Mengapa Ada Pihak yang Mengincar Data Kita di Facebook?

Mengapa Ada Pihak yang Mengincar Data Kita di Facebook?

Naviri.Org - Kasus kebocoran data pengguna di Facebook masih panas dibicarakan, karena besarnya jumlah data yang mengalami kebocoran. Selain itu, pengguna yang datanya mengalami kebocoran di Facebook juga bukan hanya dari satu negara, tapi dari berbagai negara. Akibatnya, kini Facebook—yang diwakili Mark Zuckerberg, selalu CEO—harus montang-manting memberikan penjelasan pada para pihak yang meminta pertanggungjawabannya.

Sebagian kita mungkin bertanya-tanya, mengapa ada pihak-pihak tertentu yang mengincar data-data kita di Facebook, hingga menggunakan berbagai cara?

Sejak skandal pelanggaran privasi oleh Facebook terkuak, terhitung jutaan data pribadi pengguna Facebook yang bobol. Salah satu penyumbang besarnya adalah aplikasi myPersonality yang dikelola oleh akademisi University of Cambridge. Mereka gagal memberikan perlindungan data pengguna selama empat tahun eksistensinya.

Data-data sensitif yang memuat informasi detail tentang pengguna Facebook, seperti hasil tes psikologi yang seharusnya menjadi rahasia, akhirnya bocor karena tak ditangani secara serius. Hasil tes dari aplikasi myPersonality hanya disimpan di sebuah laman dengan perlindungan yang lemah. Hal ini berujung pada pencurian data, karena laman ini mudah untuk diretas.

“Data seperti ini sangat berpengaruh dan luas sekali potensinya untuk disalahgunakan,” kata Chris Sumner, direktur riset di Online Privacy Foundation.

Aplikasi ini pertama kali dibuat pada tahun 2007. Mereka menyediakan layanan semacam serangkaian tes psikometri secara daring, dan pengguna dapat melihat hasilnya secara instan. Lebih dari enam juta orang sudah mengikuti tes ini, dan hampir setengah dari mereka menyetujui membagi data dari laman Facebook-nya kepada para akademisi ini.

Data kemudian dibagikan ke dalam sebuah laman agar dapat diakses oleh para peneliti lain. Untuk mendapatkan akses penuh pada bank data di laman ini, cukup dengan cara mendaftarkan diri sebagai kolaborator. Hasilnya, lebih dari 280 orang dan 150 institusi yang sudah tergabung dan memanfaatkan data di dalamnya, termasuk peneliti dari berbagai universitas dan perusahaan seperti Facebook, Google, Microsoft, dan Yahoo.

David Stillwell dan Michal Kosinski, dari Pusat Psikometri University of Cambridge, adalah yang bertanggung jawab menangani data-data ini. Adapun Alexander Kogan, yang sekarang dituduh sebagai dalang Cambridge Analytica, terdaftar sebagai kolaborator sampai musim panas tahun 2014.

Laman University of Cambridge menyebutkan, database myPersonality merupakan salah satu data riset sosial terbesar. Hasil dari kebocoran informasi dari laman dengan data terbesar ini menyebabkan 22 juta unggahan status dari 150 ribu akun bisa dilihat. Selain itu data-data personal seperti umur, gender, dan status hubungan dari 4,3 juta orang pun terbuka.

“Anda dapat mengidentifikasi seseorang dalam dunia maya dari unggahan statusnya, gender, dan tanggal,” kata Pam Dixon dari World Privacy Forum.

Terkait proses investigasi per tanggal 7 April 2018, Facebook menangguhkan myPersonality dari platformnya. Sejauh ini, database mereka sudah mendulang kesuksesan besar dengan menerbitkan 45 jurnal ilmiah, tapi sekarang laman mereka sudah tak dapat lagi diakses, begitu pun orang-orang di belakangnya yang tak dapat dihubungi.

Baca juga: Belajar dari Skandal Bocornya Data di Facebook

Related

Internet 3926312498670113778

Recent

Hot In The Week

100 Artis Tercantik Indonesia Saat Ini

Naviri.Org - Ada banyak sekali artis wanita di Indonesia, khususnya artis musik, juga artis film dan sinetron. Selama bertahun-tahun, du...

item