Persaingan Motor Listrik dan Motor Bensin

Persaingan Motor Listrik dan Motor Bensin

Naviri.Org - Kehadiran motor listrik yang digadang-gadang menggantikan motor berbahan bakar bensin, tentu membuat para produsen motor bensin ketar-ketir. Kenyataan itu sangat mudah dipahami. Bagaimana pun, selama bertahun-tahun para produsen motor bensin telah menguasai pasar otomotif di dunia, termasuk di Indonesia. Jika motor listrik benar-benar hadir di pasar otomotif, ada kemungkinan motor bensin akan tersingkir, apalagi tren ke arah itu memang tampak cukup jelas.

Pemerinah di beberapa negara mulai menggalakkan kendaraan listrik, dan mulai mengurangi kendaraan berbahan bakar fosil. Begitu pula Indonesia. Negeri ini bahkan telah mampu memproduksi motor listrik sendiri, yang dinamai GESITS.

GESITS, yang merupakan kependekan dari Garansindo Electric Scooter ITS adalah motor bersumber listrik, produk riset hasil kerja sama antara Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan PT. Garansindo Surabaya. GESITS lahir sebagai anak yang tak punya “orang tua” sempurna, karena harus menunggu payung hukum dan standardisasi motor listrik yang belum dikeluarkan kementerian perindustrian. Suara-suara sumbang dari produsen motor konvensional sempat menjadi warna dari kelahiran GESITS.

Namun, para pemain motor berbahan bakar bensin rupanya langsung bergerak. Sang pemimpin pasar, Honda, mulai ancang-ancang. Honda sempat menggelar program uji coba perilaku berkendara sepeda motor listrik, dengan menyiapkan dua unit sepeda motor listrik Honda EV Neo. Kegiatan berlangsung September-Oktober dengan melibatkan para pengguna sepeda motor di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Langkah Honda itu tentu sebuah sinyal kuat bagi kelahiran motor listrik yang dibuat skala massal dalam beberapa tahun mendatang, apalagi GESITS sebagai prototipe yang diklaim sebagai karya lokal juga berencana mulai memasarkannya tahun depan, dengan rentang harga Rp15 juta hingga Rp20 juta per unit.

Standardisasi motor listrik

Produsen motor konvensional mendorong adanya standardisasi yang jelas soal sepeda motor listrik, terutama yang menyangkut keselamatan. Misalnya motor listrik harus berbunyi. Karena, berdasarkan pengalaman di Cina—yang telah banyak menggunakan motor listrik—sering terjadi kecelakaan karena motor listrik tidak mengeluarkan suara.

Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah lama mengenal motor listrik, tapi tak berkembang, persoalan regulasi dan infrastruktur pendukung masih jadi pekerjaan rumah. Sepuluh tahun lalu, Indonesia sudah kedatangan berbagai motor listrik impor seperti Betrix, yang identik sebagai motor rumahan yang bobotnya sangat ringan, ada juga Emoto. Kemunculan sepeda listrik pada waktu itu belum jadi perhatian pemerintah.

Sekarang ini, kemunculan GESITS bakal menjadi taruhan keseriusan pemerintah soal pengembangan motor listrik. Regulasi soal program Low Carbon Emmision (LCE) untuk motor listrik memang masih disiapkan. LCE merupakan pengembangan dari Low Cost and Green Car (LCGC) yang menelurkan “mobil murah”, dasar aturannya sudah terbit sejak 1 Juli 2013 melalui Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No 33/M-IND/PER/7/2013 tentang Pengembangan Produksi Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau. 

Permenperin itu turunan dari program mobil emisi karbon rendah, yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 

Membangun industri motor listrik mau tak mau harus dimulai sejak dini, saat harga minyak masih jinak, sebelum kembali melesat dan membuat masalah baru di masa depan. Berdasarkan laporan World Oil Outlook 2016, dipacak di laman opec.org, asumsi harga minyak di masa depan ada peluang naik perlahan, pada 2040 misalnya harga minyak diasumsikan mencapai 92 dolar per barel. Ini memang masih asumsi, bisa benar atau juga salah. Namun, harga ini sudah dua kali lipat dari harga rata-rata saat ini. Secara fundamental, bahan bakar fosil pasti akan terbatas bahkan habis, sehingga dipastikan berdampak pada stok dan harga.

Dahlan Iskan pernah menyatakan, bahwa persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan datang lagi dan menghantui, bila tak ada upaya sejak dini. Belum lagi soal aspek polusi udara. Memulai teknologi masa depan sebuah pilihan penting, termasuk memberikan dukungan bagi kelahiran bayi industri massal bernama sepeda motor listrik.

Baca juga: Smartscooter, Skuter Listrik yang Pintar dan Menawan

Related

Business 5492500160614661844

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item