Di Masa Lalu, Angka Nol Dianggap Angka Setan

Di Masa Lalu, Angka Nol Dianggap Angka Setan

Naviri.Org - Segala hal dalam kehidupan kita tidak muncul tiba-tiba, melainkan melalui proses. Dalam proses itu kadang muncul hal-hal tak terbayangkan oleh orang zaman sekarang. Seperti angka nol, misalnya. Saat ini, angka nol sudah dianggap hal biasa, karena termasuk deretan angka. Namun, di masa lalu, ketika angka nol baru dikenal di dunia, angka itu pernah dilarang digunakan, karena dianggap sebagai angka setan.

Nol melambangkan ketiadaan kuantitas. Kendati demikian, perhitungan tidak akan berjalan tanpa nol. Nol memudahkan manusia melakukan penyusunan bilangan dalam matematika.

Meski nol tampak sederhana, penemuan dan pendefinisiannya kompleks dan memakan waktu ratusan tahun. Ada ilmuwan dari banyak wilayah yang berperan, termasuk ilmuwan Muslim dari masa kejayaan sains Islam.

Hendra Gunawan, matematikawan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengungkapkan bahwa nol telah dikenal sejak zaman Babilonia sekitar tahun 1800 sebelum masehi. Namun, saat itu nol masih berperan sebagai nilai tempat.

“Sebetulnya, dari segi penulisan, (angka nol) sudah ada dari zaman Babilonia. Tapi belum pakai simbol nol menulisnya,” ujarnya. “Waktu itu memakai spasi atau titik menulisnya.”

Ia mencontohkan, penulisan nol kala itu menggunakan titik. Misalnya 3.5 untuk menyebut 305. Dengan simbol titik, masyarakat kala itu bisa membedakan 1 dan 10, angka 10 lebih besar dari 1.

Ia menyebut, ide nol tersebut sudah dikenal, tapi belum sampai mempelajari sifatnya. Nol sebagai unsur identitas penjumlahan, misal nol tambah 10 sama dengan 10. Itu belum diketahui pasa masa Babilonia.

“Sejak abad kelima, barulah ada dokumen India yang menulis tentang bilangan nol. Yang saya tahu, bangsa India lebih awal mengenal nol (sebagai bilangan tersendiri),” ujar matematikawan ini.

Dokumen tersebut adalah Aryabhatiya. Buku itu mengulas nol sebagai bilangan tersendiri. Nol sebagai bilangan yang nilainya sama dengan penjumlahan 2 dan -2. Karena buku itu, India kerap disebut sebagai bangsa pertama yang mendefinisikan nol.

Dr George Gheverhe Joseph, seorang matematikawan, menuliskan dalam bukunya, The Crest of the Peacock; Non European Roots of Mathematics, bahwa India mendefinisikan nol pada tahun 458 Masehi.

Manuskrip Bhaksali, yang diperkirakan berasal dari abad ketiga atau keempat, juga terlacak menyebut soal nol. Manuskrip tersebut ditemukan di ladang oleh petani pada tahun 1881. Dalam bahasa India, nol disebut sunya, berarti kosong.

Lalu, bangsa India terus memperbarui perkembangan bilangan nol. Itu dibuktikan dengan kemunculan buku karangan Brahmagupta pada abad ketujuh, sekitar tahun 628 masehi. “Buku Brahmasphutasiddanta mempelajari sifat-sifat bilangan, termasuk angka nol. Nol sudah jadi unsur identitas,” ujarnya.

Nol sudah dioperasikan dalam perhitungan matematika. Contoh, nol tambah 10 menghasilkan 10. Konsep nol lalu menyebar. Bangsa lain juga mulai mengenal nol sebagai bilangan.

Nol mulai populer di Baghdad pada tahun 773 masehi. Nol mewujud sebagai angka Arab, hasil adopsi dari sistem numerik India. Angka nol makin terkenal berkat matematikawan Persia, Mohammed ibn-Musa al-Khowarizmi.

Khowarizmi menyarankan penggunaan lingkaran kecil untuk menggantikan ketiadaan angka di posisi puluhan. Simbol lingkaran kecil untuk nol diadopsi dunia secara luas sekarang. Masyarakat Arab mengenal nol sebagai sifr atau kosong.

Angka nol tersebut digunakan Khowrizmi untuk menciptakan teori aljabar pada abad kesembilan. Ia pun menggagas algoritma. Angka nol mulai merambah benua Eropa sejak abad ke-13, semenjak popularitas Leonardo da Pisa. Ia menelurkan teori Fibonacci yang kemudian membantu pedagang dalam menyusun pembukuan.

Sayangnya, di tanah Eropa sempat muncul tentangan soal angka nol. Angka yang dipopulerkan Khawarizmi dianggap sebagai angka setan. Penolakan juga datang dari pemerintah Italia yang begitu anti dengan numerik asal India-Arab ini. Para pemimpin mencurigai arti kata sifr atau kosong dalam bahasa Arab. Mereka mengira nol sebagai kode yang membahayakan negara.

Pelarangan membuat para pedagang mengendap-endap dan sembunyi-sembunyi menerapkan angka nol dalam perhitungan. Penggunaan angka nol di Eropa baru diterima secara luas dan bebas pada tahun 1600-an. Ketika itu, Cartesian Rene Descartes mempresentasikan sistem koordinat dan kalkulus. Hingga sekarang, angka nol begitu berharga bagi dunia.

Baca juga: Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Angka Nol

Related

Insight 1492017502405390365
item