang pemabuk berat. Suaminya juga melakukan banyak skandal dan sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Namun Zelle tidak diam begitu saja menghadapi keadaan yang menekan itu. Alih-alih nrimo, ia kemudian diketahui menjalin hubungan dengan perwira Belanda lain bernama van Rheedes.

Pada periode inilah, Zelle mulai belajar tradisi Jawa secara intensif dan mulai suka mengenakan kebaya. Berikutnya, dia bergabung bersama sanggar tari lokal dan mengikuti drama tari Jawa. Pada 1897, ia mendapat nama panggung dari bahasa Melayu, Mata Hari. Encyclopedia Britannica juga menyebutkan, selain di Jawa, Zelle juga pernah tinggal di Sumatera.

Zelle memulai karier sebagai pemain sirkus saat memutuskan pindah ke Paris pada 1903. Saat itu, ia menggunakan nama Lady MacLeod. Sembari menyambung penghasilan untuk penghidupan, ia juga berpose sebagai model artis.

Zelle menjadi terkenal karena tarian eksotisnya, yang terinspirasi dari pelatih yang mengajarinya seni tari di Hindia Belanda. Ia sezaman dengan tarian yang dibawakan Isadora Duncan dan Ruth St. Denis, dua tokoh penting dalam tarian modern abad ke-20 yang memadukan budaya Asia dan Mesir.

Pada 1905, saat sudah mantap tinggal Eropa, Zelle diundang menari oleh Emile Guimet, pemilik sebuah museum seni oriental. Guimet mendorong Zelle untuk mengadopsi nama panggung yang lebih menggugah dan menarik dibanding nama Lady Gresha McLeod. Sejak itulah nama Mata Hari yang pernah ia dapatkan saat di Hindia secara permanen melekat pada sosoknya.

Penampilan itu sekaligus menjadi titik balik popularitas Mata Hari. Penonton banyak yang terpikat oleh gerak-geriknya di atas panggung. Tarian yang dibawakannya menguarkan eksotisme Timur yang menggoda orang-orang Eropa. 

History Channel menyebutkan, semasa tur keliling Eropa dengan sajian tariannya, ia menceritakan kisah bagaimana ia dilahirkan di sebuah kuil suci di India dan belajar tarian kuno dari seorang pendeta Hindu yang kemudian memberinya nama Mata Hari. Tentu saja itu hanya cerita panggung, namun itulah yang ia kemukakan dalam berbagai kesempatan pentas di berbagai rumah-rumah opera, dari Rusia hingga Prancis.

Seiring waktu berjalan, Mata Hari tidak hanya menjadi seorang penari. Ia menjadi perempuan yang sangat diinginkan oleh banyak orang. Situasi inilah yang membawanya kepada dunia prostitusi kelas atas.

Pecahnya Perang Dunia I justru menambah jam terbangnya sebagai bagian kelas elit Eropa. Ia makin akrab dengan berbagai perwira militer berpangkat tinggi, pejabat pemerintahan dan diplomat dari berbagai negara.

Dengan menggunakan identitas warga Belanda, Mata Hari mampu melintasi batas-batas negara dengan bebas karena Belanda pada saat Perang Dunia I bersikap netral. Untuk menghindari medan perang langsung, dia melakukan perjalanan antara Prancis dan Belanda melalui Spanyol dan Inggris.

Kedekatan Mata Hari dengan para petinggi setempat juga membawanya kepada tawaran menjadi agen rahasia untuk Prancis. The Guardian menyebutkan, pada 1915, dia meminta izin mengunjungi kekasihnya, Kapten Vladimir Maslow, seorang pilot asal Rusia yang bekerja untuk Prancis di sebuah rumah sakit di Den Haag. Pejabat Prancis memfasilitasi keberangkatannya dengan imbalan perjanjian untuk memata-matai Jerman.

Pada Februari 1917, pihak berwenang Prancis menangkap Mata Hari karena tuduhan melakukan spionase. Mata Hari dijebloskan di penjara St. Lazare di Paris. Ia dituduh bertanggung jawab atas kematian ribuan tentara, karena mengungkap rincian senjata dari pihak sekutu Prancis.

Versi lain menyebutkan, Jerman berhasil menjebak Mata Hari. Jerman diduga mengetahui kalau Mata Hari adalah mata-mata Prancis. Jerman lantas menjebaknya dan dengan sengaja membuat pesan palsu yang melabelinya sebagai mata-mata Jerman. Prancis termakan jebakan itu, dan pecaya Mata Hari sebagai agen ganda Jerman. Hal ini berujung dengan dijebloskannya Mata Hari ke penjara, hingga berujung putusan hukuman mati.

Selama interogasi panjang yang dilakukan Kapten Pierre Bouchardon, seorang jaksa militer, Mata Hari yang telah menjalani kehidupan palsu justru melanjutkan memberikan kecerobohan dan fakta tentang keberadaan dan aktivitasnya. Ia juga membuat pengakuan yang mengejutkan dengan mengatakan seorang diplomat Jerman pernah membayarnya 20.000 franc untuk mengumpulkan data intelijen dari perjalanannya yang sering ke Paris.

Tapi dia bersumpah kepada penyelidik bahwa dia tidak pernah benar-benar memenuhi tawaran tersebut dan selalu tetap setia kepada Prancis. Ia juga mengaku hanya pernah menerima kompensasi uang ketika Jerman mengganti barang-barangnya yang hilang di kereta saat penjaga perbatasan Jerman mengganggunya.

“Seorang pelacur, saya akui itu. Seorang mata-mata (untuk Jerman), saya tidak pernah!” kata Mata Hari kepada jaksa.

Ketika Mata Hari mengakui bahwa seorang perwira Jerman membayarnya untuk layanan seksual, jaksa Prancis menggambarkannya sebagai uang spionase.

15 Oktober 1917, seratus tahun yang lalu, ia menghadapi maut. Mengenakan jas biru dan bertopi, Mata Hari datang ke tempat eksekusi bersama menteri dan dua biarawati. Ia mendatangi tempat duduk eksekusi yang telah disediakan, membuang penutup mata, dan memberikan tanda cium jarak jauh kepada tentara eksekutor. Mata Hari meninggal di depan regu tembak.

Misteri terus melingkupi kehidupan Mata Hari, terutama dugaan sebagai agen ganda. Kisahnya telah menjadi legenda yang masih mengungkit rasa ingin tahu. Kisah hidupnya telah melahirkan banyak biografi dan penggambaran sinematik melalui film Mata Hari pada 1931. Sosoknya diperankan oleh Greta Garbo, sedangkan Ramon Novarro menjadi Letnan Alexis Rosanoff.

Fries Museum di Leeuwarden, Belanda, memamerkan "Mata Hari Room". Termasuk dalam pameran tersebut adalah dua dari scrapbooks pribadinya, dan karpet bordir oriental dengan jejak tari kipasnya. Terletak di kota asal Mata Hari, museum ini terkenal untuk penelitian mengenai kehidupan dan karier warga Leeuwarden yang terkenal sebagai mata-mata legendaris dalam sejarah abad 20.

Baca juga: Kisah Pelayaran Christopher Columbus Mencari Dunia Baru

Related

Insight 1260988660840059243

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item