Efek Rumah Kaca dan Bumi yang Menuju Kiamat

Efek Rumah Kaca dan Bumi yang Menuju Kiamat

Naviri.Org - Efek rumah kaca adalah istilah yang populer beberapa waktu lalu, seiring meningkatnya pembahasan mengenai pemanasan global. Meski urusan pemanasan global masih menjadi pro kontra sebagian kalangan, namun tak bisa dipungkiri bahwa bumi memang sedang menghadapi masalah akibat tingginya karbon dioksida yang dihasilkan. Karbon dioksida itulah yang kemudian menciptakan efek rumah kaca, yang hasil akhirnya mendorong bumi pada jurang kehancuran

Peradaban manusia yang makin modern memang menghasilkan kenyataan yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan di masa lalu. Sebagai contoh, makin banyaknya kendaraan menjadikan kebutuhan bahan bakar semakin meningkat. Padahal, bahan bakar fosil menghasilkan polusi yang memicu pemanasan global. Belum lagi tingginya konsumsi listrik untuk berbagai keperluan, dari kipas angin sampai AC, dari televisi sampai lemari es.

Bahan bakar fosil menjadi problem dunia, karena emisi yang dihasilkan mencemari udara di bumi dan memicu pemanasan global. Menjelang berakhirnya 2017, jumlah emisi gas karbondioksida global sudah menyentuh angka 37 miliar ton, menurut laporan dari Global Carbon Report.

Para ilmuwan dari 57 institusi akademik yang terlibat dalam penelitian tersebut memproyeksikan pertumbuhan emisi tahun 2017 sebesar dua persen dari data tahun 2016, dan diperkirakan terus meningkat pada 2018 nanti.

Kabar ini tentu buruk, mengingat dalam tiga tahun terakhir sebenarnya pertumbuhan emisi CO2 global diklaim para peneliti iklim tergolong rendah. Bahkan jika ditotal dari emisi yang disebabkan oleh pembukaan lahan, jumlah CO2 yang lepas ke bumi mencapai 41 miliar ton.

Jurnal sains Nature terbitan Senin (13/11) kemarin menyebut, kenaikan emisi CO2 global sebesar dua persen dipengaruhi oleh peningkatan penggunaan batubara di Cina, dan juga sejumlah peningkatan kecil di Amerika Serikat yang secara akumulatif mendorong penyebab utama pertumbuhan baru emisi karbon dioksida.

Di Cina, emisi yang dihasilkan sebesar 10.5 miliar ton menyumbang hampir 26 persen dari output karbondioksida dunia. Penyebabnya, curah hujan yang menurun pada tahun ini di Cina membuat pembangkit listrik tenaga air tidak berfungsi maksimal sesuai kapasitas yang ditargetkan. Penggunaan batu bara yang termasuk dalam bahan bakar fosil pun kembali dilirik.

Tren lonjakan di tahun 2017 kali ini mengecewakan para ilmuwan iklim. Dalam tiga tahun masa stabil pertumbuhan emisi gas karbondioksida, mereka memprediksi kemajuan yang nyata akan penggunaan energi terbarukan seperti matahari dan angin. Mereka juga mengharapkan kepatuhan negara-negara dunia untuk peduli masalah pemanasan global yang disebabkan pemakaian bahan bakar fosil, mulai dari minyak bumi, batubara, dan gas alam.

Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Eropa dan Amerika Serikat mengalami penurunan emisi gas karbondioksida pada 2017, masing-masing 0,2 dan 0,4 persen. Meski tahun ini meningkat dua persen, pertumbuhan emisi di India yang berpenduduk miliaran ditetapkan menurun, jika dibandingkan rata-rata enam persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

“Berita bahwa emisi meningkat setelah absen tiga tahun merupakan lompatan besar ke belakang bagi manusia,” kata Amy Luers, selaku direktur eksekutif Future Earth yang turut mensponsori Global Carbon Report. Menurutnya, kenaikan dan penggunaan emisi harus segera mencapai titik puncak serta menurun mendekati titik nol pada tahun 2050 mendatang.

