Hikayat Perawatan Kuku dari Masa ke Masa

Hikayat Perawatan Kuku dari Masa ke Masa

Naviri.Org - Di zaman yang sangat memperhitungkan penampilan seperti sekarang, urusan perawatan tubuh bisa dibilang sangat lengkap, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Salon-salon di mana pun siap menerima Anda untuk melakukan perawatan apa pun yang ingin Anda lakukan, termasuk menikur dan pedikur, yaitu perawatan kuku tangan dan kuku kaki.

Saat ini, perawatan kuku tangan dan kuku kaki sudah menjadi kebutuhan banyak orang, karena kuku yang terawat dan bersih ikut menunjang penampilan. Bagi yang tidak mau buang waktu dan biaya dengan pergi ke salon hanya untuk perawatan kuku, saat ini sudah ada alat khusus untuk memotong kuku, sekaligus membersihkannya. Selain harganya relatif murah, alat pemotong kuku juga bisa digunakan dengan mudah.

Jauh sebelum ada alat pemotong kuku modern seperti yang kita kenal sekarang, dan sebelum ada salon yang melayani perawatan kuku, praktik merawat kuku sudah lama dilakukan. Pada era Romawi kuno, misalnya, terdapat perempuan-perempuan yang disebut circitores yang menyediakan jasa pangkas rambut dan perawatan kuku dengan cara berkeliling kampung. Mereka memakai pencedok untuk membersihkan kotoran kuku dan pisau kecil untuk merapikan kuku.

Selain alat yang dipakai untuk memangkas kuku, ada sederet cerita menarik lain terkait rekam jejak perawatan kuku. Dilansir Atlas Obscura, ada kepercayaan bahwa memotong kuku pada hari Jumat, Sabtu, atau Minggu akan membawa sial. Mitos ini dirilis dalam surat kabar The Boston Weekly Globe pada 26 Juni 1889. Lebih lawas lagi, dalam buku Epistle I (20 SM), Horace sempat menyebutkan soal seorang laki-laki yang berada di tempat pangkas rambut tengah membersihkan kukunya dengan sejenis pisau kecil.

Ada dua tujuan mengapa sejak dulu orang memangkas kuku secara rutin. Pertama, untuk alasan kesehatan atau kebersihan. Kedua, masalah status sosial. Dulu, mereka yang membiarkan kuku panjang dan kotor dianggap barbar atau berstatus sosial rendah, berkebalikan dengan orang-orang yang memiliki kuku pendek atau bercat tertentu.

Dari era Mesir Kuno, Cleopatra dan Ratu Nefertiti dikabarkan memulas kukunya dengan warna merah dari sari tumbuhan henna. Tidak sembarang orang bisa memakai pemulas kuku merah, hanya mereka yang berkuasa atau kaya yang boleh melakukannya. Sedangkan rakyat jelata hanya boleh mewarnai kukunya dengan rona-rona pucat.

Tidak cuma di Mesir Kuno saja cat kuku menjadi penanda status sosial. Di Cina, hal serupa pun dilakukan sejak sekitar 3000 SM. Orang-orang di sana mengenakan cat kuku yang dibuat dari lilin tawon lebah, gelatin, putih telur, gum arabic, dan kelopak bunga. Kebanyakan, warna yang dipilih adalah hitam dan merah.

Jika di tempat-tempat lain membiarkan kuku panjang dianggap sebagai kebiasaan buruk bahkan merujuk pada status sosial rendah, lain cerita dengan di Negeri Panda ini. Konon dulu, memotong kuku justru dihindari. Ada yang menganggap, semakin panjang kuku, semakin bijak seseorang.

Di Babilonia kuno juga terdapat tradisi seperti di Cina dan Mesir—cat kuku sebagai simbol status—hanya saja bahan yang digunakan adalah kohl dengan bermacam-macam warna. Mereka yang berasal dari kelas atas memakai warna hitam, sementara warga kelas bawah menggunakan warna hijau. Alat manicure yang diciptakan saat itu pun tak tanggung-tanggung: bermaterial emas.

Perawatan kuku bukan hanya menjadi rutinitas biasa atau bagian keseharian yang dilakukan kalangan mana pun beberapa abad lalu. Dalam buku Milady’s Standard Cosmetology (2002), Alpert et. al. mencatat, para komandan militer di Mesir, Babilonia, dan Romawi kuno akan menghabiskan waktu lama untuk menata rambut dan mengecat kuku senada dengan warna bibir mereka sesaat sebelum maju ke medan perang.

Baca juga: Asal Usul Penemuan Alat Pemotong Kuku di Dunia

Related

Insight 9147527747699159967
item