Mengapa Raja-raja di Masa Lalu Punya Banyak Istri?

Mengapa Raja-raja di Masa Lalu Punya Banyak Istri?

Naviri.Org - Berdasarkan sejarah, di masa lalu pernah hidup raja-raja yang memiliki kekuasaan di suatu wilayah. Di wilayah Nusantara maupun di wilayah lain yang jauh di luar sana, ada raja-raja semacam itu, yang tinggal di istana, dan dipatuhi fatwa-fatwanya oleh orang-orang yang menjadi rakyatnya. Terkait raja-raja tersebut, ada satu hal yang bisa dibilang unik, namun dilakukan oleh semua raja di mana pun. Yaitu punya banyak istri.

Kenyataan seorang raja yang memiliki banyak istri telah sering diungkap, misalnya dalam sejarah Cina. Para kaisar Cina di masa lalu punya banyak istri, hingga juga memiliki banyak anak. Hal serupa juga terjadi di Nusantara. Para raja di masa lalu, yang menguasai wilayah-wilayah tertentu, juga diketahui punya banyak istri. Kadang istri hanya empat, tapi mereka punya selir yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Mengapa raja-raja di masa lalu punya banyak istri, bahkan memiliki banyak selir?

Alasan perkawinan para raja seringkali karena alasan politis, bukan melulu pemuasan hasrat seksual. Menurut Otto Sukatno, dalam Sex Para Pangeran (2002), setelah peperangan selesai, biasanya raja pemenang akan mengawini anak perempuan raja/penguasa yang dikalahkan. Sebagai upaya penjinakan politik lawannya.

Cara menjaga dan membangun kekuasaan adalah melalui perkawinan. Semakin banyak anak perempuan bangsawan lain yang dikawini, maka kedudukan seorang raja bisa semakin kuat. Selain itu, semakin banyak istri yang dimiliki, seorang raja atau bangsawan akan terlihat perkasa.

Kebesaran dan keperkasaan seorang raja di Timur Tengah, juga seringkali dilihat berdasarkan harem yang dimilikinya. Di dalam sebuah harem, biasanya terdapat tempat pemandian yang mirip seperti di dalam komplek Taman Sari di Kraton Yogyakarta. Di situlah raja menikmati surga dunia, sekaligus menjadikan tugasnya sebagai suami dan laki-laki bagi banyak perempuan.

Sebelum datangnya Vereniging Oost-Indische Compagnie (VOC) Belanda, raja dan para bangsawan begitu berkuasa di Indonesia. Mereka punya wilayah otonomnya masing-masing. Namun, setelah VOC dan pemerintah Belanda berkuasa, kekuasaan raja-raja lokal beserta bangsawannya makin berkurang. Bahkan sumber kekayaan mereka pun diambil Belanda juga. Meski harus tunduk kepada Belanda, urusan kawin raja dan bangsawan jalan terus.

Lihatlah Pangeran Diponegoro, meski bukan raja dia punya banyak istri. Berdasar agama yang dianutnya, yakni Islam, sang Pangeran boleh punya paling banyak empat. Namun para bangsawan dan juga raja punya lebih dari empat. Jika pun istrinya hanya empat, namun dia punya selir-selir yang tak terhitung.

Ini baru raja. Belum bangsawan lain di bawah raja. Dari patih, senapati (panglima), sampai pejabat-pejabat lainnya. Sangat biasa mereka punya istri lebih dari satu. Contoh lain adalah Sunan Pakubuwono X, yang bertahta di Surakarta sejak 1893 hingga 1939, adalah raja dengan 45 istri. Dari 45 istri itu, dia mendapat 68 anak.

Lalu bagaimana para raja dan bangsawan tersebut memenuhi nafkah batin para istri dan para selirnya? Baca uraian lanjutannya di sini: Hikayat Obat Kuat, dari Raja Jawa Sampai Cina.

Baca juga: Hikayat Obat Kuat, dari Raja Jawa Sampai Cina

Related

Insight 2358837594091862823
item