Waspadai Catfishing, Penipu Bertopeng Gebetan di Dunia Maya

Waspadai Catfishing, Penipu Bertopeng Gebetan di Dunia Maya

Naviri Magazine - Di dunia maya, khususnya di media sosial, orang bisa menyamar seperti yang diinginkannya, yang kadang jauh berbeda dengan identitas aslinya. Ada pria yang menyamar sebagai wanita, atau sebaliknya. Dalam penyamaran itu, mereka bisa saja mendekati seseorang yang tidak tahu siapa mereka, hingga akhirnya menjalin hubungan atau kepercayaan.

Bisa jadi, kita ketemu seseorang (lawan jenis) di dunia maya, saling berkomunikasi, dan merasa tertarik. Kita pun menganggapnya sebagai gebetan, dan mungkin berharap bisa menjalin hubungan dekat lebih lanjut. Belakangan terungkap kalau orang yang kita kenal di dunia maya itu tidak sesuai dengan aslinya, dan kita pun kecewa.

Sebagian kasus semacam itu kadang memang tidak merugikan, namun juga tidak sedikit yang berbuah kerugian. Terlepas ada yang dirugikan atau tidak, aksi penyamaran semacam itu disebut Catfishing.

Di Australia, Januari lalu, ada 348 orang yang melapor ditipu Catfish. Sepanjang 2016, total laporan yang masuk sampai 4.109. Tak cuma ditipu tentang identitas palsu sang gebetan, data yang dikutip dari Scamwatch melaporkan, orang-orang itu juga merugi material yang jumlahnya tak sedikit.

Dari 348 laporan di Januari, total kerugian para korban mencapai 1.801.135 dolar Australia. Sementara kerugian materi korban-korban di sepanjang 2016 mencapai 25.480.351 dolar Australia.

Catfishing atau Catfished adalah istilah yang digunakan milenial untuk menggambarkan penipuan identitas diri oleh gebetan yang sebelumnya tak pernah dikenal apalagi bertemu. Biasanya hal ini terjadi di dunia maya, lewat media sosial.

Definisi ini tak terlalu berbeda dengan yang ditulis Urban Dictionary, tapi di sana Catfished digambarkan hanya terjadi di Facebook. Padahal di era digital ini, penipuan semacam ini bisa dilakukan lewat celah manapun di internet.

Orang yang melakukannya, disebut Catfish.

Istilah Catfish mulai dipakai warga dunia maya, setelah serial dokumenter Catfish milik MTV populer sejak 2012. Acara yang dipandu Nev Schulman dan Max Joseph ini mengupas kebenaran dan kebohongan di balik kencan daring, yang makin populer dalam dekade terakhir.

Alasan untuk jadi Catfish bisa beraneka macam. Mulai dari tak percaya diri, hingga ingin menipu dan mengeruk harta orang lain.

Di Inggris, 2011 lalu, Universitas Leicester dan Westminster bekerja sama dengan Serious Organised Crime Agency (SOCA) merilis temuan kalau 2 persen dari responden mereka kenal dengan orang-orang yang ditipu Catfish hingga kehilangan uangnya. Dari angka itu, mereka memprediksi jumlah korban di Inggris bisa mencapai 200 ribu orang pada tahun tersebut.

Sebelum melancarkan tipu muslihat, para Catfish biasanya akan “cek ombak” dulu dengan meminta hadiah. Tujuannya mengetes sejauh mana si korban menganggap serius hubungan palsu tersebut. Selanjutnya, sang penipu bisa pura-pura kehilangan ponselnya, dan minta dibelikan yang baru. Berikutnya, permintaan ditransfer akan lebih sering.

Dari data yang dikutip The Guardian dari Otoritas Kasus Penipuan Nasional Inggris, kerugian dari penipuan ini mencapai 8 juta poundsterling hanya dalam 15 bulan. SOCA juga membuat kisaran total kerugian materi yang diderita respondennya, yakni mulai 50 hingga 240 ribu poundsterling.

Menurut Monica Whitty, psikolog dari Universitas Leicester, kebanyakan korban yang ditemuinya sama sekali tak tahu kalau mereka sedang ditipu, sampai uangnya diporoti. Bahkan masih banyak yang tak sadar kalau tak disadarkan teman terdekat atau orang-orang sekitarnya.

“Banyak sekali orang yang kesulitan menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi, bahkan ketika mereka tahu orang yang menipu ada di penjara,” kata Whitty pada The Guardian.

Para Catfish yang ditemukan SOCA tak jarang memang para penipu yang berniat jahat, biasanya orang-orang Nigeria dan Ghana. Mereka tak jarang merupakan pria yang menyamar jadi wanita.

“Kami punya sejumlah korban pria yang masih menyebut si penipu dengan kata ganti perempuan (she), bahkan ketika mereka sudah tahu kalau penipunya laki-laki,” kata Whitty. “Dalam beberapa kasus, para korban menganggap hubungannya sangat menenangkan (terapeutik) untuk dilanjutkan, bahkan ketika mereka sudah tahu kalau mereka ditipu.”

Dari data Scamwatch, korban Catfish memang bisa siapa saja. Sepanjang 2016 lalu, jumlah korban perempuan yang melapor sampai 45,1 persen. Cuma beda sedikit dari korban laki-laki yang sebesar 43,4 persen, sementara korban gender lainnya mencapai 11,5 persen. Tapi memang semua kasus Catfish tak berakhir dengan kerugian materi.

Kasus ini bisa jadi pelajaran untuk mereka yang suka mencari jodoh lewat media sosial. Data dari Scamwatch, Catfish paling sering berawal dari internet dan jejaring sosial di internet. Pada 2012 saja, ada 83 juta akun palsu di Facebook, sementara 1 di antara 10 akun di Twitter adalah palsu.

Data ini harusnya cukup untuk jadi alasan mawas diri dalam berkencan lewat online.

Baca juga: 7 Hal yang Dirasakan Cewek Ketika Naksir Cowok di Medsos

Related

Relationship 4668058621198159917

Recent

item