Masalah dan Pro-Kontra Kondom di Indonesia

Masalah dan Pro-Kontra Kondom di Indonesia

Naviri.Org - Kondom dikenal sebagai salah satu sarana atau alat kontrasepsi. Namun, kondom juga punya fungsi lain yang tidak dimiliki alat kontrasepsi lainnya, yaitu untuk mencegah penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS. Dengan bentuknya yang mirip sarung tipis yang menyelubungi alat vital pria, kondom memiliki kemampuan untuk “membatasi” pertemuan dan pergesekan antara penis dan vagina, dan hal itu dapat menekan kemungkinan terjadinya penularan penyakit.

Karena latar belakang itu pula, ada sebagian pihak yang mengkampanyekan pemakaian kondom, untuk tujuan di atas. Yang menjadi masalah, khususnya di Indonesia, kampanye kondom kerap dipahami secara keliru. Upaya agar orang menggunakan kondom (dengan tujuan menghindari penularan penyakit) malah ditafsirkan sebagai legalisasi seks bebas.

Pada 24 November 2015, misalnya, Bupati Luwu Andi Mudzakkar mengatakan, penjualan kondom secara bebas dapat disalahgunakan. "Ditakutkan bisa dibeli bebas oleh remaja-remaja kita sehingga kami putuskan untuk melarang kondom dijual bebas, khususnya di toko-toko ritel," katanya. Itu bukan pertama kalinya kondom dianggap sebagai penyebab atau mendorong perilaku seks terbuka.

Sebelumnya, pada 2012 Majelis Ulama Indonesia menentang kampanye penggunaan kondom bagi kalangan umum maupun pelaku seks berisiko yang akan digalakkan oleh Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi. Wakil MUI saat itu Amidhan Shaberah menyebut bahwa kondom bisa digunakan untuk berselingkuh, zina. Apalagi kalau bagi kalangan remaja. ”Karena ada kondom, itu bisa mendorong mereka untuk nge-seks. Nah, itu yang sangat bahaya," katanya.

Pada 2014, Pemerintah Surabaya melalui Dinas Perdagangan dan Industri Surabaya mengeluarkan surat edaran pembatasan peredaran alat kontrasepsi. Langkah dilakukan, menyusul laporan penjualan paket Valentine’s Day berupa cokelat serta kondom. Dalam surat disebutkan, pembatasan merupakan “upaya untuk menjunjung tinggi nilai luhur kebudayaan Indonesia, serta menjaga calon penerus bangsa.” Lantas bagaimana sebenarnya persebaran kondom di Indonesia?

Berdasarkan Statistik Kesehatan Indonesia 2014, metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB aktif adalah suntikan (47,54%) dan terbanyak ke dua adalah pil (23,58%). Sedangkan metode kontrasepsi yang paling sedikit dipilih oleh peserta KB aktif yaitu Metoda Operasi Pria (MOP) sebanyak 0,69%, kemudian kondom sebanyak 3,15%. Sementara itu jumlah peserta KB aktif di Indonesia yang menggunakan kondom pada 2014 sebesar 1.110.341 orang.

Pada 2012, status epidemi HIV di Indonesia saat itu ada pada tingkat concentrated epidemic oleh karena prevalensi HIV di kelompok populasi kunci sudah di atas 5 persen. Maka di sinilah pentingnya mencanangkan kewajiban pemakaian kondom pada populasi kunci. Pada tahun itu, distribusi kondom di Indonesia sudah mencapai sekitar 20 juta untuk kondom komersial, 15 juta yang dibagikan gratis oleh pemerintah di tempat seks berisiko untuk mencegah HIV/AIDS/IMS, dan 158 juta oleh BKKBN untuk menyukseskan program KB.

Sejauh ini, pemakaian alat kontrasepsi terbukti salah satu yang paling efektif untuk menghentikan penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS. Mereka yang menikah pun punya potensi tertular penyakit kelamin atau HIV/AIDS jika tidak setia.

Usaha Kementerian Kesehatan dan BKKBN sejauh ini kerap terkendala alasan moral seperti seks bebas untuk menyebarkan kesadaran pentingnya penggunaan kondom. Pada 2013, Pew Research Center melakukan riset di 17 negara. Dari riset tersebut, di Indonesia, sebanyak 65 persen masyarakatnya mampu menerima penggunaan alat kontrasepsi, 15 persen menyatakan alat kontrasepsi bukan masalah moral, dan hanya 10 persen yang menyatakan bahwa penggunaan alat kontrasepsi tidak bisa diterima. Riset ini dilakukan pada responden yang berusia lebih dari 18 tahun.

Selama masih ada pandangan bahwa kondom digunakan sebagai seks terbuka/bebas daripada upaya pencegahan penyakit menular seksual, maka pemakaian kondom akan terus dikritisi. Perlu ada sinergi dan upaya terus menerus untuk memperbaiki pola pikir yang sedikit ringsek dari penganut paham “pakai kondom berarti seks bebas”. Bukan pekerjaan mudah memang, karena edukasi dan pengetahuan memang bukan sesuatu yang instan.

Baca juga: Kisah Penemuan Penyakit Kelamin di Masa Lalu

Related

Insight 135394153385201211

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item