Sejarah dan Asal Usul Gadis Payung di Arena Balap

Sejarah dan Asal Usul Gadis Payung di Arena Balap

Naviri.Org - Dalam kompetisi atau perlombaan balap, entah balap motor atau balap mobil, kita pasti menyaksikan adanya perempuan-perempuan muda dengan penampilan menawan, berbusana minim, dan biasa menemani para pembalap sebelum mulai bertanding.

Di Indonesia, perempuan-perempuan itu biasa disebut “gadis payung” karena sering terlihat membawa payung yang ditujukan untuk meneduhkan si pembalap sebelum mulai bertanding. Sementara di dunia internasional, perempuan-perempuan itu lebih populer dengan sebutan grid girls.

Di beberapa negara, grid girls memiliki nama yang berbeda-beda. Di Jepang, mereka dikenal sebagai race queen, sedangkan masyarakat Inggris menyebutnya pit babe. Orang Thailand menamai grid girls dengan prettiest, dan mereka dikenal dengan sebutan racing model di Korea. Di Indonesia, gadis payung adalah nama untuk para grid girls. Tapi, cikal bakal sejarah grid girls berasal dari Jepang.

Pada tahun 1960-an, Formula One mulai menggunakan gadis muda sebagai model promosi setelah artis dan model Rosa Ogawa tampil di iklan Cosmo Oil Co., Ltd. Ia mempromosikan bahan bakar dengan kadar oktan tinggi untuk perusahaan minyak tersebut. Semenjak itu, ia dijuluki sebagai race queen pertama di Jepang.

Gaijinpot, sebuah situs penyedia informasi seputar Jepang untuk orang asing, melansir penggunaan race queen semakin marak di Jepang seiring meningkatnya perekonomian negara di tahun 1980-an. Anggaran untuk iklan bertambah. Apalagi olahraga balap mulai dikenal oleh khalayak. Keadaan ini membuat race queen menjadi komplemen utama untuk meningkatkan kesadaran publik akan merek tertentu.

Perubahan kemudian terjadi pada dekade 1990-an. Gaijinpot mengatakan, race queen dianggap sebagai pekerjaan penting berkat media dan penggemar. Demi meningkatkan basis penggemar, pihak sponsor bahkan melanjutkan perjanjian untuk mempromosikan usaha mereka lewat acara-acara yang ada dengan menggunakan race queen.

Pada 1999, sebutan race queen diganti menjadi circuit lady, berdasarkan Undang-Undang Kesetaraan Kerja. Pekerjaan ini pun hanya boleh dilakukan untuk perempuan yang usianya di atas 18 tahun. Peraturan ini memunculkan organisasi yang menaungi model, dalam bentuk agensi atau perusahaan media massa. Menurut Gaijinpot, sepuluh race queen terfavorit akan dijadikan model untuk majalah di Jepang.

Di luar Jepang, grid girls mulai banyak digunakan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Salah satunya adalah Hawaiian Tropic yang menjadi sponsor 24 Hours of Le Mans di Perancis. Perusahaan kosmetik tersebut mendatangkan model-model dari Amerika Serikat. Mereka tampil dengan busana bertuliskan nama perusahaan.

Meski sudah ada sejak 1960-an, keberadaan grid girls dalam dunia balap internasional dianggap baru populer pada 1990-an. Eddie Jordan, bos tim motorsport asal Irlandia, adalah orang yang dianggap pertama kali mempopulerkan grid girls. Pertimbangannya jelas aspek komersial. Para perempuan dianggap bisa membuat dunia balap jadi lebih menarik—sesuatu yang kemudian dikritik hingga sekarang.

“Balapan adalah bisnis yang serius, sangat komersial, dan membutuhkan balik modal yang besar. Tapi pada saat yang sama, bisnis ini juga perlu untuk memperlihatkan bakat dan semua aktivitas yang menarik dan menyenangkan,” katanya.

Baca juga: Kini, Ajang F1 Tidak Boleh Menampilkan Grid Girls

Related

Sports 3673016049047603061

Recent

item