Benarkah Generasi Milenial Indonesia Tak Mampu Beli Rumah?

Benarkah Generasi Milenial Indonesia Tak Mampu Beli Rumah?

Naviri Magazine - Generasi milenial, yang saat ini menjadi mayoritas di Indonesia, disebut-sebut sebagai generasi yang lekat dengan gaya hidup boros. Akibatnya, mereka juga menjadi generasi yang paling kesulitan memiliki rumah. Di satu sisi, harga rumah atau properti terus meningkat setiap tahun. Di sisi lain, gaya hidup milenial yang boros membuat mereka makin kesulitan menabung dan mengumpulkan uang.

Lalu, apakah memang generasi milenial Indonesia tidak mampu beli rumah?

Anggapan milenial tidak mampu memiliki rumah karena harga tanah dan properti yang terus melejit, tidak sepenuhnya benar. Nyatanya 68,6 persen keluarga milenial di Kota Tangerang Selatan, Banten, menempati rumah yang berstatus milik sendiri.

Konon, dengan gaya hidup yang dicap konsumtif, tidak sedikit yang memperkirakan milenial tidak bisa memiliki hunian sendiri. Faktanya, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2017 milik Badan Pusat Statistik, tercatat bahwa secara nasional bahwa 59,2 persen keluarga milenial memiliki rumah.

Survei tersebut melibatkan 17,8 juta responden dan mencatat sebanyak 21,6 persen keluarga milenial menempati rumah sewa dan kontrak, serta 19,2 persen tinggal di rumah yang bebas sewa, seperti rumah dinas, dan lainnya. Dalam survei tersebut, yang dimaksud dengan keluarga milenial adalah kepala rumah tangga yang lahir pada rentang tahun 1980-2000.

Meski rerata angka kepemilikan rumah keluarga milenial secara nasional di atas 50 persen, tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga milenial yang tinggal di kota besar, seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya lebih banyak yang tinggal di rumah sewaan.

Di Surabaya misalnya, hanya 26 persen keluarga milenial yang memiliki rumah, sedangkan di Jakarta, khususnya di Jakarta Pusat, angka kepemilikan rumah keluarga milenial lebih kecil lagi, yakni 13 persen.

Fakta tersebut menjadi tidak mengherankan seiring dengan harga tanah dan properti yang semakin meroket setiap tahun. Sebagai contoh, selama kurun waktu 10 tahun, harga properti di Surabaya telah mengalami kenaikan harga hingga 97,2 persen dan untuk di wilayah Jabodetabek dan Banten mencapai 66,3 persen.

Namun demikian, masyarakat harus menerima bahwa kenaikan harga tanah dan properti adalah dua hal yang tidak bisa dihindari sebagai imbas dari inflasi, pembangunan infrastruktur, dan kelas menengah yang makin berkembang.

Sebagai alternatif, keluarga milenial bisa membidik properti daerah satelit kota tertentu atau justru daerah-daerah baru yang tengah digarap. Untuk kota Jakarta misalnya, kota satelit, seperti Depok, Bogor, dan Tangerang bisa menjadi opsi wilayah hunian generasi milenial.

Sebagai gambaran, di kota-kota penunjang tersebut, angka kepemilikan rumah cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota besar utama. Di kota Bogor misalnya, 41,4 persen keluarga milenial menempati rumah sendiri dan jumlah kepemilikan rumah di kota Tangerang Selatan lebih tinggi lagi, mencapai 68,6 persen.

Selain mencari lokasi alternatif, yang kemudian harus diperhatikan saat akan membeli rumah adalah mencari fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR) yang aman dan tidak memberatkan. Banyak bank berlomba-lomba menawarkan fasilitas KPR, tetapi satu yang perlu Anda perhatikan adalah kemudahaan saat mengajukan kredit dan bunga ringan.

Baca juga: Berapa Gaji yang Harus Dimiliki untuk Beli Rumah Rp300 Juta?

Related

Lifestyle 5135781748245068829

Recent

item