Revolusi Kamera Smartphone dan Lompatan di Dunia Fotografi

Revolusi Kamera Smartphone dan Lompatan di Dunia Fotografi

Naviri Magazine - Ketika kamera digital lahir ke dunia, keberadaannya menggusur kamera analog. Orang lebih memilih kamera digital yang mudah dan praktis, daripada kamera analog yang ribet. Namun, ketika kamera ponsel semakin canggih, pelan-pelan kamera digital yang tersingkir. Orang tidak lagi tertarik menggunakan kamera digital, karena kini bisa memiliki kamera hebat lewat ponsel mereka.

Kamera yang tertanam di smartphone, belakangan menjadi reolusi di bidang fotografi. Siapa pun bisa menciptakan foto, dan siapa pun bisa menggeluti dunia fotografi dengan mudah.

Pada 2007, Samsung merilis kamera flip yang mengusung konsep dual kamera. Peluncuran itu mengukir sejarah, karena merupakan ponsel pertama yang menggunakannya.

Di ranah smartphone, konsep dual kamera diperkenalkan oleh HTC EVO 3D dan LG Optimus 3D. Secara umum, konsep dual kamera yang disusung di dekade akhir 2000an lebih menyasar penciptaan konten 3D. Sayangnya, motif penciptaan konten 3D tersebut gagal.

Di ajang Mobile World Congress 2016, LG G5 dan Huawei P9 menciptakan sejarah baru. Mereka mengusung konsep dual kamera, tapi bukan untuk menciptakan konten 3D, melainkan untuk meningkatkan kualitas foto. Umumnya, konsep dual kamera hari ini menyertakan kamera biasa dan monokrom, yang berguna menciptakan foto dengan detail tinggi. Tidak disangka, hal itu jadi tren saat ini.

Publik memang menginginkan kualitas foto semakin bagus. Alih-alih menciptakan konten multimedia yang tidak perlu semisal foto 3D.

Huawei, dalam riset yang dilakukan bersama Lighspeed Research di 10 negara Eropa, menyatakan bahwa 77 persen publik menginginkan foto yang berkualitas tanpa kerepotan berarti. Lalu, 81 persen responden menginginkan kamera smartphone yang menghasilkan kualitas baik di saat cahaya kurang.

Keinginan menghasilkan foto berkualitas, semisal dengan konsep dual kamera, bisa dibaca pada data yang dirilis Statista. Pada tahun 2016 lalu, hanya 3 persen total smartphone yang dirilis mengusung konsep dual kamera. Pada 2018, angkanya diprediksi akan mencapai 21 persen. Lalu, di tahun 2020, diperkirakan menjadi 53 persen.

Kamera smartphone berkualitas tak hanya sekadar konsep dual kamera. Google, melalui lini Pixel terbaru mereka, bahkan menambahkan chip khusus, dengan 8 inti pemrosesan, untuk memproses foto. Yaitu Google Visual Core, yang di dalamnya tertanam teknologi HDR+ dan RISR (Rapid and Accurate Image Super-Resolution).

HDR+ akan memproses foto agar menghasilkan rentang cahaya yang banyak, sementara RISPR digunakan untuk memperbaiki digial zoom, yang jadi celah paling buruk dunia kamera ponsel.

“Visual Core memberi kita kemampuan untuk memproses foto, lima kali lebih cepat dibandingkan apapun,” kata Ofer Shacham, manager teknis Visual Core pada Wired.

Selain itu semua, teknologi kamera di smartphone di tahun-tahun mendatang nampaknya akan semakin berkilau. Mengutip pemberitaan The New York Times, beberapa alasannya ialah perkembangan teknologi bernama facial recogniton dan augmented reality.

Facial recognition dipelopori oleh Apple yang mengusung iPhone X yang tertanam fitur membuka kunci via wajah. Ini tentu saja mememerlukan kekuatan kamera depan yang mumpuni. Lalu, untuk urusan augmented reality, bisa dilihat misalnya melalui perlombaan perusahaan raksasa besar. Microsoft yang melncurkan HoloLens, Facebook dengan Camera Effect Platform, dan Google yang menghadirkan ARCore.

“Tahun 2018 akan jadi tahun di mana kamera smartphone melakukan lompatan kuantum di bidang teknologi,” sebut Philip-James Jacobowitz, Product Manager Qualcomm.

Baca juga: 10 Smartphone dengan Kamera Terbaik Saat Ini

Related

Smartphone 7844001250364380316
item