Polemik dan Kontroversi Gerakan “No Bra Day”

 Polemik dan Kontroversi Gerakan “No Bra Day”

Naviri.Org - Bra adalah bagian pakaian dalam perempuan, yang biasa dikenakan sehari-hari, dengan tujuan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan payudara. Dengan pemakaian bra, payudara bisa ditopang dengan baik, sehingga kencang dan tidak mudah kendur akibat berbagai aktivitas dan gerakan yang biasa dilakukan sehari-hari.

Meski begitu, tidak semua perempuan nyaman mengenakan bra. Sebagian mereka merasa tidak nyaman dengan bra yang ketat di tubuh mereka, meski juga menyadari bahwa pemakaian bra ditujukan untuk payudara mereka. Karena itu pula, para perempuan biasa melepas bra pada malam hari, saat di rumah, atau menjelang tidur.

Terkait melepas bra, para perempuan bahkan memiliki “hari istimewa” yang disebut No Bra Day, atau Hari Melepas Bra, yang biasanya diperingati setiap 13 Oktober. Peringatan itu diadakan dengan maksud mengampanyekan kesadaran bahaya kanker payudara, dan menggalang dana untuk riset terkait penyakit ini.

Awal mula penetapan No Bra Day sulit dipastikan. Ada yang berpendapat bahwa hal ini terinspirasi dari kampanye ahli bedah plastik yang berpraktik di Toronto, Kanada, Dr. Mitchell Brown pada 2011.

Ia menginisiasi BRA (Breast Reconstruction Awareness) Day yang bertujuan mengedukasi pasien tentang mastektomi—operasi pengangkatan payudara yang salah satunya bertujuan mencegah berkembangnya kanker payudara—dan pilihan untuk merekonstruksi payudara. Saat itu, tanggal 18 dipilih sebagai BRA Day. Tiga tahun setelah BRA Day diinisiasi, kampanye ini menyebar ke lebih dari 30 negara.

Semangat yang diserap dalam peringatan No Bra Day—yang seiring dengan kampanye BRA Day—adalah kesadaran akan kesehatan payudara. Meski demikian, aspek-aspek politis juga melekat. Dalam sejarah gerakan perempuan, (melepaskan) bra pernah menjadi simbol perlawanan.

Adakah hubungan antara bra dan kanker payudara?

Jika Anda menulis tagar #NoBraDay atau #FreetheTatas di Instagram, puluhan ribu post dari seluruh dunia akan muncul. Mayoritas post yang diunggah memuat foto diri perempuan yang tengah mengeksplisitkan payudaranya.

Tagar ini menjadi viral setiap tanggal 13 Oktober beberapa tahun belakangan, seiring dengan kampanye No Bra Day. Tidak hanya itu, relasi antara melepas bra dengan potensi kanker payudara pun masih diragukan kebenarannya oleh para pakar kesehatan.

Dilansir The Guardian, pada 1995 silam, gagasan bahwa memakai bra berkawat terus menerus bisa menimbulkan kanker payudara merebak. Hal ini dikompori Sydney Singer dan Soma Grismaijer yang menerbitkan buku Dressed to Kill. Gagasan ini kembali ditumbuhkan pada 2015 oleh seorang praktisi medis alternatif yang menulis di Goop, situs kepunyaan aktris Gwyneth Paltrow.

Sementara gagasan ini terus diedarkan di kalangan perempuan, tak banyak yang menelisik latar belakang para pencetus gagasan tersebut. Mereka semua bukan peneliti kanker ataupun dokter, karya mereka tidak pernah diulas oleh pakar medis, serta tidak pernah dipublikasikan di jurnal kesehatan tepercaya.

Singer dan Grismeijer mewawancarai lebih dari 4.000 perempuan AS dan menemukan, perempuan yang tidak memakai bra memiliki kemungkinan 1:68 untuk mengidap kanker payudara. Sementara itu, mereka yang memakai bra selama 24 jam berpeluang 3:4 untuk menderitanya. Menurut kedua orang ini, bra berkawat bisa menghalangi sirkulasi cairan limfa sehingga menyebabkan payudara membengkak terisi “toksin”.

Sejumlah peneliti membantah argumen Singer dan Grismeijer ini. Mereka mengatakan cairan limfa tidak akan terjebak karena kawat bra. Lebih lanjut, memakai bra dengan ukuran pas justru bisa mencegah payudara menjadi melar.

Penelitian dari Fred Hutchinson Cancer Center di Seattle tahun 2014 juga menyokong pembantahan terhadap penulis Dress to Kill. Mereka menemukan, tidak ada kaitan antara penggunaan bra dengan peningkatan risiko kanker payudara. Di samping institusi yang membuat studi ini, Breast Cancer Now, Cancer Research UK, The American Cancer Society, dan The US National Institutes of Health juga menyoroti kurangnya bukti bahwa penggunaan bra berelasi dengan potensi kanker payudara.

Seksualisasi perempuan dan kanker payudara

Alasan lain sebagian orang justru menentang kampanye No Bra Day adalah karena hal ini justru mempromosikan seksualisasi perempuan. Mereka yang mengambil selfie tanpa bra malah dianggap memicu pandangan seksis laki-laki. Isu kesehatan dan penerimaan ragam bentuk payudara yang berusaha diangkat lewat kampanye ini akhirnya menjadi bumerang bagi perempuan-perempuan yang terlibat di dalamnya.

Dalam Huffington Post, dimuat komentar Karen Dobres, penggagas Loose Debra—situs yang memuat tip untuk terlihat bergaya saat berbusana tanpa bra. Sekalipun usahanya terkait dengan aktivitas melepas bra, Dobres yang punya keluarga yang pernah mengidap kanker payudara menilai kampanye No Bra Day di media sosial bersifat ofensif.

“Penggagas kampanye begitu bersemangat menggembar-gemborkan penerimaan bentuk payudara natural. Maaf, tetapi tolong katakan pada saya bagaimana selera dan penghakiman akan masuk dalam kampanye ini, karena sekarang saya melihat ada batasan tipis antara kampanye itu dengan upaya mengobjektifikasi perempuan dengan menggunakan isu kesadaran tentang kanker payudara. Akan sejauh apa kita semua terpuruk?” demikian komentar Dobres.

Senada Dobres, blogger feminis Louise Pennington juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kampanye No Bra Day. Ia menilai, para laki-laki bersemangat untuk melihat puting-puting perempuan yang dipublikasikan di media sosial saat kampanye ini dijalankan. Apakah mereka benar-benar tertarik akan isu kanker payudara, dan berapa banyak perempuan yang meninggal karenanya, seperti dikatakan melandasi kampanye ini? Belum tentu.

Fakta dan opini soal No Bra Day memicu orang untuk memikirkan kembali apakah akan terlibat atau tidak terlibat dalam kampanye tersebut. Tidak jarang, orang hanya tertarik ikut kampanye dengan alasan tak ingin tertinggal tren, atau supaya tampak peduli terhadap isu yang digadang-gadangnya.

Padahal, kebenaran hubungan penggunaan bra dan kanker payudara sebagaimana masih dipertanyakan para ahli kesehatan, serta efek samping mengikuti kampanye ini, adalah hal utama yang perlu dipertimbangkan.

Baca juga: Ukuran Payudara di Dunia, Menurut Riset Sains

Related

Insight 5782019324635485033

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item