Media Sosial dan Ibu-ibu yang Tidak Bahagia

 Media Sosial dan Ibu-ibu yang Tidak Bahagia

Naviri.Org - Media sosial yang saat ini telah menjadi bagian hidup banyak orang bisa memberi manfaat, juga bisa memberi masalah. Ketidakbahagiaan adalah salah satu masalah yang bisa timbul.

Di Facebook, misalnya, kita tentu sudah biasa menemukan ibu-ibu atau para wanita yang mengunggah foto-foto anaknya yang masih balita, atau foto-foto keluarganya yang tampak bahagia. Satu wanita menggunggah foto semacam itu, wanita lain pun mengunggah hal yang sama—memamerkan keceriaan anaknya yang masih balita, atau senyum bahagia keluarganya.

Disadari atau tidak, hal semacam itu kemudian menjadi semacam persaingan diam-diam. Satu wanita ingin tampak lebih bahagia dibanding wanita lain. Yang menjadi masalah, “tampak bahagia” tidak berarti “benar-benar bahagia”.

Studi yang dilakukan oleh peneliti di Brigham Young, Illinois, dan Universitas Loyola, menemukan bahwa tren ini semakin menjadi masalah. Studi yang oleh para peneliti disebut sebagai 'iMom Project' ini mempelajari 721 ibu dan pola penggunaan media sosial, serta gaya pengasuhannya.

Berdasarkan kebiasaan mereka bermedsos dan reaksi yang ditimbulkannya, para peneliti memperkuat hubungan antara iMoms dan pola asuh yang komparatif ini. Menurut temuan mereka, memasang status di media sosial tentang anak-anak dan pola asuh membuat seorang ibu melakukan perbandingan.

Lingkaran setan pun tercipta: Ketika seorang ibu melihat sebuah status dari ibu lain, dia membandingkannya dengan gaya pengasuhannya sendiri dan status tentang keluarganya sendiri sebagai hasilnya, yang menciptakan kesempatan lain untuk perbandingan.

Seperti sudah menjadi fitrahnya, orang cenderung membagikan cerita versi terbaik tentang diri mereka dan kehidupan keluarga mereka. Misal hanya memasang status dan foto tentang anak balitanya yang tersenyum, dan bukan tentang si balita yang suka berteriak-teriak di media sosial, dan hal ini menciptakan citra publik yang tidak realistis.

Terutama di area pengasuhan yang kompleks, di mana tidak ada seorang pun yang benar-benar ahli, sangat mudah bagi seorang ibu untuk merasa 'kurang' ketika lini masa media sosialnya dibanjiri cerita tentang anak-anak yang berperilaku sempurna dan pengalaman mengasuh anak yang tampaknya mudah dilakukan.

Tak heran jika para ibu mungkin akan bertanya-tanya, mengapa mengasuh anak tampak sangat mudah bagi orang lain, namun terasa sangat sulit bagi mereka. Percayalah, bukan hanya Anda yang merasakan hal itu. Karena studi telah membuktikan bahwa banyak ibu lain di luar sana yang merasakan hal sama seperti Anda.

Namun, ini tidak berarti Anda tidak boleh mengunggah konten seputar anak Anda di media sosial, atau merasa kesal ketika orang tua lain melakukannya. Ini hanya perkara berperilaku dalam kerangka berpikir yang benar.

Jika Anda melakukan semuanya dengan bahagia untuk teman maupun keluarga, dan tidak bermaksud untuk bersaing, Anda akan jauh lebih puas dengan keluarga sendiri. Jangan jadikan proses membesarkan anak jadi sebuah tekanan besar.

Percayalah, menciptakan foto Instagram keren tak selalu harus dengan memaksakan senyum pada anak-anak demi pencitraan semata.

Baca juga: Kesehatan Mental Bisa Tercermin dari Postingan di Instagram

Related

Lifestyle 8742187813290470620

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item