Bisnis Undangan Digital, Bisa Menghasilkan Rp15 Juta per Bulan

Bisnis Undangan Digital, Bisa Menghasilkan Rp15 Juta per Bulan

Naviri Magazine - Di mana-mana ada orang menikah, dan nyatanya dari waktu ke waktu selalu ada pernikahan. Karenanya, salah satu bisnis yang terus memiliki konsumen adalah bisnis terkait pernikahan. Ada yang masuk dalam bidang penyewaan perlengkapan pernikahan, ada yang menangani bisnis kuliner untuk resepsi, sampai bisnis undangan pernikahan.

Terkait undangan pernikahan, di masa lalu rata-rata berbentuk cetak, yang terbuat dari kertas atau karton. Kini, seiring makin canggihnya teknologi, undangan pernikahan mulai bergeser menjadi undangan digital. Ternyata, undangan digital juga mulai menjadi salah satu bisnis menjanjikan terkait pernikahan.

Di media sosial seperti Instagram, banyak ditemukan jasa pembuatan undangan pernikahan secara online. Akun-akun yang menjajakan jasa ini menampilkan berbagai hasil desain grafis mereka, dengan membubuhkan nama kedua calon mempelai dengan hiasan yang manis dan warna-warna pastel.

Salah satu pembuat undangan pernikahan dalam bentuk digital di Instagram adalah Najudin. Nama akunnya @undanganonlineku, dari Mojokerto. Najudin bercerita, mulanya dia memulai bisnis ini lantaran kerap membantu ayahnya yang punya usaha percetakan undangan.

Kala itu, dia berpikir bisnis ayahnya harus dikembangkan jadi sesuatu yang lebih jauh lagi, yaitu dengan membuat undangan pernikahan secara digital yang bisa langsung disebarkan si calon mempelai kepada para undangan. Peluang ini dia dapat karena masyarakat Indonesia sangat menggandrungi Instagram. Pemasaran akan mudah dilakukan lewat aplikasi ini.

“Lagi pula kalau undangan kertas itu kan makan biaya yang banyak, dan penyebaran waktunya yang lama. Akhirnya terpikir untuk buat undangan digital ini dalam bentuk gambar dan video,” kata Najudin.

Najudin memulai bisnis dengan bermodal ilmu desain grafis yang dia dapat selama membantu ayahnya bekerja, usai pulang sekolah atau kuliah. Jadi, kemampuan semacam corel draw, editing video, motion graphic, dan lainnya, sudah dikuasai sejak SMP.

Dia pun mantap memulai bisnis per Januari 2017 lalu. Seminggu dibuka, tidak ada konsumen yang pesan. Hasil desain undangan pernikahan dia pajang di Instagram. Setelah itu, ada satu konsumen yang pesan. Selama satu bulan pertama, diakuinya konsumennya hanya satu.

“Tapi setelah itu ada testimoni yang memuaskan, sehingga mereka rekomendasikan ke teman-temannya. Baru di bulan kedua ada kenaikan orderan drastis, antara 4-8 per hari, dan untuk sekarang jumlah orderan saya mencapai 7-20 per hari,” lanjutnya.

Najudin baru berusia 18 tahun saat memulai bisnisnya. Sebagai pelajar yang mau naik tingkat ke universitas, dia tidak mengambil semua pesanan. Apalagi, jika ada yang tanggal pernikahannya berdekatan, dia tolak.

“Sumber daya manusia saya masih belum mencukupi, karena saya juga masih kuliah sekarang,” jelasnya. 

Jenis undangan pernikahan yang ditawarkan Najudin berbentuk gambar dan video. Untuk per gambar, dihargai Rp 40 ribu dan video Rp 70 ribu. Tapi, jika konsumen meminta desain sendiri dan tambahan seperti ada denah rumah, cerita bagaimana kedua calon pengantin bertemu, biayanya akan bertambah.

Harga paling mahal adalah Rp 160 ribu. Dalam satu bulan, ia bisa mengantongi pendapatan bersih antara Rp 7 juta hingga Rp 15 juta per bulan.

Kebanyakan para konsumennya, diakui Najudin, memesan undangan dalam bentuk video. Video dan gambar undangan digital ini dikerjakan oleh dirinya dan 2 karyawan freelance.

Per 7 November 2018, Najudin berusia 19 tahun. Ia saat ini duduk sebagai mahasiswa semester 3 di Akademi Komunitas Negeri Lamongan. Dia mengaku makin sibuk karena banyak orderan yang datang. Karena itu, kata dia, hasil yang bisa dijanjikan ke konsumen selesai sekitar 1-2 minggu, tergantung pesanan.

“Sebenarnya, pengerjaan 1 hari juga selesai. Cuma, karena banyak, jadi kita buat sistem jadwal. Biasanya 1-2 minggu. Karena biasanya saya kerjakan kalau sudah pulang kampus, lembur sampai jam 12 malam,” jelasnya.

Najudi mengaku, bisnis barunya ini terpisah dari bisnis percetakan undangan fisik milik ayahnya. Meski ayahnya masih setia dengan undangan fisik, dia melihat prospek bisnis undangan pernikahan secara online sangat bagus ke depannya.

“Saya rasa ini sangat menjanjikan di era industri 4.0. Prediksi saya nanti undangan digital benar-benar bisa menggantikan undangan cetak. Apalagi setiap hari ada orang yang menikah, kan,” jelasnya.

Baca juga: Manfaat dan Keuntungan Menjual Barang-barang Bekas

Related

Internet 6047512293801504904

Recent

item