Hidup dan Kematian Houdini, Legenda Sulap Dunia

Hidup dan Kematian Houdini, Legenda Sulap Dunia

Naviri.Org - Di Indonesia, kita mengenal Deddy Corbuzier sebagai pesulap atau magician yang kerap mempertunjukkan atraksi-atraksi memukau. Di luar negeri, kita mengenal David Copperfield yang juga menarik perhatian banyak orang karena mampu mempertuntujukkan atraksi-atraksi mengagumkan. Di luar nama itu, tentu masih banyak pesulap lain yang sama-sama hebat, dengan atraksi-atraksi yang tak kalah menakjubkan.

Namun, jauh sebelum lahirnya pesulap-pesulap masa kini, dunia telah mengenal pesulap hebat yang namanya kini menjadi legenda. Namanya Harry Houdini, dan dia dikenal sebagai master sulap dalam bidang meloloskan diri. Seperti Billy the Kid, Houdini selalu bisa meloloskan tangannya dari borgol. Tak heran jika laki-laki berdarah Yahudi ini punya julukan The Handcuff King alias Raja Borgol.

Kisah hidupnya telah berkali-kali difilmkan. Di antaranya Houdini (1953) dengan Tony Curtis berperan sebagai Houdini, atau The Great Houdini (1976) dengan Paul Michael Glaser berakting sebagai Houdini. Yang agak anyar adalah miniseri berjudul Houdini (2014) yang dibintangi Adrien Brody.

Karier sulapnya dimulai pada 1891. Pada tahun itulah laki-laki dengan nama asli Eric Weiss ini mulai memakai nama Harry Houdini. Nama Houdini dicomot dari pesulap favoritnya.

“Dia adalah pengagum berat pesulap Perancis Jean Eugene Robert-Houdin,” tulis Derek Tait dalam The Great Houdini: His British Tours (2017).

Awal kariernya tak begitu gemilang. Di awal kariernya dia sempat tampil bersama saudaranya, Dash. Belakangan ia tampil bersama Wilhelmina Beatrice Rahner alias Bess. Menurut Derek Tait, Bess dan Houdini bertemu dalam pertunjukan di Coney Island pada 1893. Tahun berikutnya mereka berdua menikah. Di masa belum terkenal, Houdini kadang menyambung hidup dengan ikut bermain sirkus.

Dia pernah menasbihkan dirinya sebagai Raja Kartu (King of Card) namun tidak banyak yang bersedia menonton pertunjukannya. Kemudian ia mengembangkan kemampuan berdasarkan kekuatan fisiknya yang memang prima.

Menurut JC Cannell dalam Houdini the True Handcuff King (2016), “Houdini adalah pelari juara cross country ketika muda, dia terlihat sangat bugar yang membuatnya sangat terbantu dalam aksi-aksi meloloskan diri.”

Di pengujung abad XIX, dia bertemu Maartin Beck di daerah Woodstock, Illinois. Beck menyarankan Houdini fokus pada aksi pelolosan diri saja. Pada 1900, Beck mengatur pertunjukan Houdini dalam sebuah tur di Eropa. Pertunjukannya dimulai di London. Setelah Inggris, Houdini tur ke Skotlandia, Belanda, Jerman, Rusia dan Perancis.

“Dia datangi setiap kota dan menantang polisi lokal. Polisi lalu menempatkan dia dalam kondisi terikat dan terkunci di dalam sel,” tulis tulis J.D. Rockfeller dalam The Story of the Great Houdini (2016).

Dalam aksinya di Moskow, dia diikat dalam borgol dan kuncinya dimasukkan ke dalam sebuah mobil van yang lantas pergi menuju Siberia, daerah terpencil yang sedari zaman Tsar Rusia adalah tempat pembuangan. Jika gagal melepaskan diri, Houdini harus mengambil kuncinya di Siberia. Houdini berhasil meloloskan diri.

Seiring perkembangan teknologi, ia mulai sadar pula dengan dokumentasi. Penemuan kamera gambar hidup (film) membuat beberapa aksi Houdini masih bisa disaksikan hingga kini. Salah satu dokumentasinya diberi judul Vaudeville (1906).

