Realitas Pahit Perkawinan yang Tak Pernah Dikatakan

Realitas Pahit Perkawinan yang Tak Pernah Dikatakan

Naviri.Org - Selama ini, perkawinan selalu diidentikkan dengan hal-hal indah dan menyenangkan, romantis dan membahagiakan, serta semacamnya. Dalam bayangan atau khayalan orang-orang, khususnya yang belum menikah, pernikahan memungkinkan dua orang yang saling cinta untuk hidup bersama, termasuk tidur bersama. Bayangan itu tentu saja indah, dan khayalan tentang itu pula yang selama ini membuai banyak orang hingga ingin cepat-cepat menikah.

Yang menjadi masalah, sering kali khayalan tidak seindah kenyataan. Sebelum menikah, hal-hal tentang pernikahan memang tampak indah dan menjanjikan. Namun, setelah menikah, orang mulai menyadari bahwa ternyata realitas yang ada tidak seindah yang semula mereka bayangkan. Mereka pun mendapati kenyataan, dan kadang-kadang kecewa. Dari situ pula, tidak sedikit yang berakhir perceraian.

Sebagai salah satu ilustrasi, misalnya, adalah soal tidur bersama. Bagi yang belum menikah, membayangkan tidur berdua bersama pasangan tentu sangat indah. Tetapi, bagi yang telah menikah—apalagi sudah menikah cukup lama—tidur bersama pasangan tidak selamanya indah. Ada berbagai masalah yang bisa timbul, yang dapat menjadikan pasangan suami istri justru memilih untuk tidur di tempat berbeda atau tidak seranjang.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Bensons for Beds membuktikan bahwa satu dari empat pasangan di Inggris secara berkala tidur di ranjang terpisah karena stres. Rata-rata para pasangan ini mengizinkan anak mereka untuk tidur bersama sekitar lima kali dalam sebulan.

Bensons for Beds meneliti kebiasaan tidur dari 2.000 pasangan di Inggris dan menemukan bahwa penyebab mereka tidur terpisah adalah hari kerja yang panjang dan anak-anak.

"Setelah mengalami jam kerja yang panjang, para pasangan harus punya waktu untuk anak-anak. Ini hal yang sulit. Dan tidak mengherankan bahwa mayoritas orang Inggris tidak lagi berbagi tempat tidur atau menghabiskan waktu intim dengan pasangan mereka," jelas Chief Customer Officer Bensons for Beds, Henry Swift, seperti dikutip The Independent.

Faktanya, hampir satu dari sepuluh (8 persen) dari 2.000 pasangan yang disurvei mengatakan bahwa mereka tidak lagi dekat dengan pasangan mereka, karena tidur terpisah. Sementara 28 persen lainnya mengatakan bahwa kehidupan seks mereka jadi berantakan.

Sebanyak 25 persen tidur di tempat tidur yang berbeda karena alasan pasangan mereka mendengkur. Sembilan belas persen lainnya mengatakan bahwa pasangan mereka sering tertidur di sofa sambil menonton televisi, dan tetap tidur di sana sampai pagi.

Empat belas persen pasangan tidak ingin membangunkan pasangan mereka saat mereka bangun pagi untuk bekerja atau memulai aktivitas. Alasan mengejutkan didapat dari 60 persen pasangan yang mengaku memang memilih untuk tidur sendiri. Sementara 38 persen mengaku tidur di tempat ranjang terpisah, karena ada masalah dalam hubungan.

Meski begitu, pasangan-pasangan itu mengakui bahwa tidur di tempat terpisah dapat menyebabkan banyak masalah, dengan satu dari 10 peserta mengklaim bahwa hal itu menyebabkan hubungan mereka gagal.

Dua puluh delapan persen pasangan yang tidur di tempat tidur terpisah mengungkapkan bahwa mereka tidur terpisah karena kurang puas atau bosan dengan hubungan seks.

Tiga puluh satu persen dari para pasangan ini mengaku, mereka tidak memberi tahu teman dan keluarga tentang fakta bahwa mereka tidur sendiri-sendiri.

"Mengingat kita menghabiskan sepertiga waktu kita di tempat tidur, tidur nyenyak dengan pasangan adalah salah satu kunci untuk hidup sehat dan bahagia," kata Henry Swift.

Baca juga: Ongkos Kawin Kian Mahal, Jutaan Pria Terancam Tak Punya Istri

Related

Romance 4956735109598357339

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item