Benarkah Micin Membuat Bodoh? Ini Penjelasannya

Benarkah Micin Membuat Bodoh? Ini Penjelasannya

Naviri.Org - Di dunia maya, khususnya di media sosial, kita pasti sering mendapati orang yang menyebut-nyebut “micin” untuk olok-olok, atau yang identik dengan kebodohan. Misalnya, ada orang berkomentar bodoh atas suatu hal, atau mengatakan sesuatu yang tolol, lalu ada orang lain menimpali dengan berkomentar, “Dasar kebanyakan micin, tuh! Jadinya ya bodoh!”

Selama ini, micin seolah identik dengan kebodohan. Sering mengonsumsi micin dipercaya dapat membuat seseoang menjadi bodoh, hingga bertingkah bodoh atau mengatakan hal-hal bodoh sebagaimana yang biasa muncul di media sosial. Malah belakangan ada istilah “generasi micin” yang ditujukan untuk menyebut anak-anak bodoh. Pertanyaannya, benarkah micin membuat otak bodoh?

Micin atau monosodium glutamat (MSG) sebagai penyedap/penguat rasa, ditakuti karena konon katanya bisa menyebabkan penyakit, atau menyebabkan kebodohan. Ketakutan terhadap micin sebagai pembawa penyakit itu muncul di era 1950-an ketika ramai sebutan Chinese Restaurant Syndrome (CRS) untuk gejala seperti pusing dan mual setelah menyantap masakan China yang menggunakan MSG.

Semenjak itu, ilmuwan sebenarnya sudah banyak melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa micin tidak berdampak buruk bagi tubuh. Karena sebelum micin yang beredar di pasaran sekarang, yang aslinya merupakan ekstraksi dari rumput laut temuan professor Kikunae Ikeda, manusia sudah mengonsumsi “micin” alami.

Glutamat, kandungan utama dalam umami, bisa ditemui secara alami dalam tomat, rumput laut, jamur, keju, kecap, brokoli, bahkan ASI. Ya benar, ASI alias air susu ibu!

Sampai di sini, mungkin ada orang yang ingin mengatakan, “Tapi micin yang dimaksud (yang dapat membuat bodoh) adalah MSG buatan yang dijual di toko-toko!”

Sebenarnya, ketika sudah masuk di dalam tubuh, micin “alami” maupun “buatan” dianggap sama, tidak dibeda-bedakan. Tubuh akan tetap mencernanya sebagai glutamat, tak peduli mau mereknya Royco, Masako, bumbu Indomie, atau diekstraksi sendiri dari tomat atau rumput laut. Untuk urusan micin, tubuh manusia bisa menganggapnya sama.

Glutamat juga memiliki banyak kegunaan. Selain membuat makanan semakin lezat, di dalam tubuh ia juga membantu metabolisme gula dan lemak, serta berfungsi sebagai neurotransmitter.

Satu hal menarik, micin bisa membuat anak mudah menyukai sayur-sayuran. Biasanya anak membenci sayuran karena rasanya cenderung pahit. Menambahkan micin secukupnya pada sayuran akan membuat rasanya lebih lezat, sehingga anak bisa lebih lahap makan. Nah, sayuran kan bagus buat tubuh dan otak. Otak yang ternutrisi dengan baik akan membuat penyerapan informasi bisa maksimal. Akibatnya kinerja otak anak akan baik dan dia bisa jadi pintar. Dalam hal ini, micin bukannya bikin bodoh, malah bikin pintar.

Kebanyakan MSG memang mempunyai akibat, yakni rasa makanan menjadi eneg. Hanya itu. Kalau mau tahu apa yang sebenarnya berbahaya tetapi banyak di antara kita kurang sadar, adalah garam. Ambang batas konsumsi garam per hari adalah 5 gram atau sekitar 1 sendok teh. Kalau beli bakso atau mie ayam, biasanya penjualnya menabur sekitar setengah sendok teh garam.

Itu sudah setengah dari ambang batas konsumsi per hari. Sedangkan untuk MSG, biasanya menambahkan 0,5 gram saja sudah terasa gurihnya. Kelebihan garam bisa menyebabkan darah tinggi, sedangkan kebanyakan MSG hanya menyebabkan makanan jadi eneg. Dengan kata lain, garam malah lebih berbahaya dibanding micin.

Baca juga: Mengenal Mikroplastik yang Bikin Geger Dunia

Related

Health 512275020949665190

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item