Anak-anak Muda Amerika Kini Mulai Meninggalkan Facebook

Anak-anak Muda Amerika Kini Mulai Meninggalkan Facebook

Naviri Magazine - Facebook, tak bisa dipungkiri lagi, saat ini merupakan media sosial terbesar di dunia, dengan pengguna terbesar. Pengguna Facebook pun merentang dari anak-anak dan remaja sampai dewasa dan orang tua. Namun, kini, ada gejala sebagian pengguna Facebook yang mulai meninggalkan media soisal tesebut.

Beberapa waktu lalu, misalnya, muncul tagar #deletefacebook, yang merupakan buntut terbongkarnya skandal Cambridge Analytica yang memanfaatkan informasi pribadi para pengguna Facebook. Sejak itu, ada banyak orang yang ramai-ramai menghapus akun mereka di Facebook.

Techpinions, firma riset digital, sebagaimana diwartakan Business Insider, melakukan survei pada 1.000 warga Amerika Serikat. Hasilnya menyatakan bahwa gerakan #DeleteFacebook sukses membuat 1 dari 10 warga Amerika menghapus akun Facebook mereka.

Di luar gerakan #DeleteFacebook, media sosial yang dibentuk Mark Zuckerberg itu sedang mengalami tren penurunan pengguna, khususnya dari kalangan usia di bawah 25 tahun.

Dari semua rentang usia pengguna Facebook di Amerika Serikat, Facebook akan kehilangan pengguna berusia 0-11 tahun, sebanyak 9,3 persen. Facebook akan kehilangan 5,6 persen pengguna pada usia 12-17 tahun penggunanya, dan 5,8 persen pengguna usia 18-24 tahun pada tahun ini.

Jika ditotal, eMarketer menyatakan bahwa tahun ini Facebook akan kehilangan 2 juta pengguna di kalangan usia 0-24 tahun asal Amerika Serikat.

Secara menyeluruh, Facebook sebenarnya mengalami pertumbuhan pengguna. Sebagaimana dimuat Statista, pada kuartal-1 2018 Facebook memiliki 2,19 miliar pengguna aktif di seluruh dunia. Angka tersebut meningkat dari 1,93 miliar pengguna aktif di kuartal sama setahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini terbantu oleh pengguna berusia di atas 25 tahun.

Lalu, mengapa anak muda, atau lebih lengkapnya anak muda Amerika Serikat, mulai meninggalkan Facebook? Rupanya, mereka bergeser ke platform milik Facebook lainnya: Instagram.

eMarketer menyebut bahwa Facebook kehilangan 2 juta pengguna di bawah usia 25 tahun. Tetapi, di saat yang sama Instagram memperoleh 1,6 juta pengguna di bawah usia 25 tahun baru. Di Amerika Serikat, platform yang menitikberatkan pada konten visual itu akan memiliki jumlah pengguna secara keseluruhan sebesar 104,7 juta.

Dipilihnya Instagram oleh remaja Amerika Serikat bukan hal baru. Pada 2015 lalu, Statista pernah melaporkan bahwa secara umum Instagram lebih dicintai dibandingkan media sosial lain, termasuk Twitter dan Snapchat. Pada musim semi 2015 misalnya, sebanyak 32 persen remaja Amerika Serikat lebih memilih Instagram, unggul dibandingkan Facebook yang hanya dipilih 14 persen remaja.

Jayson DeMers, founder AudienceBloom, firma pemasaran digital, dalam tulisannya di Forbes, mengatakan bahwa ada beberapa faktor mengapa Instagram disukai, dua di antaranya ialah “mobile functionality” dan “visual nature.”

Mobile functionality diartikan sebagai desain Instagram yang begitu sederhana, mudah digunakan tanpa perlu waktu lama mempelajarinya. Tinggal memotret, desain Instagram lalu mengarahkan penggunanya memposting dengan gampang. Sementara itu, visual nature dinyatakan bahwa manusia secara umum lebih menyukai visual, dibandingkan teks.

“[..] platform tersebut sukses pada demografi pengguna remaja karena mereka selaras dengan bagaimana remaja berkomunikasi, menggunakan konten visual,” kata Oscar Orozco, analis eMarketer.

Karena Instagram semakin disukai, DeMers mengatakan bahwa kini platform itu diisi banyak pengiklan, baik pengguna Instagram yang memanfaatkan jumlah pengikutnya maupun pengiklan kelas kakap. Tercatat, ada 2.500 micro-influencer yang beriklan di platform itu. Sementara itu, mengutip Marketing Land, kini ada lebih dari 1 juta pengiklan aktif di Instagram.

Baca juga: Mengapa Kita Merasa Berat Saat Ingin Meninggalkan Facebook

Related

Lifestyle 6762592996070835397
item