Peran Ilmuwan dan pemerintah dunia dalam menjaga pemanasan global sejatinya makin dikejar waktu seiring target kenaikan suhu global yang tidak boleh melampaui dua derajat Celcius, bahkan jika perlu tidak sampai mendekati 1.5 derajat Celcius.

Corinne Le Quéré, peneliti utama dan direktur Tyndall Centre for Climate Change Research, di Uni Emirat Arab, turut menekankan bahwa tingkat penggunaan gas dan minyak bumi harus dipangkas secara drastis. Penurunan penggunaan batu bara dinilai tak cukup.

Kondisi 2017 masih diperparah dengan raibnya El Nino yang berperan memboyong banyak curah hujan ke sejumlah kawasan. Walhasil, menurut laporan Carbon Brief, tahun ini diproyeksikan jadi tahun terpanas kedua setelah 2016.

Ilmuwan iklim. Michael Mann dari Penn State University di AS. punya pendapat berbeda dalam menanggapi laporan Global Carbon Report. Ia mencatat bahwa kenaikan emisi yang diproyeksikan dua persen masih relatif kecil di tengah ketidakpastian data. Meski begitu, penelitian yang dianggapnya bersifat otoritatif ini juga mendesak agar diperhatikan.

“Bagi saya, mereka tergesa-gesa menafsirkan lonjakan di tahun 2017. Sulitkah kita menunggu sampai angka yang sebenarnya masuk dan bisa dianalisis?” ungkapnya seperti dilansir dari The Guardian.

Mission 2020

Christiana dan timnya meluncurkan Mission 2020, sebuah kampanye kolaboratif untuk mendesak penurunan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020 mendatang.

Dalam kampanye perdananya di KTT G20, Mission 2020 mengimbau agar para kepala pemerintahan memperhatikan emisi gas rumah kaca, sehingga iklim dunia mencapai titik baliknya pada tahun 2020. Mengejar target agar suhu tidak melampaui dua derajat Celcius menjadi prioritas utama.

Kabar terbaru, sebanyak 15.000 ilmuwan dari 184 negara sepakat menandatangani surat peringatan bahwa planet bumi sedang menggali kuburnya sendiri. Dalam surat berjudul “World Scientists’ Warning to Humanity: Second Notice”, mereka berseru agar kerusakan yang dampaknya “tidak dapat dipulihkan lagi” dihentikan sebelum semuanya terlambat.

Surat ini disebut-sebut sebagai “peringatan kedua”, karena 25 tahun lalu para penerima Nobel dan ilmuwan menandatangani surat serupa.

“Kita kembali menengok tren dan mengevaluasi respons manusia kelak dengan mengeksplorasi data yang ada,” terang Thomas Newsome, seorang peneliti di Deakin University dan The University of Sydney. Dari sembilan area perhatian yang disebut, hanya satu yang mengalami perbaikan, yaitu pengurangan bahan kimia yang dapat merusak lapisan ozon.

Dalam 25 tahun terakhir sejak surat peringatan pertama dikeluarkan, para ilmuwan menyoroti sejumlah tren negatif yang dapat menjadi faktor percepatan kehancuran bumi, misalnya: 26 persen persediaan air tawar berkurang, hilangnya hampir 300 juta hektar lahan hutan, penurunan 29 persen jumlah mamalia, reptil, amfibi, burung, dan ikan, dan akhirnya peningkatan 75 persen jumlah zona yang tidak dapat dihuni spesies laut.

Surat peringatan ini dikeluarkan dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bonn, bersamaan dengan dirilisnya data kenaikan emisi karbondioksida tahun ini.

Planet bumi dengan segala isinya telah mengalami berbagai perkembangan dan kehancuran akibat proses alamiah. Tapi ledakan populasinya dibanding makhluk hidup lainnya yang pernah ada, tampaknya kian mempercepat proses kehancuran bumi.

Baca juga: Traveling dan Masalah Tingginya Karbon Dioksida  

Related

Insight 9143987543595336018

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item