Memahami Ancaman Bahaya dari Polusi Suara

Memahami Ancaman Bahaya dari Polusi Suara

Naviri.Org - Bisa jadi, Anda pernah mengalami suasana seperti ini. Suatu waktu, Anda menjalani hari seperti biasa, sampai kemudian merasa terganggu oleh suara keras yang memekakkan telinga. Suara itu bisa datang dari mana saja, misal suara loudspeaker acara resepsi di rumah tetangga, atau lainnya. Seiring dengan itu, Anda merasa stres, kepala pening, dan rasanya ingin marah.

Jika Anda mengalami hal semacam itu, Anda tidak sendirian. Karena nyatanya ada banyak orang yang tidak tahan dengan polusi suara. Jangankan manusia, bahkan hewan pun mengalami stres ketika mendapat paparan polusi suara.

Sejak lahir, selama tak memiliki masalah pendengaran, manusia terbiasa mendengar suara-suara. Suara tangisan dan jeritan anak, kendaraan, musik, televisi, hingga azan dari pengeras suara masjid. Manusia yang bisa mendengar, menjalani hidup dengan berbagai suara-suara yang mampu ditangkap telinganya.

Meski sudah terbiasa, belum tentu suara-suara itu tak mendatangkan masalah. Suara musik yang sangat keras bisa saja membangunkan manusia dari tidurnya yang lelap di malam hari, atau bising kendaraan yang memekakkan telinga. Ketika suara-suara ini mengganggu, maka ia disebut polusi suara.

Conserve Energy Future menyebutkan beberapa sumber polusi suara dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya industrialisasi, tata kota yang buruk, kegiatan sosial, transportasi, aktivitas konstruksi, hingga peralatan rumah tangga.

Di pabrik-pabrik dengan mesin kompresor, generator, hingga kipas penyaring udara yang besar, polusi suara sudah menjadi keniscayaan. Oleh sebab itu, para pekerja pabrik biasanya memakai penutup telinga untuk meminimalkan efek buruk dari polusi suara.

Perencanaan tata kota yang buruk juga bisa menjadi sumber polusi suara. Ini biasanya terjadi di negara berkembang. Di India, polusi suara adalah masalah besar. Suara klakson kendaraan, hingga musik dengan pengeras suara memberi sumbangan bagi polusi suara di kota-kota di India. Pemerintah India telah mengeluarkan aturan tentang petasan dan pengeras suara, namun penegakan hukum atas aturan tersebut sangat lemah.

Di kota-kota besar di Indonesia, suara klakson dan mesin kendaraan juga menjadi hal yang kerap menganggu. Tak hanya itu, pengeras suara di tempat ibadah pernah juga menjadi masalah.

Tentang pengeras suara di mesjid, Direktorat Jenderal Bidang Masyarakat Islam, Kementerian Agama, sebenarnya telah mengeluarkan Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Dalam beleid itu, termaktub sejumlah batasan penggunaan pengeras suara di rumah ibadah, dalam hal ini mesjid. Disebutkan bahwa pada dasarnya, suara yang boleh disalurkan ke luar masjid hanyalah suara adzan, sebagai penanda telah tiba waktu salat. Namun, ada kondisi-kondisi lain yang diperbolehkan menyalurkan suara ke luar. Waktu penggunaan pengeras suara pun dibatasi, maksimal 15 menit setiap tiba waktu salat.

Sementara itu, pelaksanaan pengajian rutin di mesjid hanya boleh menggunakan pengeras suara yang diarahkan ke dalam untuk bisa didengar peserta pengajian, bukan ke luar mesjid. Pengeras suara boleh diarahkan ke luar jika memperingati hari besar Islam. Hanya saja, sejumlah mesjid tak benar-benar mematuhi aturan itu.

Polusi suara, bukan hanya mengganggu ketenangan dan komunikasi antarmanusia, tetapi juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia itu sendiri. Menurut Conserve Energy Future, kebisingan yang terus menerus dan konstan dapat mengakibatkan kerusakan gendang telinga. Ia bahkan bisa membuat manusia kehilangan indera pendengarannya.

Masalah kesehatan jiwa juga menjadi ancaman dari polusi suara. Suara yang berlebihan di wilayah kerja seperti kantor, lokasi konstruksi, bar, atau bahkan di rumah, bisa memengaruhi kesehatan psikologis. Ia memicu perilaku agresif, gangguan tidur, stres, kelelahan, hingga hipertensi.

Kebisingan dengan intensitas tinggi juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan meningkatnya denyut jantung. Ini karena polusi suara bisa mengganggu aliran darah normal.

Tak hanya pada manusia, kehidupan hewan pun kerap mendapat masalah karena polusi suara. Suara yang terlalu bising bisa memicu kematian beberapa spesies. Ikan paus salah satunya. Kebisingan mengganggu reproduksi dan navigasi beberapa spesies saat mereka sedang migrasi.

Suara bising yang dihasilkan kapal membuat invertebrata laut, seperti kepiting, stres. Hal itu dijelaskan dalam laporan berjudul Size-Dependent Physiological Responses of Shore Crabs to Single and Repeated Playback of Ship Noise, yang terbit Februari 2013 lalu. Dijelaskan bahwa saat mendengar suara kapal, konsumsi oksigen kepiting pantai lebih besar dari biasanya. Dengan kata lain, suara kapal membuat kepiting menjadi lebih pemarah.

Polusi suara yang dihasilkan aktivitas manusia, tentu hanya bisa diminimalkan oleh manusia. Ia bisa dimulai dengan mengurangi produksi suara dalam rumah tangga. Tidak menyalakan televisi dan musik terlalu keras yang mengganggu tetangga. Atau mengurangi memencet klakson jika tak begitu diperlukan. Aturan tegas dari pemerintah juga sangat diperlukan.

Polusi suara tak bisa diremehkan!


Related

Health 2720990482731316012

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item