Dalam tur di Perancis, dia sempat bertemu dengan Emile Houdin—janda dari anak Jean Eugene Robert-Houdin, idolanya. Houdini sempat meminta agar diizinkan berkunjung ke makam sang idola. Kendati ia tak mendapatkan izin, ia tetap nekat menziarahi kubur idolanya itu.

Seiring waktu, Houdini makin dikenal sebagai master meloloskan diri. Pertunjukannya mulai menarik perhatian para penonton. Di pertengahan dekade pertama abad 20, ia sudah menjadi kaya raya.

Dia bahkan bisa memberikan gaun bekas Ratu Victoria untuk ibunya. Sebuah rumah mahal di Harlem pun sanggup ia beli dengan 25 ribu dolar dibayar tunai. Ia bahkan membeli sebuah pesawat terbang.

Menurut catatan Cannell, Houdini membeli pesawat Voisin Biplane pada 1900 seharga 5 ribu dolar. Meski sempat gagal menerbangkannya, dia berhasil terbang di Hamburg pada 26 November 1909. Dia dianggap orang pertama yang terbang dengan pesawat terbang di Australia dengan pesawat pribadinya.

Kemahirannya melepaskan diri dari borgol tanpa kunci kemudian banyak ditiru orang. Karena sudah makin banyak epigon yang menggunakan aksi melepaskan diri dari borgol, ia lama-lama ogah menggelar pertunjukan meloloskan diri dari borgol lagi. Ia mencoba merancang aksi-aksi lain.

“Pada 25 Januari 1908, Houdini mengunci dirinya di dalam kaleng susu berisi air, dan berhasil lolos. Penonton pun senang dibuatnya,” tulis J.D. Rockefeller.

Selain di kaleng susu, dia juga melakukannya di dalam tong pemanas yang dipaku besi. Dia juga mulai mengundang penonton untuk ikut meramaikan pertunjukan.

Pada 1926, Houdini yang mulai menua masih berjaya meski usianya sudah 52 tahun. Di akhir hidupnya, Houdini bahkan menjadi dosen tamu Universitas McGill di Montreal, Kanada.

“Dia terlihat lelah dan pucat,” tulis Jim Steinmeyer dalam The Last Greatest Magician in the World: Howard Thurston Versus Houdini (2011).

Hari-hari di Montreal di bulan Oktober itu, dia sempat berkumpul dengan beberapa mahasiswa. Salah satunya adalah Jocelyn Gordon Whitehead. Si mahasiswa pernah mendengar Houdini sesumbar bisa menahan pukulan di perut dengan teknik mengencangkan otot perut.

Whithead menantang Houdini membuktikan omongannya. Meski sudah tua dan lelah, Houdini mengizinkan Gordon meninju perutnya.

“Sebelum pesulap itu bangkit dari sofa dan mengencangkan otot-ototnya, Whitehead mulai dengan serangkaian pukulan cepat. Houdini terjatuh kembali ke sofa,” tulis Jim Steinmeyer.

Dengan menahan sakit, Houdini pergi ke Detroit untuk menggelar pertunjukan di kota terbesar di Michigan itu. Sampai Detroit, dia harus dibawa ke rumah sakit karena rasa sakit yang tak tertahankan di perutnya.

Menurut Don Bell, dalam The Man Who Killed Houdini (2005), sepanjang malam Houdini sangat kesakitan. Ia tak bisa tidur. Derita itu ditanggungnya sekitar dua hari tanpa perawatan dokter. Demamnya sempat mencapai 39 derajat celcius. Menurut diagnosa dokter, ia mengalami radang usus buntu yang sudah akut. Dia disarankan segera dibedah untuk mengatasi usus buntunya.

Houdini mengabaikan saran dokter itu. Dia lebih mementingkan pertunjukannya.

Ketika tampil di Garrick Theatre Detroit, Michigan, pada 24 Oktober 1926, demamnya 40 derajat celcius. Dia sempat pingsan dan lagi-lagi harus dirawat kembali di rumah sakit.

Tepat di ujung Oktober, pada 31 Oktober 1926, Houdini menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Baca juga: Kekuatan Telekinesis, Antara Fakta dan Fiksi

Related

Insight 1756593031412403144

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item