Memahami Skor IQ, Hingga Kepercayaan pada Hoax

Memahami Skor IQ, Hingga Kepercayaan pada Hoax

Naviri.Org - Berapa skor IQ Anda saat ini? Bisa jadi, Anda termasuk salah satu orang yang mengikuti tes IQ, hingga tahu berapa IQ yang Anda miliki. Persoalan IQ, sebenarnya, masih menjadi bahan perbincangan bahkan perdebatan di sebagian ilmuwan, mengingat masing-masing orang, di berbagai tempat, memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, terkait budaya, hobi, lingkungan, sampai tingkat pendidikan. Latar belakang itu pula yang menjadikan satu orang dengan orang lain memiliki skor IQ yang berbeda.

Satu hal yang juga patut dicermati terkait IQ adalah, skor IQ bisa berubah, salah satunya karena faktor usia. Richard Nisbett, PhD., profesor psikologi dan direktur pada Culture and Cognition Program dari University of Michigan menyatakan bahwa semakin bertambah umur seseorang, semakin stabil skor IQ-nya. Perubahan skor IQ lebih mudah ditemukan ketika kanak-kanak.

Pendapat Nisbett ini pun diamini Stephen Ceci, profesor bidang Psikologi Perkembangan dari Cornell University, AS. Menurut sebuah studi yang dikutip Ceci, perubahan skor IQ dapat berubah seiring pertambahan usia. Skor IQ 33 remaja yang didapati saat mereka berusia 12-16 tahun ternyata berbeda dengan skor IQ yang didapatkan dari tes 4 tahun kemudian.

Ceci berargumen, peran sekolah dapat memengaruhi perubahan skor IQ ini. Pasalnya, pelajaran-pelajaran di sekolah membantu siswa untuk melakukan taksonomi atau pengkategorian sesuatu. Kemampuan pengkategorian ini merupakan salah satu komponen yang menciptakan perbedaan skor para partisipan tersebut.

Selain itu menurut Nisbett, rata-rata skor IQ orang bertambah 3 poin setiap dekade. Contohnya, IQ rata-rata orang usia 20 pada 1947 lebih rendah 18 poin dibanding IQ rata-rata orang usia yang sama pada 2002. Hal ini bisa saja terjadi karena pengaruh kebiasaan, gaya hidup, atau paparan teknologi sebagaimana disampaikan Greenfield tadi.

Walaupun indikator kecerdasan masih diperdebatkan, banyak peneliti yang tetap menggunakan patokan IQ dan mengaitkannya dengan perilaku orang-orang. Salah satunya adalah hasil studi Hodson dan Busseri dari Brock University. Dalam tulisan yang dimuat di jurnal Psychological Science tahun 2012, mereka berargumen bahwa anak-anak dengan skor IQ rendah berpotensi menjadi pribadi yang konservatif dan memiliki prasangka buruk terhadap orang-orang di luar kelompoknya.

Dalam konteks anak-anak di Inggris, Hodson dan Busseri menemukan, kemampuan intelegensi umum yang rendah pada masa kanak-kanak dapat berkaitan dengan sikap rasisme ketika dewasa. Efek ini disebabkan oleh ideologi konservatif yang dicekokkan kepada mereka melalui berbagai cara.

Sementara dari studi terhadap sampel di AS, ditemukan bahwa rendahnya kemampuan mengabstraksi berpengaruh terhadap prasangka anti-homoseksual. Hal ini bisa didorong oleh adanya otoritarianisme dan kurangnya interaksi antar-kelompok di sana. Edukasi dan status sosial ekonomi pun berpengaruh terhadap sikap penuh prasangka yang ditemukan dalam objek-objek studi mereka.

Ketika orang telah memegang prasangka tertentu, besar kemungkinannya untuk menyortir informasi mana yang sesuai dengan keyakinannya. Begitu lingkungan sekitar terus menerus mendoktrinasinya untuk membenci suatu kelompok, individu, atau ideologi, ia akan cenderung menutup telinga terhadap kebenaran di luar yang diyakininya.

Hal ini lantas berpotensi membuatnya menyerap informasi apa pun yang mendiskreditkan kelompok yang dibencinya, tidak terkecuali informasi yang sifatnya hoax. Daya kritisisme yang tumpul bisa jadi terkait dengan kemampuan kognitif mereka untuk mencapai pemahaman tentang aneka perspektif di dunia.

Baca juga: Kapan Seorang Manusia Mencapai Puncak Kecerdasan?

Related

Insight 3301769722425752199

Recent

item