Traveling dan Masalah Tingginya Karbon Dioksida

Traveling dan Masalah Tingginya Karbon Dioksida

Naviri.Org - Traveling telah menjadi gaya hidup sebagian orang di zaman ini. Seiring makin mudahnya pengurusan visa dan paspor, serta seiring makin murahnya tiket pesawat, banyak orang yang kini senang melancong ke luar kota, hingga ke luar negeri. Kesenangan traveling di zaman sekarang juga “difasilitasi” oleh media sosial semacam Instagram, yang memungkinkan siapa pun untuk memamerkan foto-fotonya saat bepergian ke berbagai tempat.

Sebagai bagian gaya hidup, traveling memang bukan masalah, asal orang bersangkutan memang senang menikmati perjalanan, dan punya biaya untuk melakukannya. Namun, ternyata, aktivitas traveling adalah salah satu penyumbang tingginya karbon dioksida di bumi. Traveling, tanpa disadari, telah menyumbang jutaan ton karbon dioksida, dan itu tentu bukan hal menyenangkan untuk didengar.

Jack Miles, penerima penghargaan Pulitzer Prize, menyatakan bahwa bepergian dengan menggunakan pesawat adalah salah satu penyumbang karbon dioksida terbesar di dunia. Dalam opininya di Washington Post yang berjudul "For the Love of Earth, Stop Traveling", Miles menghitung jumlah CO2 yang dihasilkan saat bepergian dengan pesawat lebih besar dibandingkan penghasil CO2 lainnya.

Semakin jauh jarak tempuh sebuah pesawat, maka akan semakin banyak CO2 yang dihasilkan. Ia memberi contoh dari perjalanan yang ia lakukan dari Los Angles ke Casablanca, Maroko, untuk penerbangan pergi pulang. CO2 yang dihasilkan mencapai 8.400 pon. Karena ia pergi bersama istrinya, maka jumlah CO2 yang mereka hasilkan dari penerbangan itu adalah 16.800 pon.

Cara mengetahui jumlah emisi yang dihasilkan, Miles menggunakan kalkulator online CO2 dalam penerbangan. Cara perhitungan kalkulator itu adalah menentukan jumlah emisi pesawat yang berasal dari jumlah bahan bakar per kilometer hingga berat kargo lalu dibagi dengan jumlah penumpang.

Menurut Miles, bepergian dengan pesawat untuk penerbangan internasional dapat menghasilkan beberapa kali lipat CO2 dibandingkan dengan 1.300 pon CO2 yang dihasilkan setiap orang karena mengonsumsi daging sapi setiap tahunnya.

Jumlah emisi dari traveling tersebut tentunya akan semakin tinggi jika digabungkan dengan penggunaan listrik, transportasi darat, hingga pembuangan limbah. Menurut Jack, setiap orang dapat menyumbang 33.000 pon atau 14,9 ton emisi berdasarkan hasil penghitungan dengan kalkulator Badan Perlindungan Lingkungan AS.

Oleh sebab itu, Miles menyimpulkan, jika Anda mencintai bumi maka tinggallah di rumah. Lupakan daftar tempat-tempat yang ingin Anda kunjungi, karena kelangsungan kehidupan di bumi ada di tangan Anda. Kira-kira demikianlah kesimpulan Miles.

Penerbangan, pariwisata dan karbon dioksida

Pernyataan Miles menyasar tingginya frekuensi penerbangan hari ini yang diduga berdampak pada tingginya emisi yang dihasilkan. Secara global, dalam laporan Air Transport Action Group, dunia penerbangan mampu menghasilkan 781 juta ton CO2 pada 2015.

Tingginya frekuensi tak lepas dari jumlah penumpang pesawat setiap tahun, yang terus meningkat dari 2,7 miliar pada 2010 menjadi 3,7 miliar pada 2015, menurut data International Air Transport Association (IATA) yang dikutip Telegraph.

Sedangkan pesawat komersial dan kargo kini mencapai 23.600 unit di seluruh dunia, dan jumlah itu diproyeksi akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang pesawat, yaitu menjadi 63.220 unit di tahun 2037.

