Mengail Ide dari Gelontoran Uang di Dunia Startup

Mengail Ide dari Gelontoran Uang di Dunia Startup

Naviri.Org - Startup atau usaha rintisan membutuhkan ide cemerlang, yang sekiranya bisa diubah menjadi bisnis menguntungkan. Startup, hakikatnya, adalah penyatuan ide yang tepat dengan teknologi, yang mampu menjawab kebutuhan banyak orang. Ketika hal itu tercapai, maka bisnis pun bisa diciptakan. Sementara mengenai modal, startup bisa mendapatkan modal dari para investor yang bersedia menanamkan modalnya.

Tapi tentu para investor juga akan menilai terlebih dulu apakah suatu startup layak atau tidak. Karena, bagaimana pun, para investor juga berharap keuntungan. Jika suatu startup dinilai menjanjikan keuntungan layak, para investor pun akan menggelontorkan uangnya. Kenyataannya, tren investor terkini memang cenderung meningkat di dunia startup.

Jumlah aliran modal dari investor bagi startup-startup di dunia nilainya kian meningkat seiring waktu. Investasi besar dalam beberapa tahun ke belakang yang biasanya di angka $500 juta, tapi kini sudah bisa mencapai $1 miliar untuk sekali investasi.

“Dunia tak pernah melihat iklim investasi seperti ini,” ucap Bill Gurley dari Benchmark yang telah berinvestasi di Uber pada Bloomberg. “Sangat susah memperkirakan berapa banyak uang di luar sana (yang dibelanjakan investor bagi startup),” katanya menambahkan.

Tren hari ini memang mengindikasikan bahwa nilai investasi para investor semakin tak terbayangkan. Akibatnya beberapa startup memiliki valuasi dengan nilai melebihi nilai valuasi perusahaan-perusahaan tersohor yang telah ada sebelumnya. Uber memiliki valuasi sekitar $69 miliar.

Angka itu jauh lebih tinggi daripada valuasi gabungan antara General Motors dan Fiat Chrysler, dua perusahaan otomotif ternama di AS. Airbnb memiliki valuasi sekitar $30 miliar. Valuasi tersebut menjadikan Airbnb sebagai startup bernilai paling top dibandingkan hotel manapun di seluruh dunia.

Namun, semakin banyaknya startup teknologi kenyataannya hanya di bidang itu-itu saja, dunia kini membutuhkan startup-startup yang berbeda. “Saya yakin saya akan bertemu dengan beberapa pengusaha yang akan melakukan sesuatu yang tidak terduga dan inovatif,” ucap Roelof Botha dari Sequoia Capital.

Dalam sebuah pagelaran bertajuk Startup World Cup, apa yang diutarakan Botha sedikit mendekati kenyataan. Dari berbagai startup yang tampil mempresentasikan produknya masing-masing, ada kecenderungan perubahan tren atas produk yang diciptakan oleh startup.

Selama ini startup dikenal dengan yang berbasis teknologi dan produknya menyasar massa. Kini, ramai-ramai startup membuat produk dengan segmen yang sangat spesifik atau bahkan tidak menyasar segmen masyarakat umum melainkan segmen bisnis.

iGrow, pemenang kompetisi Startup World Cup regional Indonesia, merupakan startup investasi di bidang pertanian. Dengan angka rupiah tertentu, hanya dengan berselancar di ponsel pintar, penggunanya bisa berinvestasi di bidang pertanian. iGrow, menyasar segmen yang sangat spesifik. Orang-orang yang melek investasi dan paham seluk beluk dunia pertanian.

Selain iGrow, ada pula startup bernama Eresto. Eresto menyediakan platform bagi pengusaha di bidang kuliner. Dengan memanfaatkan layanan yang disediakan Eresto, pengelolaan restoran bisa mudah dilakukan. Eresto, menyasar segmen bisnis dalam mengembangkan produknya.

Namun, atas semakin banyaknya orang yang tergiur mendirikan startup, menjadi beda terutama soal produk atau layanan adalah keharusan. Bila tidak, mereka hanya akan menjadi pengekor, dan menjadi pertanyaan apakah akan menarik sumber modal?

Baca juga: Ekspor Mobil Indonesia, dan Persoalan Pajak yang Mahal

Related

Insight 4309796876371097284

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item