Makin Canggih dan Pintar, Robot Seks Makin Kontroversial

Makin Canggih dan Pintar, Robot Seks Makin Kontroversial

Naviri Magazine - Ketika manusia mulai mampu menciptakan robot yang digabung dengan kecerdasan buatan, salah satu robot yang langsung terpikir untuk diciptakan adalah robot seks. Penciptaan robot seks tentu didasari pemikiran sederhana, bahwa keberadaan robot seks akan memungkinkan siapa pun untuk melakukan hubungan seksual tanpa harus memiliki pasangan.

Ketika robot seks mulai muncul di dunia, segera banyak peminat yang ingin memilikinya, meski harganya sangat mahal. Kenyataannya, penampilan robot seks yang canggih bisa dibilang tidak berbeda dengan wujud wanita yang asli. Sama-sama cantik, sama-sama bisa berkomunikasi, dan sama-sama bisa melakukan aktivitas seks.

Belakangan, robot seks tidak hanya dimiliki orang-orang yang masih lajang. Mereka yang sudah berkeluarga juga menikmati hubungan intim dengan robot seks.

Agar tak jadi pertanyaan oleh anak-anak mereka di rumah, robot seks kini memiliki mode 'ramah keluarga' yang lebih bersahabat, dengan kemampuan bercakap yang pantas kepada anak-anak, selain melontarkan kata-kata rayuan mesum.

Robot seks sekarang bisa menghibur anak-anak, dengan 1001 lelucon yang diajarkan lewat machine learning. Kecerdasan buatan itu juga memungkinkan humanoid berbicara tentang filsafat dan ilmu pengetahuan lain.

Apakah kemampuan baru itu dapat membantu anak-anak untuk berpikir hal baik tentang robot seks?

Sayangnya, gagasan tersebut masih belum sejalan dengan isu etika yang ada dalam kecerdasan buatan. Bukan hanya karena objektivitas perempuan jadi masalah, namun juga bahaya terkait mindset si anak yang menjadikan robot seks sebagai panutan.

"Mereka akan berpikir bahwa perempuan memiliki fungsi tertentu. Kemudian mereka akan menjadikan stereotip itu untuk berinteraksi secara intim dengan orang lain. Ini benar-benar berbahaya," kata Doktor Kathleen Richardson dari De Montfort University, dilansir Metro.

Robot seks bisa mengubah sistem kemanusiaan

Selain Richardson, Noel Sharkey dari Foundation for Responsible Robotics (FRR), telah memperingatkan bahwa eksistensi robot seks akan mengubah sistem kemanusiaan.

Sebelumnya, seorang filsuf robotika, Marc Behrendt, pernah menggagas penggunaan robot seks anak-anak sebagai pengobatan pedofil, untuk disertasi PhD di Université libre de Bruxelles (ULB) di Brussels, Belgia. Hal ini jelas menimbulkan kontroversi.

Bagi Sharkey, keberadaan robot seks dalam bentuk anak-anak hanya akan mendorong seseorang untuk menjadi pedofilia, dan bukan mengurangi jumlah pelecehan seksual. Robot seks hanya akan memperparah keadaan tersebut.

"Kita semua menciptakan mesin semacam ini karena kita bisa, tanpa benar-benar berpikir kalau ini akan mengubah sistem kemanusiaan sepenuhnya," jelas Sharkey, dalam film dokumenter 'Sex Robot and Us'.

Keberadaan robot dengan fungsi sebagai pemuas seksual hanya akan membuat semua orang berpikir kalau kebutuhan intim akan selalu bisa terpenuhi kapan pun mereka menginginkannya.

Sampai saat ini, berdasarkan studi sains oleh Havas Paris, 27 persen orang di usia 18 hingga 34 tahun menginginkan untuk memiliki hubungan dengan robot. Sedangkan studi Juni 2018 lalu, para peneliti melihat adanya kemungkinan meningkatnya minat 'digisexual' alias hubungan seksual yang dilakukan dengan robot atau mesin.

"Tidak diragukan lagi robot seks telah bangkit. Orang-orang akan membangun hubungan yang intens dengan teman robot mereka," kata Dr Neil McArthur dari University of Manitoba.

Dengan berkembangnya teknlologi ini, McArthur memperkirakan kepemilikan atas robot seks akan terus meningkat, dan semua orang bakal mengidentifikasi dirinya dengan 'digisexuals'.

"Banyak orang akan menjadikan pengalamannya dengan teknologi sebagai hal yang tidak bisa terpisahkan, dan hanya beberapa dari mereka yang masih lebih menyukai hubungan seksual langsung dengan manusia asli," jelas McArthur.

Baca juga: Bayangan Mengerikan di Balik Robot yang Sangat Mirip Manusia

Related

Technology 7372604056089033929

Recent

item