Tingginya jumlah penumpang pesawat tak lepas dari gaya hidup yang kini mewabah penduduk dunia: liburan. Setiap tahun, ada jutaan orang melancong, baik di dalam maupun ke luar negeri dengan menggunakan pesawat.

Menurut laporan Bank Dunia, pada 2015 jumlah kunjungan wisata mencapai 1,2 miliar. Di tahun yang sama, sebuah laporan dari Badan PBB untuk Bidang Pariwisata (UNWTO), mengungkapkan jika meningkatnya sektor pariwisata telah menyumbang 5 persen CO2 global.

Emisi pada sektor pariwisata paling banyak disumbang dari transportasi, baik darat, laut hingga udara yang mencapai 75 persen. Dari laporan badan PBB tersebut, transportasi udara menyumbang emisi karbon tertinggi dengan persentase mencapai 54-75 persen ketimbang transportasi lain, misalnya kereta yang menyumbang 13 persen emisi.

Penyumbang emisi lainnya berasal dari akomodasi seperti penggunaan pendingin udara, restoran, bar dan lainnya, yang menyumbang emisi sebesar 20 persen bagi sektor pariwisata. Selain itu, museum hingga event belanja, termasuk limbah dari pariwisata, juga menyumbang emisi.

Sektor pariwisata pun mulai mendapat kritik karena mendatangkan dampak sosial dan lingkungan. Akhir-akhir ini muncul gerakan anti-pariwisata, misalnya di Barcelona. Dalam laporan Guardian, Arran, kelompok anak muda dari partai politik Popular Unity Candidacy (PUC) melakukan protes dengan menulis di sebuah bus wisata dengan kalimat “pariwisata membunuh lingkungan.”

Dalam berbagai studi dijelaskan bahwa lingkungan yang rusak atau pengalihan fungsi hutan menjadi pemukiman atau akomodasi bagi pariwisata dapat menyumbang emisi, apalagi tingginya wisatawan berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah limbah atau sampah yang juga menjadi pemicu tingginya emisi.

Gerakan anti-pariwisata kemudian mulai merebak di berbagai wilayah seperti Mallorca and San Sebastián, termasuk di Venesia yang dikunjungi 20 juta wisatawan per tahun. Sekitar 2.000 penduduk lokal Venesia menyuarakan protes atas dampak peningkatan jumlah wisatawan. Semakin tingginya biaya sewa rumah dan polusi adalah dua dari sekian banyak dampak pariwisata di Venesia.

Betulkah sektor transportasi udara penyumbang emisi terbesar? Menurut laporan International Air Transport Association, transportasi udara pada umumnya hanya menyumbang 12 persen (781 juta ton CO2) dari total emisi yang dihasilkan oleh semua jenis transportasi. Jenis transportasi darat seperti motor, mobil, bus dan lainnya adalah penyumbang CO2 terbesar, yaitu 74 persen.

Sedangkan lebih jauh, sektor transportasi secara keseluruhan hanya menyumbang 14 persen dari total emisi global, atau berada di posisi ketiga sebagai penyumbang terbesar. Posisi pertama sebagai penyumbang emisi terbesar berasal dari produksi listrik yang memanfaatkan batu bara, gas alam, hingga minyak. Sumbangan CO2 dari sektor ini mencapai 25 persen pada 2014.

Sektor industri menjadi penyumbang nomor dua dengan persentase sebesar 21 persen. Sektor lain yang juga menjadi sumber emisi adalah pembangunan, pertanian hingga alih fungsi hutan untuk lahan perkebunan atau pemukiman. Cina, AS, India, Rusia, Jepang dan negara Uni Eropa adalah negara yang paling banyak menghasilkan emisi global.

Secara keseluruhan, pada 2015 emisi global mencapai 36,2 miliar ton CO2. Jika kembali pada pernyataan Jack Miles bahwa untuk mencintai bumi kita harus berhenti menggunakan pesawat, dan dengan demikian 2,1 persen emisi global dapat dikurangi. Risikonya: tak ada pesawat atau kendaraan udara yang beroperasi.

Baca juga: Ancaman Bencana di Balik Mencairnya Es di Antartika

Related

Insight 7707853289994387490

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item