Keluarga dan Pekerjaan, Sumber Stres Orangtua di Dunia

Keluarga dan Pekerjaan, Sumber Stres Orangtua di Dunia

Naviri.Org - Di sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia, ada pembagian peran antara suami dan istri. Suami menjadi pihak yang mencari nafkah atau bekerja di luar rumah, sementara istri menjadi pihak yang aktif di rumah, termasuk mengurus anak-anak. Meski pembagian peran semacam itu masih banyak dilakukan, namun banyak pula suami istri di zaman sekarang yang sama-sama mengambil peran di luar rumah, atau sama-sama bekerja.

Ada banyak alasan dan latar belakang mengapa suami istri zaman sekarang banyak yang sama-sama bekerja. Bisa karena penghasilan suami yang kurang, bisa pula karena si istri memang ingin aktif di luar rumah. Sementara urusan rumah tangga biasanya diserahkan kepada asisten rumah tangga.

Sayangnya, peran istri di luar rumah kadang menjadi sumber stres atau penyumbang stres terbesar. Karena, bagaimana pun, peran seorang istri atau ibu tidak hanya aktif di luar rumah saat bekerja, namun juga diharapkan sama aktif di rumah, khususnya bagi anak-anaknya. Kondisi semacam itulah yang menjadikan banyak wanita stres setelah berumah tangga.

Dalam survei yang dilakukan Pew Research Center tahun 2015, terdapat temuan bahwa 60% ibu menyatakan sulit untuk menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga, terlebih ketika mereka bekerja penuh waktu.

Lebih lanjut dari survei tersebut juga dinyatakan, dari bapak dan ibu yang merasa sulit menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga, 39 persen mengaku menjadi orangtua itu melelahkan dan 32 persen merasakan tanggung jawab tersebut memberikan tekanan dalam hidup mereka.

Lebih banyaknya ibu yang mengaku kesulitan mengimbangi kehidupan karier dan keluarga dapat disebabkan oleh tuntutan dalam masyarakat untuk menerapkan peran gender tradisional. Sampai kini, perempuan masih diharapkan mengambil porsi lebih besar untuk urusan domestik sekalipun ia berkesempatan menjajal ranah profesional. Ketika ada hal-hal di rumah yang terbengkalai, perempuan sering kali menjadi pihak yang pertama kali disalahkan atas kesalahan tersebut.

Orangtua semakin mungkin mengalami tekanan atau depresi ketika ia menjadi pejuang tunggal dalam mengurus anak-anaknya. Dikutip dari data Child Trends, tahun 2013, 11% orangtua tunggal menunjukkan gejala-gejala depresi. Persentase ini lebih besar 6 poin dibanding orangtua lengkap.

Di samping beban ganda orangtua, mereka yang dikaruniai anak dengan kebutuhan khusus juga rentan terkena depresi. Sejumlah penelitian menemukan, orangtua atau pengasuh yang menangani anak-anak seperti itu mengalami gejala gangguan kesehatan mental.

Dalam studi di Oman yang dimuat di jurnal Neuropsychiatric Disease and Treatment tahun 2016 dikatakan, 46% orang yang mengasuh anak dengan autism spectrum disorder (ASD) tercatat mengalami depresi. Hal ini ditandai dengan adanya pengabaian diri, kehilangan semangat, murung, pemikiran bahwa hidup tidak berarti, atau sulit merasa senang dan puas. Orang yang mengasuh anak dengan ASD juga dilaporkan mengalami kecemasan lebih tinggi.

Selain status orangtua tunggal dan orangtua anak dengan kebutuhan khusus, masalah finansial dan konflik dengan pasangan juga memberi sumbangsih terhadap stres orangtua.

Baca juga: Stres pada Orangtua Berdampak pada Anak-anaknya

Related

Psychology 7678589885883085155
item