Saran Dalam Menghadapi Cekcok dan Perselisihan Suami Istri

Saran Dalam Menghadapi Cekcok dan Perselisihan Suami Istri

Naviri.Org - Hubungan pernikahan, yaitu bersatunya suami dan istri, sering kali tidak seindah yang dijanjikan omongan, atau tak seindah kisah dalam sinetron. Dalam realitas, hubungan suami istri kadang atau bahkan sering dihiasi masalah, cekcok, pertengkaran, hingga perselisihan.

Cekcok dan perselisihan antara suami istri bisa dilatari banyak hal. Bisa karena ekonomi, masalah keluarga, sampai perselingkuhan. Ketika suami istri tidak mampu mengatasi perselisihan dan masalah yang terjadi, hasil akhirnya bisa melahirkan masalah yang lebih besar. Perceraian adalah salah satunya. Kadang-kadang, perselisihan suami istri bahkan sampai memunculkan aksi kekerasan.

Karenanya, suami istri membutuhkan pengetahuan atau keterampilan dalam hal menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, ketika mereka menikah. Salah satunya adalah pengetahuan dalam menghadapi masalah dan perselisihan yang mungkin terjadi.

Dalam hal ini, psikolog Tika Bisono menyarankan agar pasangan suami-istri menjaga komunikasi yang baik. Hal itu diperlukan untuk meminimalkan pertengkaran suami-istri yang berujung pembunuhan. “Kalau pola komunikasi berantakan, ya hancur. Selama komunikasi masih nyambung, solusi itu kan dekat,” ujar Tika saat dihubungi media.

Bila sedang bertengkar, menurut Tika, setidaknya komunikasi suami-istri tetap berjalan. Caranya lewat perantara orang ketiga atau mengirimkan pesan lewat aplikasi chatting. Komunikasi yang benar-benar terputus dapat memperparah hubungan suami-istri. Apalagi jika asumsi dan pikiran negatif mulai muncul dalam benak pasangan. “Pasti hancur lebur,” kata Tika.

Komunikasi yang baik juga terjadi ketika pemberi dan penerima pesan mau saling mendengarkan. Alasan yang diberikan, kata Tika, harus jelas dan fokus pada permasalahan. Hal itu untuk menghindari salah komunikasi.

Pola komunikasi antar pasangan tak melulu berbentuk ucapan manis. Tika berpendapat, pertengkaran juga merupakan bentuk komunikasi yang paling murni. Artinya, orang akan menuangkan unek-uneknya dengan jujur saat terjadi percekcokan.

Dalam perasaan marah, seseorang terdorong meluapkan emosi sebenarnya dan tak ada yang ditutupi. Dengan begitu, apa yang dirasakan terungkap secara utuh. “Marah itu sebenarnya bentuk komunikasi termurni,” ujarnya.

Ia menambahkan, mengungkapkan perasaan harus bersifat konstruktif, empatis, dan rasional. Konstruktif adalah keinginan untuk jujur tanpa maksud menghancurkan hubungan.

Sementara empatis, yakni bagaimana seseorang menjaga perkataan dan menghargai perasaan pasangannya. Tunjukkan apa yang diucapkan adalah bentuk kasih sayang kepada pasangan. “Yang ketiga rasional itu ada unsur asertif juga. Asertif berarti tidak bohong, tapi tidak menghancurkan,” jelasnya.

Baca juga: Konflik Menantu-Mertua, dan Panduan Mengatasinya

Related

Relationship 4119620600270952633

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item