Mengenal ADHD dan Hiperaktivitas pada Anak

Mengenal ADHD dan Hiperaktivitas pada Anak

Naviri.Org - Anak-anak kecil kebanyakan memang sangat aktif. Apalagi saat mereka mulai bisa berjalan dan melangkah dengan lancar. Ditinggal sebentar saja, mereka bisa melakukan banyak hal, atau malah pergi jauh, hingga membuat sang ibu kebingungan. Atau, karena sangat aktif, mereka bisa mengacak-acak barang di rumah, atau melakukan hal-hal lain yang bisa jadi membuat ibunya mengurut dada.

Meski begitu, ada pula anak-anak yang keaktifannya bisa dibilang masih wajar, dalam arti tidak sampai hiperaktif. Mereka aktif bergerak, tapi sewajarnya, sebagaimana umumnya anak-anak sebaya. Kadang melangkah ke sana kemari, tapi tidak terus menerus. Kadang mengacak-acak barang, tapi lalu berhenti saat kelelahan.

Mengapa ada anak yang sangat aktif, bahkan hiperaktif, sementara ada anak-anak lain yang tidak seaktif mereka?

Amanda Morin, dalam “Understanding Your Child’s Trouble With Hyperactivity”, menerangkan salah satu penyebab seorang anak hiperaktif adalah attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), kondisi yang ditentukan oleh otak yang sering menyebabkan anak bergerak dan berbicara tanpa henti.

Menurutnya 30 sampai 50 persen anak-anak dengan ADHD yang juga memiliki oppositional defiant disorder (ODD) bermasalah mengatur emosinya. Mereka sering berdebat dengan orang dewasa dan teman sebaya, menolak melakukan apa yang diminta, dan terkadang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan gagasan umum tentang apa yang benar dan salah.

Wiener menambahkan, anak-anak dengan ADHD lebih rentan menjadi korban perisakan ketimbang menjadi pelaku karena perangainya dapat mengganggu teman sebaya. Anak-anak dengan ADHD digambarkan belum dewasa secara sosial, karena mereka sering tidak memiliki keterampilan sosial seperti fleksibilitas dan kemauan berkompromi.

Namun anak-anak yang aktif menjelajahi ruangan ke sana ke mari tidak serta merta langsung dapat dinilai hiperaktif atau menyandang ADHD. Karena label hiperaktif itu mudah dipakai, anak-anak yang mungkin gelisah atau memiliki gerakan berlebihan saat melakukan hal-hal kecil pun mudah dibilang anak dengan ADHD.

Padahal menilai seseorang sebagai anak ADHD tidak sesederhana itu. Perlu serangkaian tes dan diagnosa untuk memastikan anak yang tidak bisa diam sebagai penyandang ADHD. Selain mengumpulkan keterangan dari orang tua dan guru, gejala ADHD juga perlu diuji melalui tes seperti CPT-TOVA (Continuous Performance Test - Test of Variable of Attention). 

Baca juga: Memahami Masalah Obesitas Anak di Indonesia

Related

Parenting 6790232822658379908
item