Upaya Menyelamatkan Media Cetak dari Kepunahan

 Upaya Menyelamatkan Media Cetak dari Kepunahan

Naviri.Org - Sejak hadirnya internet, ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan manusia di dunia. Internet menyediakan nyaris semua hal yang dibutuhkan orang-orang di dunia, dan hal itu berdampak pada banyak hal pula yang sebelumnya ada. Salah satu yang terdampak akibat eksistensi internet adalah media cetak.

Dulu, untuk bisa mendapatkan berita terbaru, orang perlu membeli dan membaca koran. Tetapi, setelah ada internet, hal itu bisa digantikan internet, karena internet menyuguhkan juga berita sebagaimana yang diberikan koran. Bahkan, mengakses berita di internet jauh lebih praktis, karena tidak perlu kertas atau cetakan, tidak perlu keluar untuk membeli ke toko koran. Tinggal membuka komputer atau gadget, dan siapa pun bisa membaca berita apa pun yang diinginkan.

Kenyataan itu pun, perlahan-lahan menggerus pasar media cetak. Di Amerika, misalnya, jumlah koran harian terus turun hingga 100 koran sejak 2004. Kenyataan itu secara tak langsung memberitahu bahwa orang-orang yang semula membaca berita di media cetak kini beralih ke media online alias internet.

Fenomena media-media cetak di AS yang tutup juga terjadi di belahan dunia lainnya. Ini sangat beralasan, karena kenyataan dapur iklan media cetak secara global mengalami tren penurunan. Menurut data Statista, pendapatan iklan media koran 2009 masih mencapai $84 miliar, dalam tempo lima tahun pada 2014 turun menjadi $73 miliar, bahkan diperkirakan tahun ini hanya mencapai $70 miliar, lalu stagnan hingga beberapa tahun ke depan.

Kemerosotan pendapatan iklan media cetak secara global sedikit tercermin di Tanah Air. Berdasarkan data Nielsen Advertising Information Services 2015, pertumbuhan belanja iklan koran di kuartal IV-2015 memang tumbuh sebesar 1 persen, tapi secara angka pertumbuhan tahunan juga mengalami penurunan 4 persen. Pada periode Januari-Maret 2016 belanja iklan koran masih tumbuh sebesar 1 persen, sedangkan untuk majalah atau tabloid stagnan dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Namun, data Nielsen lain juga mengungkapkan ada penurunan jumlah koran di Indonesia. Pada 2012 misalnya, 102 koran dalam perhitungan lembagai survei ini, lalu hingga kuartal I-2016, hanya terhitung 99 koran di Indonesia. Tahun lalu beberapa media cetak seperti Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, dan Koran Tempo Minggu menghentikan penerbitannya. Selain koran, jumlah majalah juga menyusut. Pada 2012 masih ada 162 majalah, tapi pada kuartal I-2016 hanya tersisa 123 majalah.

"Iklan di media cetak tetap stabil walaupun ada saturasi industri yang menyebabkan jumlah media cetak berkurang," ujar Direktur Media Nielsen Indonesia, Hellen Katherina, dikutip dari situs resmi Nielsen.

Upaya Microsoft menjaga media cetak

Dalam upaya mencegah media cetak dari kemungkinan punah, Perusahaan teknologi Microsoft menggandeng perusahaan media Pioneer News Group. Mereka berkolaborasi mengelola media cetak dengan model bisnis yang baru.

Saking seriusnya, keduanya menawarkan tablet Windows 8 inci secara gratis, yang berisi berita versi digital kepada para pelanggan Pioneer, yang merupakan media asal Seattle, Amerika yang mencakup 23 koran dan mingguan di Washington, Oregon, Idaho, Montana, dan Utah.

Konten berita pada tablet sama persis yang diproduksi Pioneer dalam versi cetak. Bagi konsumen yang berlangganan selama setahun akan mendapat suplai koran edisi Minggu. Para pelanggan hanya akan dibebani biaya langganan sebesar $15 per bulan atau sekitar Rp203 ribu.

Mereka juga mencoba melengkapi upaya digitalisasi produk dengan memberikan sebuah aplikasi bernama uReporter. Aplikasi ini diciptakan agar para pembaca ikut berpartisipasi melaporkan berita dari lapangan. Model bisnis ini memberi peluang kepada pelanggan agar tidak hanya pasif sebagai pembaca tetapi juga aktif dalam berkontribusi pada korannya.

"Orang masih membutuhkan koran sebagai sumber informasi dan ini masih berharga," kata CEO Pioneer, Eric Johnston, seperti dikutip dari laman resmi Microsoft. "Jika kita tetap bisa melibatkan pembaca, di sanalah cara koran mempertahankan dirinya sebagai bagian penting dari masyarakat.”

Kolaborasi Microsoft dan Pioneer pada bisnis media cetak bisa dibilang sangat berani. Alasannya, catatan dari Pew Research Center, di Amerika saja jumlah koran harian terus turun hingga 100 koran sejak 2004. Di sisi lain, beralihnya pembaca ke berita berformat digital tentu berpengaruh kepada porsi kue iklan media cetak.

Langkah berani Microsoft dan Pioneer untuk membangun model bisnis baru media cetak perlu diapresiasi dalam menghadapi kenyataan kondisi ceruk iklan media cetak global yang meredup. Hanya waktu yang bisa membuktikan langkah keduanya bisa menuai sukses atau sebaliknya.

Baca juga: Peran Internet Dalam Menumbangkan Kekuasaan Soeharto

Related

Technology 7146662329794915607

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item