Mengenal Wallada, Penyair Wanita Legendaris Andalusia

Mengenal Wallada, Penyair Wanita Legendaris Andalusia

Naviri.Org - Bagi sebagian orang, nama Wallada bukan tidak populer. Meski sebagian orang lain sangat mengenal namanya. Yang menarik dari Wallada bukan cuma statusnya yang dikenal sebagai penyair wanita Andalusia, namun juga statusnya sebagai lajang hingga akhir hayatnya.

Nama lengkapnya Wallada Bint al-Mustakfi. Ia putri seorang khalif Andalusia yang hidup sekitar tahun 1001-1091 Masehi. Kecintaannya pada dunia sastra membuatnya semakin tangguh akan kelajangannya. Dari syair-syairnya, ia bertahan dengan sangat elegan. Meskipun tak jarang beberapa di antaranya sangat sarkastik dan vulgar, karena sakit hati terhadap sang pujaan hati. Ia jatuh cinta pada seorang pria, bernama Ibnu Zaydun, namun tampaknya hubungan asmara mereka tidak berlangsung baik.

Nama Wallada malang melintang di jagad kesusastraan Arab saat itu. Ia menduduki posisi yang sejajar dengan para pujangga pria, termasuk Ibnu Zaydun, sosok pria yang ada di balik syair-syair Wallada.

Kini, karya-karya sastra Wallada tersimpan dalam beberapa literatur Arab kenamaan, salah satunya seperti yang ditulis oleh Abu Al-Faraj Al-Isbahani dalam nomenklaturnya, Al-Aghani dan Al-Ima wa Al-Sawa’ir (Book of Slave Women Poets).

Isi buku itu tidak main-main. Seorang sosiolog muslim ternama, Ibnu Khaldun, mengakui kehebatan buku itu, yang berisi sumber-sumber primer tentang ribuan syair, lagu, dari masa Arab jahiliyah sampai kurang lebih abad ke 9 Masehi.

Dalam Diwan (antologi) Wallada, ada sekitar sepuluh syair yang dapat terkumpul dan selamat hingga saat ini. Kesemuanya punya cerita. Tentang kekasih, patah hati, kebanggaan atas tubuh dan dirinya, ketidaksetiaan, hasrat cinta, dan kebebasan.

Beberapa syair Wallada juga dianggap mendobrak tatanan sosial bagi perempuan muslim saat itu. Karena ia bangga atas tubuhnya, dirinya, juga pikirannya. Bagi beberapa peneliti karya sastra perempuan Arab abad pertengahan, misalnya seperti Maria Segol, puisi-puisi Wallada dianggap merefleksikan pengalaman dalam kehidupannya, juga kondisi perempuan saat itu. Ia mengekspresikan laku bebasnya sebagai individu yang merdeka.

Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah, Wallada kerap menanggalkan kerudungnya ketika bepergian di tempat ramai. Hal itu sangat bertentangan dengan norma sosial agama ketika itu. Untung, ia hidup di Andalusia, yang terkenal akan pluralitas masyarakatnya, yang jauh berbeda dengan kondisi kekhalifahan lain saat itu, khususnya di semenanjung Arabia.

Ia bangga atas warna kulitnya yang cerah, mata birunya, hingga rambut pirang yang menjuntai indah dan mampu menggoda siapa pun yang melihat. Ia adalah pujaan lelaki Kordoba.

Syair dengan genre romansa dianggap penting ketika itu, terlebih penulisnya adalah seorang perempuan. Artinya, kekuasaan dan kendali atas tubuh dan diri sepenuhnya berada di tangan sang penyair. Hal itu juga didukung dengan kekayaan literatur, filsafat, serta ketajaman argumen yang dikuasai Wallada. 

Terkait hal itu, kisah romansa antara Wallada dan Ibnu Zaydun saat ini diabadikan dalam bentuk patung tangan yang sedang berjabat erat, di Plaza El Campo Santo de los Martires, tepat di jantung kota Kordoba. Masyarakat Andalusia menyebutnya sebagai ‘The Lovers”.

Baca juga: Biografi Mata Hari, Mata-mata Wanita Legendaris Dunia

Related

Insight 1694264852900692958

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item