Kisah di Balik Video Beruang Kutub yang Menghebohkan Dunia

Kisah di Balik Video Beruang Kutub yang Menghebohkan Dunia

Naviri.Org - Dunia heboh dan jutaan orang terkejut sekaligus marah, ketika menyaksikan video yang memperlihatkan seekor beruang kutub yang sangat kurus, berjalan tertatih-tatih dan mencari makan di tempat sampah. Video yang muncul di internet pada pertengahan Desember 2017 itu tidak hanya menampakkan betapa menyedihkan nasib beruang kutub sebagaimana yang terlihat di video, namun juga menunjukkan realitas bumi yang sama menyedihkan.

Video yang direkam oleh Paul Nicklen, fotografer majalah National Geographic dan salah satu pendiri Sea Legacy—kelompok pencinta lingkungan—ini, telah dibagikan lebih dari satu juta kali sejak diunggah di Instagram pada Selasa (12/12/2017).

Situs National Geographic Indonesia menyebutkan bahwa Paul Nicklen dan para pembuat film dari kelompok konservasi Sea Legacy berada di Pulau Baffin, Kanada, pada musim panas yang lalu. Di sanalah mereka menyaksikan seekor beruang kutub yang kelaparan tersebut.

Sebagai seorang ahli biologi dan fotografer alam liar, Nicklen sudah ribuan kali bertemu beruang di alam liar. Akan tetapi, pemandangan kali ini merupakan pemandangan yang paling menyedihkan yang pernah dia lihat. Nicklen dan timnya merekam beruang tersebut sambil menangis.

Video tersebut memperlihatkan seekor beruang kutub yang tinggal tulang berbalut kulit berbulu putih. Salah satu kaki belakangnya diseret-seret ketika berjalan, yang mungkin disebabkan karena atrofi otot.

Beruang tersebut membongkar tempat-tempat sampah yang digunakan secara musiman oleh nelayan Inuit, penduduk asli yang tinggal di daerah Kanada utara dan Alaska. Tidak mendapatkan apa yang dicarinya, beruang tersebut akhirnya pasrah dan roboh ke tanah.

Jutaan warganet yang menyaksikan video tersebut mempertanyakan sikap fotografer yang tidak melakukan sesuatu untuk menolong beruang malang tersebut. Namun, dalam keterangannya di situs National Geographic, Paul Nicklen menjelaskan kendati dirinya sangat ingin melakukan hal tersebut, dia dan timnya dalam keadaan yang tidak terlindung.

"Saat itu, saya tidak sedang membawa senapan dengan peluru yang berisi obat penenang, atau 200 kilogram daging anjing laut," jelasnya. Bahkan seandainya dia bisa melakukannya, dia hanya akan memperpanjang penderitaan si beruang, dan memberi makan beruang liar merupakan tindakan ilegal di Kanada.

Nicklen menambahkan bahwa tindakannya merekam peristiwa tersebut juga didorong oleh keinginan agar hewan tersebut tidak mati sia-sia.

Di akun instagramnya, Paul Nicklen menuliskan, "Ketika para ilmuwan mengatakan bahwa beruang kutub akan punah dalam 100 tahun ke depan, saya ingin orang-orang menyadari seperti apa rupanya beruang yang sekarat,"

"Orang berpikir bahwa kita bisa memberi makan beruang yang kelaparan, akan tetapi kebenaran yang sesungguhnya adalah jika Bumi terus menghangat, kita akan kehilangan beruang kutub dan seluruh ekosistem kutub."

Beruang kutub hanya hidup di wilayah Kutub Utara, dan sumber utama makanan mereka adalah anjing laut. Mereka mengandalkan air laut Arctic yang membeku untuk mendapatkan akses berburu anjing laut.

Namun, pemanasan global membuat lapisan es berkurang, dan menurunkan jumlah anjing laut yang tersedia bagi beruang kutub. Risiko yang lebih tinggi terdapat di tempat-tempat seperti Pulau Baffin, di mana beruang kutub sangat tergantung pada es musiman.

Akan tetapi, seperti dilansir Snopes, beberapa pihak menyatakan bahwa pemanasan global bukan penyebab beruang kelaparan. Seperti yang diungkapkan Dr. Steven Amstrup, kepala ilmuwan di lembaga non-profit Polar Bear International.

Dalam situsnya, Dr. Amrstrup mengatakan bahwa perubahan iklim bukan faktor yang berkontribusi langsung atau satu-satunya dalam kematian beruang kutub.

Menurutnya, beruang kutub memiliki beberapa predator alami. Kebanyakan penyebab kematian adalah karena mereka tidak dapat menangkap makanan mereka dan mengalami malnutrisi.

Menurut Dr. Amstrup, anak beruang kutub yang belum belajar bagaimana cara menangkap anjing laut, beruang kutub yang tua dan lemah, serta beruang yang terluka, merupakan kelompok yang berisiko tinggi mengalami kelaparan dan malnutrisi yang berakibat kematian.

Beruang kutub kelaparan yang ditampilkan dalam video tersebut dapat dikaitkan dengan usia tua, cedera seperti rahang atau gigi yang patah yang membuat mereka tidak dapat menangkap makanan, penyakit maupun faktor lainnya yang menghalangi mereka berburu.

Namun, dia mengakui bahwa berkurangnya es di laut dapat membuat kehidupan beruang kutub menjadi lebih sulit.

Mereka sulit mendapatkan akses untuk berburu anjing laut, dan inilah yang membuat kelaparan, dan akhirnya kematian, lebih mungkin terjadi pada hewan yang sakit, lumpuh, masih anak-anak maupun yang sudah tua.

Jadi, menurut Dr. Amstrup, terlepas dari penyebab langsung kondisi beruang itu, rekaman video yang memilukan tersebut memperingatkan kita tentang masa depan.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Leo Ikakhik, anggota komuntas Nunavut yang memonitor beruang kutub. Dikutip dari NYPost.com, dia mengatakan bahwa kemungkinan besar beruang dalam video tersebut dalam keadaan sakit atau sedang dalam masa penyembuhan dari luka yang membuatnya tidak dapat berburu.

"Saya tidak akan menyalahkan perubahan iklim," katanya. "Saya tidak terperdaya dengan video tersebut, ini hanyalah bagian yang harus dilalui oleh hewan-hewan tersebut."

Sementara itu, Christina Mittermeier, salah satu pendiri Sea Legacy, mengatakan dalam CBC.ca, bahwa kendati penyebab keadaan beruang ini belum diketahui secara pasti, namun dirinya berharap video tersebut dapat mendorong diskusi tentang bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi Kutub Utara, termasuk satwa liarnya.

Baca juga: Orang Ini Menemukan Tikus Sebesar Anjing

Related

World's Fact 8386482571592160525

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item