Cara Kerja Lie Detector, Dipakai untuk Periksa Tersangka Pembunuhan Brigadir J


Belakangan ini masyarakat penasaran seperti apa cara kerja lie detector. Pasalnya, Putri Candrawathi hingga Bharada Eliezer diperiksa menggunakan alat tersebut di kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Bahkan, mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo juga akan diperiksa menggunakan alat tersebut.

"Iya semuanya (akan diperiksa pakai lie detector), terjadwal dua orang per hari. Untuk menguji tingkat kejujuran tersangka dalam memberikan keterangan," tutur Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi, dikutip Rabu (7/9/2022).

Penyidik kerap kali menggunakan lie detector atau alat mendeteksi kebohongan untuk mengungkapkan kebenaran dalam suatu kasus. Alat ini menggunakan mesin poligraf yang mengukur dan mencatat beberapa indikator fisiologis, seperti tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan konduktivitas kulit pada saat tanya jawab berlangsung.

Dikutip dari American Psychological Association, alat ini kerap dipakai oleh banyak negara untuk menginterogasi tersangka kriminal atau kandidat pekerja di sektor publik maupun swasta yang dinilai sensitif. Lantas, seperti apa cara kerjanya? Simak berikut ini.

Cara Kerja Lie Detector

Alat pendeteksi kebohongan umumnya memiliki 3 sensor utama dengan cara kerja sebagai berikut.

Sensor pneumograf: mendeteksi detak napas di dada dan perut yang sensornya dililitkan di dada.

Sensor blood pressure: mendeteksi adanya perubahan tekanan darah dan detak jantung. Sensor kabel ini ditempelkan pada bagian lengan.

Sensor skin resistance: melihat dan mendeteksi keringat yang ada di tangan. Kabel sensor ini umumnya juga ditempelkan pada jari-jari tangan.

Baik selama dan setelah tes, pemeriksa poligraf dapat melihat grafik dan melihat apakah tanda-tanda vital berubah secara signifikan pada salah satu pertanyaan. Secara umum, perubahan yang signifikan menunjukkan orang tersebut berbohong.

Ketika pemeriksa terlatih menggunakan poligraf, ia dapat mendeteksi kebohongan dengan akurasi tinggi.

Namun, karena interpretasi pemeriksa bersifat subjektif dan orang yang diperiksa dapat bereaksi berbeda terhadap kebohongan, tes poligraf tidak sempurna dan dapat dikelabui. Hal ini juga sejalan dengan pendapat psikolog forensik Reza Indragiri. Menurutnya, lie detector tidak efektif untuk memeriksa seseorang dan kredibilitasnya telah banyak dipertanyakan sejak 1921.

"Tidak efektif. Bahkan pseudoscience saja itu. Kapolri tekankan harus saintifik toh," ucap Reza Indragiri, Selasa (6/9/2022).

Reza juga menjelaskan tingkat kesalahan poligraf dibagi dalam dua jenis, yakni false negatif dan positif. False negatif atau orang yang tidak bersalah saat diperiksa, dia gagal atau divonis bohong. Sementara false positif yaitu orang yang bersalah diperiksa, dia berhasil mengelabui atau divonis jujur.

Related

News 3634370707808843175

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item