Mengapa Banyak Siswa yang Malu Bertanya Saat di Kelas?

 Mengapa Banyak Siswa yang Malu Bertanya Saat di Kelas?

Naviri Magazine - Di sekolah—SD, SMP, SMA—maupun di perguruan tinggi, kita biasa menghadapi suasana serupa. Siswa atau para mahasiswa duduk di kursi masing-masing, guru atau dosen ada di depan kelas dan memberikan pelajaran atau materi kuliah. Setelah itu, guru atau dosen akan memberi kesempatan pada para siswa yang ingin bertanya.

Biasanya, saat ada kesempatan itu, sangat sedikit yang mengacungkan jari untuk bertanya, bahkan sering tidak ada sama sekali yang bertanya. Apakah para siswa/mahasiswa itu memang sudah paham semua dengan yang diajarkan, sehingga tidak ada yang tertarik bertanya? Belum tentu. Sebagian mereka kadang sengaja tidak bertanya karena malu.

Saat ini, pendekatan pembelajaran yang fokus terhadap pengajar (teacher centered) sudah mulai diubah dengan pengajaran berbasis siswa atau Student Centered Learning (SCL). Keaktifan siswa atau mahasiswa di dalam kelas menjadi kunci agar proses pembelajaran berbasis SCL dapat berjalan.

Seberapa aktif siswa dan mahasiswa di dalam kelas dapat dilihat dari seberapa sering interaksi yang terbangun, baik antara mahasiswa dan dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Dialog setidaknya ditandai aktifnya mahasiswa menjawab pertanyaan yang diberikan pengajar, atau sebaliknya siswa aktif bertanya kepada pengajar.

Mengapa enggan bertanya?

Mengajukan pertanyaan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Seperti dijelaskan Jon Rimer dan Madeline Balaam dalam Class Participation and Shyness: Affect and Learning To Program (2011), pada perguruan tinggi, dalam proses pembelajarannya, berusaha memberi siswa kesempatan untuk terlibat secara kritis dengan mata pelajaran melalui diskusi.

"Proses tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa lebih dalam, dan dapat membangun sebuah konstruksi dari pengetahuan yang mereka dapat," tulisnya.

Namun, penelitian Rimer dan Balaam menunjukkan bahwa banyak siswa yang menghindari keterlibatan dirinya untuk berinteraksi secara pribadi ke dalam proses pembelajaran. Penelitian tersebut mengungkapkan kurang dari 30 persen siswa yang ikut berinteraksi lebih dari 80 persen dari total kegiatan pada kelas seminar.

Mereka mengungkapkan bahwa siswa yang pendiam memiliki empat alasan utama untuk tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Alasan tersebut di antaranya: mereka merasa ide-ide yang dimiliki belum dirumuskan dengan benar, siswa merasa tidak cukup memahami materi pelajaran, tidak membaca materi yang ditugaskan, dan siswa merasakan kelasnya terlalu besar.

Bahkan, ada beberapa siswa yang merasa takut dimusuhi apabila dianggap terlalu banyak berkontribusi di dalam kelas.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan rasa malu dan kepercayaan diri saling berkaitan dan berpengaruh terhadap keaktifan seseorang, khususnya ketika sedang berada di dalam kelas untuk belajar. Menurut Rimer dan Balaam, siswa pemalu menghadapi persoalan dalam situasi tertentu, misalnya saat berbicara dengan dosen, atau saat berada dalam diskusi di sebuah acara seminar.

Baca juga: Rahasia Menguasai Banyak Bahasa, dan Manfaatnya

Related

Education 6068519853042940632
item