Sejarah dan Perkembangan Badut, dari Lucu Sampai Mengerikan

Sejarah dan Perkembangan Badut, dari Lucu Sampai Mengerikan

Naviri.Org - Di dunia hiburan, badut adalah sosok populer, karena keberadaannya sering menjadi pelengkap. Di pesta ulang tahun anak-anak, misalnya, badut memimpin keceriaan. Di acara-acara karnaval, badut menjadi obat kebosanan. Di swalayan-swalayan, saat menyambut suatu hari besar, badut juga berperan dalam memeriahkan suasana. Namun, belakangan, badut tidak lagi lucu dan menyenangkan, namun juga mengerikan.

Dalam sejarah, badut adalah penghibur dalam sirkus. Ia mudah dikenali karena dandanannya yang meriah. Penampakan yang paling populer hingga sekarang adalah tipe auguste; mata dan mulut diberi lingkaran warna putih, dan hidung dicat merah. Joseph Grimaldi adalah orang yang dianggap meletakkan badut sebagai peran tak terpisahkan dalam industri hiburan dan sirkus pada awal 1800-an.

Badut kemudian kerap menjadi pusat kelucuan. Karakter badut digambarkan ceroboh, berdandan konyol, kadang canggung menghadapi orang lain. Selain memiliki arti “badut”, kata "clown" dalam Bahasa Inggris bisa merujuk pada "seorang yang bodoh, atau tidak kompeten."

Namun, citra badut berubah sejak munculnya karakter-karakter badut jahat. Dalam hal itu, yang sering dianggap sebagai dalangnya adalah Stephen King. Novel It, karya King, dianggap sebagai awal mula lahirnya citra badut jahat (evil clown).

Setelah karakter Pennywise (badut jahat dalam novel It) sukses merubuhkan citra badut yang lucu dan menghibur, mulai bermunculan karakter badut jahat lain. Baik di film The Clown at Midnight (1998), Camp Blood (1999), Clown (2014), hingga karakter pembunuh berantai Twisty the Clown yang muncul di musim keempat serial American Horror Story (2014-2015).

Ketakutan pada badut semakin nyata, dan dunia psikologi mulai menyadari itu. Ada istilah coulrophobia untuk menyebut rasa takut pada badut. Fobia ini masuk dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV). Coulrophobia masuk dalam kategori fobia spesifik dengan kode 300.29. Bisa dibilang, fobia ini lahir karena banyaknya orang yang takut pada badut. Terutama anak-anak.

Pada 2008, sekelompok peneliti dari Universitas Sheffield bertanya pada 250 anak berusia 4 hingga 16 tahun, “Bagaimana tanggapanmu tentang badut?”

Dr Penny Curtis, salah satu peneliti, mengatakan, "Semuanya tidak suka badut. Beberapa dari mereka bahkan menganggap badut mengerikan."

Ditambah dengan berbagai teror badut yang terjadi pada 2016, serta penggambaran pada film, badut di era sekarang sudah tak lagi menjadi ikon keceriaan dan kelucuan. Ia menjelma sebagai perwujudan ketakutan, juga kondisi kejiwaan yang ditutupi. Dandanan badut kerap dianggap topeng yang menutupi kondisi kejiwaan sebenarnya.

Linda Rodriguez McRobbie, dari majalah Smithsonian, memberi contoh sang badut legenda itu sendiri, Joseph Grimaldi. Di sekitar dunia panggung, juga penggemarnya, Grimaldi adalah orang yang ceria. Sebuah simbol komedi dan kelucuan.

"Tapi kehidupan nyata Grimaldi bukan komedi," tulis McRobbie.

Grimaldi menghadapi banyak tragedi dalam hidupnya. Ayahnya seorang tiran. Istri pertamanya meninggal saat melahirkan. Anaknya mengikuti jejak Grimaldi sebagai badut, dan mati gantung diri karena kecanduan alkohol. Karena tragedi yang harus dipupur oleh tawa itu, Grimaldi pernah membuat guyonan yang dikenang hingga sekarang.

"Aku selalu muram dan cemberut sepanjang hari, tapi di malam hari aku selalu bisa membuat kalian tertawa."

Penggambaran badut yang menyeramkan kemudian diprotes oleh para badut profesional. Dalam wawancara bersama The Hollywood Reporter, Glenn Kohlberger, Presiden Clowns of America International, mengeluhkan bagaimana media menjadikan badut sebagai sosok yang menyeramkan. Jumlah badut di organisasinya memang terus berkurang. Pada 2004, ada sekira 3.500 badut di organisasinya. Jumlah itu berkurang cukup drastis sekarang, hanya tersisa sekitar 2.500 badut profesional.

"Hollywood mencari uang dengan membuat hal biasa jadi sensasional. Orang Hollywood bisa mengubah sesuatu yang baik dan tulus menjadi mimpi buruk," ujar Kohlberger. "Dan kami sama sekali tidak mendukung apa pun yang melahirkan ketakutan pada badut."

Protes bergaung, tapi Hollywood mana mau peduli. Selama ketakutan dan kengerian masih bisa jadi tambang uang, mereka akan terus melakukannya.

Baca juga: Kisah, Sejarah, dan Filosofi Kuda Lumping

Related

Insight 4516824802961882693

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item