Bagaimana Reaksi Manusia Jika Alien Benar-benar Ada?

Bagaimana Reaksi Manusia Jika Alien Benar-benar Ada?

Naviri.Org - Alien adalah sebutan untuk makhluk-makhluk tak dikenal yang berasal dari luar angkasa atau luar bumi. Selama ini, memang ada banyak publikasi mengenai alien, atau pesawat mereka yang lazim disebut UFO. Namun, bagaimana pun, kita belum pernah benar-benar menjumpai alien. Perjumpaan manusia bumi dengan alien hanya ada di film-film atau di novel-novel.

Terkait penampakan alien di film atau di novel, alien pun digambarkan dengan beragam sifat. Ada alien yang baik hingga bersahabat dengan manusia, ada pula alien jahat yang menyerang manusia. Jika sekarang alien benar-benar muncul di bumi, kira-kira bagaimana reaksi kita?

Jawaban untuk pertanyaan itu selalu ditanggapi dengan banyak spekulasi. Hampir tak ada bukti empiris yang sistematis. Namun, kali ini tim ilmuwan dari Arizona State University (ASU) menjawab secara positif.

Menurut mereka, dilansir Science Daily, ketimbang takut dan panik, orang-orang yang hidup di masa kini cenderung bereaksi positif pada keberadaan makhluk asing dari semesta lain.

Orang-orang memandang kehidupan di luar Bumi membawa lebih banyak potensi keuntungan daripada risiko. Bahkan, bersedia menyambut dengan tangan terbuka kehadiran alien.

Pendapat ini berbasis bukti ilmiah. Penelitian tentangnya telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Psychology, sekaligus dipresentasikan dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science di Austin, Texas, Amerika Serikat.

"Jika kita berhadapan langsung dengan kehidupan di luar Bumi, kita akan sangat optimistis tentang hal itu," tegas Dr. Michael Varnum, asisten profesor psikologi di ASU yang juga penulis utama studi.

Untuk meneliti reaksi publik terhadap alien, Dr. Varnum dan tim mengadakan setidaknya tiga studi terpisah. Mereka menggunakan perangkat lunak analisis bahasa untuk menentukan persentase kata yang mengisyaratkan emosi positif dan negatif, serta keadaan psikologis lainnya dalam teks tertulis, lewat artikel-artikel berita yang bersangkutan dengan kehidupan alien.

Pada studi percontohan, responden diberi artikel berdasarkan tiga peristiwa ilmiah utama dari dua dekade terakhir. Yakni studi 1996 tentang penemuan fosil mikroba di meteorit Mars; penemuan "Tabby's Star" tahun 2015, yang berkelip tidak menentu membuat orang menduga bahwa benda itu dikelilingi megastruktur asing; dan penemuan planet mirip Bumi pada 2017 di zona bintang layak huni.

Dan karena Varnum beserta kebanyakan ahli astrobiologi setuju ada kehidupan lain di alam semesta, kemungkinan besar dalam bentuk mikroba asing daripada yang bisa diajak bicara, untuk studi berikutnya, ia dan tim menyurvei sekitar 500 responden di AS secara daring.

Responden diminta berhipotesis terhadap berita penemuan semacam itu. Baik itu reaksi mereka sendiri, pun reaksi manusia pada umumnya. Studi ini juga mencakup analisis yang tidak dipublikasikan terkait liputan media soal kemungkinan asteroid Oumuamua antarbintang sebenarnya 'kendaraan' alien untuk sampai ke bumi.

Kemudian yang terakhir, peneliti membagi 500 responden berbeda ke dalam dua kelompok. Keduanya diberi artikel lama dari The New York Times, tapi dibuat seolah informasi baru dengan menghilangkan waktu terbitnya. Yakni artikel soal studi 1996 tadi, dan studi 2010 tentang bentuk kehidupan sintetis pertama yang dibuat di laboratorium.

Hasilnya, menukil The Guardian, responden ditemukan lebih tertarik pada berita-berita soal temuan kehidupan alien yang nyata, dibanding yang buatan.

Selain itu, meski seluruh studi didominasi respons positif, orang menanggapi jauh lebih baik berita soal alien jika itu menyangkut dirinya sendiri. Mereka masih ragu soal membayangkan tanggapan orang lain.

Hal itu, dikatakan Dr Varnum dalam Scientificamerican.com, sebagai kecenderungan psikologis yang disebut "Superioritas ilusi", saat seseorang berpikir bahwa mereka memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang lain.

Kendati demikian, reaksi manusia yang positif akan kehadiran alien ditanggapi beragam oleh para ahli lain yang tidak terlibat dalam penelitian.

Seth Shostak, seorang astronom di SETI Institute menyatakan pada NBCnews.com bahwa nantinya, jika alien benar ada, yang jadi masalah adalah soal materi. Bagi beberapa orang, mikroba boleh jadi tidak mengancam, tapi temuan sebesar Oumuamua mungkin bisa menghantam rumah.

Kekhawatiran sama juga diungkap dua ilmuwan saraf di AS, Liberzon dan Cornelius Gross. Keduanya menjelaskan, otak kita dihubungkan dengan sirkuit kuno yang dikembangkan secara evolusioner untuk mempertahankan diri melawan predator.

Pertahanan itu terbentuk dari pengalaman yang membuat kita takut atau mau menerima, dan pengalaman itu membuat tiap orang berbeda. "Budaya mungkin menjadi penentu bagaimana kita menanggapi hal baru," ujar Gross.

Lebih penting lagi, adalah soal konteks. Sama halnya manusia merespons berbeda antara mengamati singa dalam kandang di kebun binatang dan bertemu singa liar di Afrika. Membaca dan menonton soal alien berbeda dengan bertemu aslinya.

Menanggapi perbedaan pendapat tadi, Dr Vernum berkata, "Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa jika kita mendapat kabar bahwa ada sekelompok kapal perang alien besar dalam perjalanan mereka ke Bumi, kita akan bahagia karenanya."

Namun, ia juga mencurigai satu hal yang lazim dan manusiawi, "Makin asing sesuatu, makin antusias seseorang mengenalnya."

Baca juga: Misteri Penemuan Mumi Alien di Peru

Related

Mistery 5150489971071094619

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item