Hikayat dan Kisah Prostitusi di Stasiun Senen Jakarta

Hikayat dan Kisah Prostitusi di Stasiun Senen Jakarta

Naviri.Org - Stasiun Senen memang memuat banyak cerita, legenda, sejarah lisan sampai folklore. Soal prostitusi Senen, dalam novel biografis Chairil (2016) yang ditulis Hasan Aspahani, legenda puisi Indonesia, Chairil Anwar mengenal kupu-kupu malam bernama Adhesi.

Begitupun legenda seni rupa, Sudjojono, seperti dalam biografi Sudjojono dan Aku (2013), yang ditulis Mia Bustami (istri Sudjojono), juga beririsan dengan hidup Adhesi. Nama Adhesi bahkan diganti menjadi Miryam. Adhesi sempat dibawa pulang Sudjojono, yang kala itu jadi guru gambar, namun Adhesi tak betah dan kembali ke dunia remang-remang di Senen. 

Alwi Shihab, dalam bukunya Maria van Engels Menantu Habib Kwitang (2006), menulis, “Pasar Senen pernah menjadi terkenal pada pertengahan 1950an sampai akhir 1960an. (Namun) bukan karena banyaknya orang berbelanja.”

Agak aneh. Padahal Pasar Senen sejak dulu memang pasar tradisional. Rupanya, “orang (laki-laki) lebih banyak datang ke Planet Senen, terutama pada malam hari, karena masa itu Planet Senen dan sekitarnya menjadi tempat pelacuran terbesar di Jakarta.”

Di sana, “para WTS atau Wanita P tinggal di bangunan yang terdiri dari kotak sabun dan kardus. Di pinggir-pinggir rel. Malah gerbong-gerbong barang yang diparkir di Stasiun Senen, dijadikan tempat ngamar,” tulisnya. Tak lupa, dalam bukunya itu Alwi juga menulis kejadian lucu. Pernah ada yang ngamar dengan PSK Senen di gerbong yang sedang parkir. “Tiba-tiba gerbongnya langsir dan baru berhenti di Stasiun Jatinegara.” 

Keramaian Senen sebagai tempat prostitusi kini sudah tak seperti dulu. Selain Senen dan Jatinegara, di sekitar rel dekat stasiun Beos pun ramai dengan kupu-kupu malamnya. Jika kereta tak lagi melintas, di sekitar rel pun jadi ajang tawar menawar antara si kupu-kupu malam dengan hidung belang yang ngiler.

Geliat kupu-kupu malam di sekitar stasiun, tak hanya bisa ditemukan di Jakarta. Lokalisasi kupu-kupu malam di beberapa kota di Jawa bahkan tak jauh dari stasiun. Kota Bandung punya Saritem. Dulunya, ada juga Gang Coorda, yang berubah menjadi Gang Kejaksaan. Namun, jarak antara Saritem dengan Stasiun Bandung Hall sekitar 1,4 km. Terhitung tidak jauh.

Prostitusi dan rel kereta api agaknya saling berkaitan dalam perkembangan kota-kota di Jawa. Dalam Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis: Sebuah Wisata Sejarah (2006) karya Sudarsono Katam, prostitusi perempuan berparas cantik yang kadang disebut “Mojang Bandung” makin kesohor di kalangan laki-laki hidung belang zaman kolonial setelah dibukanya jalur rel kereta api dari Jakarta ke Bandung dan dari Bandung ke Surabaya pada 1884.

Selain Bandung dan Jakarta, di Surabaya ada Dolly dan Wonokromo. Dunia prostitusi di pinggir rel, Surabaya ada di sekitar stasiun Wonokromo dan stasiun Semut. Namun keduanya tak sejaya Dolly di masa lalu.

Kota lain yang memiliki tempat prostitusi tak jauh dari rel adalah Yogyakarta. Pasar Kembang yang akrab disingkat Sarkem bahkan lebih dekat dengan rel, termasuk cukup dikenal. Meski pun kalah gemerlap dari Dolly di Surabaya. Sarkem dulu dikenal sebagai Mbalokan. Riwayatnya pun cukup tua. Ada yang menyebut sudah ada sejak 1818. Sebelum kereta api ada di Yogyakarta.

Baca juga: Asal Usul Banyaknya Prostitusi di Dekat Rel Kereta Api

Related

Insight 5959531210738566225

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item