Kisah Miliuner yang Menyamar Sebagai Pengemis Jalanan

Kisah Miliuner yang Menyamar Sebagai Pengemis Jalanan

Naviri Magazine - Ada yang khas di sebuah perempatan jalanan di Manhattan, New York. Ketika lampu merah menyala, dan semua kendaraan berhenti, muncul seorang pria tua yang tampak kumuh dan berjalan pincang, mendorong sebuah kereta berisi tumpukan koran. Pria tua itu menghampiri mobil-mobil yang berhenti di sana, meminta uang receh. Sebagai gantinya, dia memberikan koran untuk orang-orang yang memberinya recehan.

Mungkin tidak ada yang mengira kalau lelaki tua itu bukan pengemis biasa. Kenyataannya, pria yang tampak lusuh itu seorang miliuner, sekaligus orang terkenal.

Dialah Irwin Corey, seorang komedian, aktor, dan aktivis politik. Setiap hari dalam seminggu, ia menyusuri 35th East Street di Manhattan. Ia menyusuri sepanjang jalan itu untuk meminta recehan dari orang-orang di sekitar situ.

Padahal, Corey yang sudah lama berkecimpung di dunia teater, televisi, dan beberapa klub komedi, serta berkarir sangat bagus di Broadway, tentu tidak membutuhkan uang receh. Bahkan ia sama sekali bukan tunawisma. Ia memiliki apartemen mewah dan punya banyak uang.

Irwin Corey terlahir sebagai anak yang harus menghadapi kemiskinan. Ia lahir dari keluarga miskin di lingkungan Brooklyn, New York. Ia lahir pada 29 Juli 1914. Karena kemiskinan, orang tua Corey menempatkan ia beserta kelima kakak beradiknya ke sebuah panti asuhan di New York. Di sanalah Corey tinggal, hingga usianya mencapai 13 tahun.

Setelah itu, Corey merantau ke California. Singkat cerita, ia berhasil menapaki karir di dunia hiburan. Belakangan, dia disebut “one of the most brilliant comedians of all time", komedian paling brilian sepanjang masa.

Ciri khasnya begitu dikenang dan melekat di hati para penggemarnya. Dengan gaya bicara bernada tinggi, double talk dan sangat panjang, orang seakan langsung mengenalinya dalam sekali dengar. Bahkan, para fans sudah hafal gaya bicaranya, yang selalu dimulai dengan kata “However…”

Anaknya mengatakan bahwa gaya Corey unik, dan memiliki kedalaman luar biasa ketika mengungkapkan kalimat-kalimat yang sarat makna, “No one in fact is any more important than another. He (Corey) is constantly digressing from his own tangent, so he’s digressing from a digression.”

Pada 1974, Irwin Corey menerima penghargaan the National Book Award for Gravity's Rainbow. Dalam pidato sambutannya yang bagai pertunjukan stand up comedy, ia tampil luar biasa menawan, unik, dan lucu. Berikut ini beberapa hal penting yang diucapkannya:

“However... accept this financial stipulation - ah - stipend in behalf of, uh, Richard Python for the great contribution and to quote from some of the missiles which he has contributed...

“Today we must all be aware that protocol takes precedence over procedure. Howewer you say - WHAT THE - what does this mean... in relation to the tabulation whereby we must once again realize that the great fiction story is now being rehearsed before our very eyes, in the Nixon administration... indicating that only an American writer can receive...the award for fction, unlike Solzinitski whose fiction doesn't hold water.

“Comrades - friends, we are gathered here not only to accept in behalf of one recluse - one who has found that the world in itself which seems to be a time not of the toad - to quote even Studs TurKAL. And many people ask "Who are Studs TurKAL?" It's not "Who are Studs TurKAL?" it's "Who am Studs TurKAL?"

Penampilannya ketika di jalanan memang berantakan dan kumuh. Tapi apartemen yang dimilikinya berada di salah satu kawasan elit di New York, dan nilai apartemen miliknya diperkirakan mencapai 5 juta USD. Lalu muncul pertanyaan, apa alasan dia menyamar sebagai orang miskin dan menjadi gembel jalanan, serta menjadi peminta-minta?

Atas pertanyaan itu, Irwin Corey menjawab bahwa yang ia lakukan adalah untuk membunuh rasa kesepian, akibat ditinggalkan istri yang mendampinginya selama 70 tahun. Di samping itu, dengan melakukan hal tersebut, ia berkesempatan menolong sesamanya, para gelandangan dan pengemis jalanan.

Corey juga ternyata tidak pernah mengantongi uang yang berhasil ia kumpulkan. Dalam sehari, biasanya ia mendapatkan 250 USD (sekitar 2,8 juta rupiah), dan semuanya ia sumbangkan untuk bantuan medis bagi anak-anak di Kuba.

Ia bahkan pernah mengunjungi Kuba, untuk membawakan bantuan. Ia sempat berfoto dengan tokoh Kuba, Fidel Castro, yang fotonya lalu dipajang Corey di dinding apartemennya yang mewah.

Corey juga sebenarnya belum sepenuhnya berhenti dari dunia hiburan yang sudah digelutinya selama delapan dekade. Ia masih tampil secara reguler, termasuk di sebuah klub lokal di Chicago.

Di dunia hiburan inilah, dia pertama kali mendapat julukan ‘Profesor’. Julukan itu sudah disandangnya sejak 1940-an. Itu dikarenakan penampilannya yang sangat khas, dengan jas berekor, dasi tali, sepatu kets tinggi, dan rambut berdiri tak beraturan, mirip orang-orangan sawah.
Pada saat mengemis, ia selalu bersikap sopan kepada setiap orang yang ditemuinya di jalanan. Bahkan, ia memiliki sapaan yang lucu kepada setiap mereka yang memberinya recehan, “See you later, alligator.”

Ketika diwawancarai koran New York Times, Corey tidak memberikan jawaban rinci dan pasti mengenai jumlah kekayaannya. Tapi menurut agen yang menanganinya selama kurun waktu 50 tahun, yaitu Irvin Arthur, kekayaan Corey sangat banyak. Corey sesungguhnya tak butuh uang apa pun dari hasilnya mengemis di jalanan.

“Ini bukan soal uang, tapi jalanan adalah panggung pertunjukannya,” ujar Irvin Arthur.

Baca juga: 10 Orang Terkaya Korea Selatan dan Sumber Kekayaan Mereka

Related

World's Fact 7401500550310994018

Recent

item